Friday, June 23, 2017
Home > Literasi > Resensi > Ada Kecoak di Filosofi Kopi

Ada Kecoak di Filosofi Kopi

filosofi kopi
  • Judul: Filosofi Kopi
  • Pengarang: Dee
  • Penerbit: Truedee Books & Gagas Media
  • Cetakan: 1, Februari 2006
  • Tempat: Jakarta
  • Tebal: xii + 134 halaman

 

Dunia sastra di Indonesia memang unik. Ia memiliki dua poros yang kuat. Poros itu ada di belahan bumi bagian Jakarta dan belahan bumi bagian Yogyakarta. Seperti kucing dan anjing, mereka tak bisa hidup dalam damai. Meski begitu, mereka seperti jalinan percintaan yang penuh benci namun memendam cinta. Sastrawan menyebut karya-karya perempuan penulis pendatang baru dari Jakarta dengan sebutan ‘sastra wangi. Saat menerbitkan buku yang diberi judul Filosofi Kopi ini, perdebatan tentang ‘sastra wangi’ masih begitu segar.

Goenawan Mohamad dalam pengantar buku ini menuliskan bahwa Dee adalah sebuah tangkisan. Ia membuktikan ketiadaan ‘sastra wangi’ dalam buku ini. ‘Sastra wangi’ baginya semacam cemooh laki-laki terhadap karya-karya sastra Indonesia mutakhir. Istilah ‘sastra wangi’ muncul setelah diterbitkannya karya-karya Djenar Mahesa Ayu dan Ayu Utami yang sarat dengan dunia yang penuh kevulgaran dalam menggambarkan persenggamaan. Istilah ‘sastra wangi’ juga diberi kata lain ‘sastra lendir’.

Prosa-prosa dalam buku Filosofi Kopi memang tak mengumbar tentang persenggamaan yang sangat vulgar, tetapi ia tak lepas dari unsur tentang kehidupan para manusia urban, utamanya perempuan. Seperti dalam cerita Filosofi Kopi yang menggambarkan dunia yang glamour dalam mengartikan secangkir kopi yang dianggap sempurna, meski pada kenyataannya si pembuat, Ben, kehilangan makna dari kartu-kartu yang selama ini disuguhkan dengan tulisan-tulisan yang dianggap mengandung makna. Ia merasa kalah hanya dengan menyeruput kopi Tiwus yang membuat dirinya semakin terpuruk. Kehidupan kaum urban jelas terlihat di awal cerita yang menggambarkan suasana kedai kopi yang mulanya diberi nama Kedai Koffie BEN & JODDY, kemudian diganti menjadi FILOSOFI KOPI, Temukan Diri Anda di Sini.

Kehidupan perempuan urban jelas terlihat pada prosa berjudul Mencari Herman. Sosok perempuan urban ada pada Hera yang memiliki kehidupan bebas dengan lawan jenis. Pencariannya mewujud menjadi sesuatu yang absurd sehingga menyebabkan pada kematiannya sendiri.

Keabsurdan juga tampak pada Egi yang dituliskan sebagai sosok yang masokis, membiarkan dirinya disakiti oleh orang lain dan dengan mudah menikmati kesakitan itu. Gambaran ketidaklogisan cinta itu digubah dengan apik oleh Dee dalam prosanya yang berjudul Sikat Gigi.

Keteguhan hati seorang perempuan urban diceritakan dengan apik dalam Sepotong Kue Kuning. Indi menguatkan diri sebagai perempuan yang selingkuh dengan pria beristri. Pilihan yang tak mustahil di kehidupan masyarakat urban yang penuh godaan. Mencari kepuasan hati dengan cara yang absurd, tak bisa dimengerti oleh logika. Kekayaan dan kemapanan seorang perempuan bukan jaminan ia bakal bahagia dalam hidupnya. Terkadang ia memilih jalan yang tak dimengerti oleh banyak pihak dan akhirnya terjebak dengan pilihannya sendiri. Tanpa bisa berbuat banyak karena sebuah keterlanjuran.

Prosa-prosa pendek seperti dalam judul, Salju Gurun, Kunci Hati, Selagi Kau Lelap, Jembatan Zaman, Kuda Liar, Cuaca, Lilin Merah, Spasi dan Cetak Biru, semacam petuah bagi penulis dan pembaca. Kata-katanya yang lugas dan bermakna seperti memberi nasihat tentang pertanyaan-pertanyaan tentang hidup yang perlu dikaji ulang untuk dapat dimengerti bahwa hidup itu memiliki arti tersendiri.

Misalnya pada prosa Spasi, Dee menuliskan: “Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada gerak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu”, (hlm. 97).

Dalam Buddha Bar, Dee juga mengungkapkan realitas kehidupan sekelompok orang yang terdiri dari 5 orang. Realitas kota yang sibuk dan sesekali perlu rehat dengan manusia-manusia yang dianggap cocok dengan mereka. Tak seperti realitas desa yang cenderung homogen.

Keunikan pada kumpulan cerita dan prosa satu dekade ini ada pada kisah terakhir yang menceritakan tentang kehidupan kecoak dapur. Kecoak adalah musuh perempuan di dapur. Mungkin Dee terinspirasi dengan kecoak yang muncul di dapurnya sehingga ia menuangkannya dalam sebuah karya. Lagi-lagi ia menuliskan cinta yang absurd, cinta antara Rico kepada Sarah. Rico yang seekor kecoak dan Sarah yang seorang anak manusia. Pada akhirnya cinta itu menghilang bersama kematian Rico yang digambarkan sebagai pejuang cinta yang rela menghisap racun dari Tuan Absurdo demi melindungi Sarah. Kisah ini dituliskan dengan judul Rico de Coro.

Dari ke-18 kumpulan cerita dan prosa itu, hanya Filosofi Kopi yang kemudian menarik hati para sineas untuk membuatnya menjadi sebuah film yang dibintangi oleh Chiko Jerico. Filosofi Kopi memang pilihan yang tepat untuk buku yang bisa menemani pembaca saat menyeruput secangkir kopi di pagi atau malam hari yang senggang.

Yuk jalan-jalan gratis, mau?
COMMENTS