Thursday, July 27, 2017
Home > Literasi > Resensi > HIV Dalam Sebuah Novel

HIV Dalam Sebuah Novel

Buku ini mengupas pemahaman tentang HIV dan AIDS

Judul Buku : Jangan Bawa Pulang HIV
Penulis : Ramdani Sirait
Penyunting : Ramdani Sirait
Penerbit : PT Nugraha Hokia Utama
Cetakan : Pertama, November 2015
Tebal Buku : Xiii + 221 halaman
ISBN : 978-602-73533-0-5

Buku ini merupakan novel yang berdasarkan fakta dan data. HIV dan AIDS yang selama ini mengisi ruang-ruang Koran, televisi dan seminar ternyata bisa saja sangat dekat dengan kehidupan kita. Penyakit yang menjadi momok ini bisa saja menjangkiti kenalan, sahabat, keluarga bahkan kita sendiri. Pengalaman Gayatri dan Anisa yang mendapati dirinya terserang penyakit yang selama ini masih dianggap sebuah kutukan, ternyata bisa menghinggapi dua perempuan baik, ibu rumah tangga yang menjaga kesetiaannya kepada suami. Dan kedua suami mereka yang digambarkan dalam buku ini adalah suami-suami yang baik dan bukan penjelajah cinta, yang hanya karena sebuah kesalahan kecil akhirnya terjebak dalam penyakit yang akhirnya merenggut nyawanya. Seperti tokoh Baskara yang disebutkan dalam buku ini adalah suami Gayatri yang sosok suami dan ayah yang bertanggung jawab. Entah dimana dia terjebak menyalurkan kebutuhan biologisnya dengan tidak aman, sehingga kematian merenggut nyawanya dan kebahagiaan isteri dan dua anaknya. Berbeda Gayatri, Annisa juga perempuan malang yang tertular dengan suaminya Ryandra yang ternyata adalah penyuka sesama jenis. Kebohongan, pengkhianatan dan kekecewaan berbaur menjadi satu bersama penyakit HIV membayangi kehidupannya. Bahkan Ryandra tidak mau memeriksakan dirinya, walaupun dia tahu sejak sebelum mengenal Annisa dia sudah melakukan hubungan seksual dengan sesame jenis. Dia berpikir HIV tidak ditularkan melalui hubungan sesama jenis. Dia berpikir perempuan lah yang membawa dan menyebarkan penyakit tersebut. Kebodohan dan piciknya pikiran tersebut, akhirnya membawa duka bagi perempuan yang selalu menjaga kesucian dan kesetiaannya. Ada lagi sosok Lusiana, yang digambarkan sebagai perempuan cerdas dan pengusaha sukses yang memilih untuk menikmati hidupnya sendiri. Ketiga sahabat ini saling menguatkan dan memberikan dukungan. Mereka secara terbuka dan teredukasi dengan pemahaman tentang HIV, mereka melakukan berbagai upaya medis untuk menjalani hari tanpa harus takut, malu dan bersalah dengan penyakit tersebut. Pernikahan Annisa dengan laki-laki yang dianggapnya sempurna itu tanpa pengenalan yang dalam, dia menjadi korban atas kemunafikan suaminya yang menjadikan pernikahan sebagai topeng atas penyimpang seksual yang dideritanya. Parahnya lagi kedua orangtua Ryandra tahu akan kelainan seksual yang diderita anaknya dan menjadikan pernikahan dan Annisa sebagai tumbalnya demi nama baik keluarga. Sementara budaya sumatera yang masih kental dalam keluarga Annisa, juga membuat Annisa ragu untuk mengakhiri hubungan pernikahan dengan Ryandra yang sudah membuat hidupnya menderita. Annisa takut keluarga besarnya akan terpukul dengan perceraian. Karena perceraian sama menakutkannya dengan HIV bagi pemikiran keluarganya. Namun hati ibu, tetaplah seorang ibu yang memiliki lautan kesabaran dan pelukan yang nyaman di saat kita tidak tahu lagi kemana harus mengadu. Ibu Annisa mengerti dengan kondisi itu, dan mendukung tindakan Annisa untuk bercerai.

Buku ini mengupas pemahaman tentang HIV dan AIDS baik dari cara penularan, orang-orang yang beresiko hingga pengobatan yang dilakukan. Semua permasalahan HIV dibahas tuntas dengan cerita yang mudah dimengerti. Tidak hanya sekedar novel, buku ini juga berisi data-data hasil riset yang mengungkapkan bahwa ketidaktahuan membuat angka penderita HIV terus meningkat. Usia remaja (15-24 tahun) merupakan penderita terbanyak yang terinfeksi HIV. Selama ini banyak penderita HIV yang merasa tak berarti saat mengetahui dirinya terinfeksi virus tersebut. Dan sebagian lagi orang-orang dengan resiko tinggi ataupun beresiko rendah seperti ibu rumah tangga yang menjaga kesucian pernikahannya tetap saja harus memeriksakan kondisi kesehatannya. Seperti yang diungkapkan Dani di awal pembuka bukunya ”Kita bepergian ke banyak waktu dan ruang, mencari erita, sahabat dan uang. Namun, ketika ingat rumah, dimana ada kasih dan sayang, pastikan bukan HIV yang terbawa pulang”. Saya mengartikan itu sebagai rambu-rambu buat lelaki yang telah berjuang buat keluarganya untuk memastikan bahwa kesetiaan menjadi payung yang melindunginya dari godaan-godaan untuk berbagi cinta apalagi HIV. Buku ini memang dikemas dengan bahasa yang sesederhana mungkin dan menarik, namun jika ini ditargetkan untuk para kaum muda, remaja yang dari data yang dipaparkan terbanyak terjangkit HIV. Rasanya agak sedikit vulgar bahasa-bahasa yang digunakan. Akan tetapi buku ini merupakan bacaan wajib bagi para isteri, suami dimanapun berada agar selalu merawat komitmen dan kesetiaan. Paramedis yang berkecimpung dengan para penderita HIV juga harus menjadikan buku ini sebagai referensi dalam bekerja. Karena dengan pemahaman yang jelas dan anggapan yang salah selama ini tentang HIV yang berarti menunggu kematian. Akan membuat para penderita memiliki semangat untuk terus menikmati hidup dan bahagia. Dan buku ini harus dibaca semua orang sebagai edukasi dan menanamkan rasa cinta dan dukungan kepada teman, saudara, ataupun sesama yang di dalam tubuhnya terjangkit HIV. Mereka memerlukan dukungan, cinta dan kasih sayang dari kita. Bagaikan persahabatan Gayatri, Annisa dan Lusiana seperti itu kita harus saling merangkul.

Tags: hiv aids, human immunodeficiency virus (hiv), human immunodeficiency virus facts, acquired immunodeficiency syndrome, lentivirus, what is std, aides, aid definition, human immunodeficiency virus symptoms

Yuk jalan-jalan gratis, mau?
COMMENTS