Thursday, July 19, 2018
Home > Dapur Puan > Kuliner > Tak Perlu Jauh-jauh ke Jogja untuk Menikmati Makanan Ini

Tak Perlu Jauh-jauh ke Jogja untuk Menikmati Makanan Ini

Tak Perlu Jauh-jauh ke Jogja untuk Menikmati Makanan Ini

Makanan khas apa yang dimiliki Yogyakarta? Gudeg. Yup, betul sekali. Gudeg adalah warisan kuliner Nusantara yang bercita rasa tinggi. Sejarah itu dimulai setelah Perjanjian Giyanti pada 1755, saat dilakukan pembersihan hutan oleh prajurit Kerajaan Mataram untuk membangun Yogyakarta. Kota mulai dibangun di wilayah yang disebut Alas Bering atau yang sekarang disebut Pasar Beringharjo.

Seperti dilansir Historia, menurut Murdijati Gardjito, seorang profesor dan peneliti di Pusat Kajian Makanan Tradisional (PMKT), Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada (UGM), bahwa di Alas Bering itu ditemukan banyak pohon kelapa, nangka, dan melinjo. Lalu para prajurit mencoba memasak nangka, kelapa yang diambil santannya, dan daun melinjo. Karena jumlah prajurit begitu banyak, mereka memasak dengan wadah semacam kuali besar yang terbuat dari logam.

Kata ‘gudeg’ berasal dari celotehan para prajurit yang bekerja mengaduk sepanjang waktu selama proses memasaknya. Tersebab rasa enak ketika masakan itu dipanaskan berkali-kali hingga bumbu meresap, maka terciptalah gudeg kering yang bisa bertahan berhari-hari. Selain itu, pemanasan berulang itu akan mematikan bakteri sehingga gudeg sangat bagus dikonsumsi.

Nah, itu sejarah gudeg. Sahabat Puan wajib tahu supaya tidak sekedar mengonsumsi tanpa tahu seluk-beluknya. Sekarang yang perlu Sahabat Puan tahu ialah inovasi yang dilakukan oleh salah satu brand terkenal dari kuliner ini.

Tahun 2009 Bu Tjitro 1925 Janti Restaurant bekerja sama dengan LIPI ( Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) menemukan teknologi pengolahan gudeg agar awet tanpa bahan pengawet melainkan dengan sterilisasi yang dikemas dalam kaleng. Maka, berubahlah kemasan konvensional gudeg yang biasanya menggunakan besek dan kendil menjadi kemasan modern dalam kaleng. Pemasaran gudeg kaleng itu dilakukan mulai tahun 2011 hingga kini.

Inovasi ini menambah kepopuleran gudeg, bahkan ditiru oleh brand lain karena membuat makanan yang hanya bisa bertahan 48 jam dalam wadah konvensional bisa menjadi gudeg yang bisa dikonsumsi selama berbulan-bulan sesuai dengan masa kadaluwarsa.

Gudeg ini mulai dipasarkan secara masif, meskipun di beberapa wilayah di Indonesia belum mudah ditemui, namun produk ini dapat dipesan melalai toko online seperti, buka lapak, lazada, tokopedia, dan lainnya. Produk asli Nusantara ini bahkan sudah merambah sampai pasar internasional. Sahabat Puan bisa menemuinya di restoran kecil bernama Dewi di Alpine Plaza, 211 Alpine St No 4, Los Angeles, Amerika Serikat.

Jadi, apakah Sahabat Puan masih berpikir harus ke Yogyakarta untuk menuntaskan rindu pada gudeg? Jangan khawatir, rasanya dijamin tidak berubah dengan gudeg yang tersaji di restoran. Harganya juga sangat terjangkau, mulai dari 22 ribu hingga 30 ribu untuk produk dengan berat bersih 210 gram. Rindu akan kampung halaman atau tempat menuntut ilmu sedikit terobati dengan kuliner khas Yogyakarta ini.

Selamat mencoba, Sahabat Puan!

Tags: wisata kuliner jogja, wisata jogja, kuliner khas jogja

Facebook Comments

Comments are closed.