Wednesday, August 15, 2018
Home > Literasi > Opini/esai > Berhentilah Nyinyir, Perempuan

Berhentilah Nyinyir, Perempuan

pasukan perempuan-perempuan nyinyir yang langsung kepo.

Begitu ada teman yang baru lahiran, datanglah pasukan perempuan-perempuan nyinyir yang langsung kepo. Alhasil berjejer pertanyaan di media sosial, “lahirannya normal atau sesar”, penting banget ya lahiran normal atau melalui operasi. Penting banget ya membanding-banding hal tersebut. Halo, jika kamu terlalu sibuk dengan urusan orang lain, itu tandanya kamu tidak bahagia dengan kehidupanmu sendiri. Sebaiknya kamu mencari kebahagianmu sendiri dech, daripada mengusik kebahagiaan orang lain. Karena kamu tahu, perempuan mau melahirkan normal atau sesar dia tetaplah seorang ibu. Dan mungkin dia sudah menunggu momen itu sudah sangat lama, tapi pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting itu merusak sedikit kebahagiaannya. Dan tentu saja sahabat puan harus terus mengasah empati, agar banyak perempuan lain yang tidak seberuntung itu tidak sedih dengan kenyinyiran-kenyinyiran yang juga tidak penting. Setelah lahir dan bertanya macam-macam, dan berkomentar macam-macam, kenyinyiran masih terus berlanjut. Ini anaknya ASI atau susu bantu, ih.. kalau susu bantu, anak sapi dong. Atau ada yang menyombongkan diri tapi merusak kebahagiaan orang lain dengan bilang “Alhamdulillah, anak-anak aku ASI semua loh.” Penting nggak sih berujar aneh-aneh tanpa memberi solusi, membantunya. Saya ibu dari tiga anak dan pejuang ASI. Tapi tidak semua perempuan bisa seberuntung sahabat puan dengan keluarga yang mendukung, lingkungan yang mendukung dan tentu saja suami yang mendukung. Saya menyaksikan sendiri seorang tetangga yang isterinya baru melahirkan, tapi suaminya seolah-olah tidak peduli. Dan itu menjadikan semua membuat tidak ada setetes ASI pun yang keluar bagi anaknya, dia depresi belum lagi hadirnya perempuan-perempuan nyinyir yang membuat dirinya semakin bertengkar. Kita tahu kalau konsultan-konsultan ASI tidak lah begitu membumi, bahkan di beberapa rumah sakit dengan sengaja memberikan susu sapi dengan kontrak-kontrak dari beberapa produsen susu ternama. Jika dirimu tidak nyinyir pun sebenarnya sudah membuat ibu-ibu ini merasa bersalah. Merasa tidak sempurna menjadi ibu, merasa tidak berbuat banyak untuk anaknya. Jadi mohon jangan tambah perasaan bersalah mereka. Berbeda loh, orang-orang yang berusaha untuk mendukung dan membantu dengan orang-orang yang hanya nyinyir. Sebaiknya kita masuk pada golongan yang memang ingin membantu dan mendukung sahabat, kenalan, tetangga dan keluarga kita untuk menjadi ibu yang bisa memberikan ASI. Tak perlu nyinyir, tanpa berbuat. Jika sahabat puan tidak bisa berbuat sebaiknya tidak perlu nyinyir, karena terkadang semboyan diam itu emas juga dibutuhkan untuk hal-hal seperti ini.

Setelah anaknya beranjak besar, mulai lagi pasukan nyinyir mengomentari apa saja yang dilakukan orang tua tersebut. Mulai dari pola pengasuhan anaknya, barang-barang yang digunakan untuk anaknya hingga rumah yang selalu berantakan karena disebut tidak telatenlah, malas lah. Belum lagi kalau nanti anaknya diasuh dengan pengasuh atau dititipkan di Tempat Penitipan Anak. Bersyukur untuk sahabat puan yang bisa dengan sendiri mengasuh anak tanpa bantuan siapapun. Bersyukur juga bisa memberikan makanan-makanan sehat hasil dapur sendiri untuk anak-anak tumbuh, dan telaten dengan kebersihan rumah. Bersyukur juga tidak bekerja dan hanya memberikan seluruh perhatian untuk anak-anak. Tapi lantas apakah kita berhak menghakimi perempuan-perempuan lain yang menjalani hidupnya tidak sama dengan kita? Apakah kita berhak merasa paling benar dan paling baik dalam mengasuh anak? Sementara sahabat puan tidak mengetahui bagaimana kehidupan yang dijalaninya, karena anaknya bukan anakmu yang memiliki karakter yang sama. Karena kebutuhannya bukan kebutuhanmu yang memiliki nominal yang sama. Karena tanggung jawabnya bukan tanggung jawabmu yang memiliki beban yang sama. Dan yang pasti kehidupannya, bukan kehidupanmu. Jadi jangan pernah menghakimi apapun tindakan yang dia lakukan sahabat puan. Karena tanpa engkau nyinyir pun, mungkin dia sering merasa lelah dengan rutinitas yang dilakukannya tiap hari. Tanpa engkau hakimi, bisa jadi dia menahan air mata yang akan tumpah karena semua persoalan hidupnya dan perasaan bersalah tidak menjadi ibu yang baik versi kaum-kaum nyinyir.

Jaga lidahmu, karena sahabat puan tidak pernah tahu dengan lidah ini bisa jadi banyak hati yang terluka. Jangan nyinyir kalau temanmu belum menemukan jodohnya, karena tanpa nyinyirpun dia sudah tahu apa yang diinginkannya. Jangan nyinyir, kalau teman belum memiliki momongan, karena kamu tidak tahu berapa banyak doa yang sudah dia panjatkan untuk itu. Jangan nyinyir kalau ada teman yang melahirkan sesar, apalagi bilang tidak menjadi ibu seutuhnya. Aduh…, padahal disesar itu sakitnya luar biasa. Jangan nyinyir kalau ada temanmu yang sedang berjuang memberikan ASI untuk anaknya tapi tak kunjung-kunjung keluar, karena tanpa nyinyir pun dia sudah berjuang sangat keras. Sebaiknya bantu dia, dan kalau bisa sarankan dia ke konsultan ASI, dan baiknya lagi sahabat puan menjadi bagian dari itu. Jangan nyinyir lagi ya, antara ibu pekerja atau ibu rumah tangga. Repot lagi ngurusin anak pembantu dengan anak emak. Karena hidup yang dijalaninya, tidak sama dengan yang sahabat puan jalani. Jadi jalani saja hidup sahabat puan dengan bersyukur dan bahagia, berhentilah nyinyir dan teruslah berbuat baik.

Facebook Comments