Wednesday, December 12, 2018
Home > Literasi > Opini/esai > Kenapa Saya Suka Batik (Lawasan)?

Kenapa Saya Suka Batik (Lawasan)?

Batik lawasan (foto: griya ageng)

Sayapun tak tau jawabannya…

Yang saya ingat hanyalah, jauh sebelum pemerintah mencanangkan untuk mencintai batik, saya sudah mulai menggunakannya. Jauh sebelum UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya Indonesia, saya sudah jatuh hati padanya. Di apapun atau dimanapun dia diaplikasikan, dibaju, gordyn, tas, atau dipernik-pernik rumah tangga, saya selalu suka batik.

Saya ingat beberapa tahun lalu, ketika menggunakan rok batik ke kantor, beberapa teman kantor berkomentar “Mau tidur ya?”. Dulu, pertanyaan dan komentar seperti itu sudah biasa saya dengar.

Dan ketika akhirnya saya memutuskan berhenti untuk kerja, profesi yang saya pilih selanjutnya adalah bakoelan alias jualan batik, tidak jauh-jauh dari hobi saya. Semoga hobi yang membawa berkah dan keuntungan. Sayangnya, berbisnis berdasarkan hobi ada kelemahannya, tak jarang baju-baju yang seharusnya dijual akhirnya menjadi koleksi pribadi, karena tak mampu menahan nafsu untuk tidak memakainya.

Salah satu jenis batik yang menjadi favorit saya adalah batik lawasan, apalagi kalau berbentuk kain perca yang dijahit satu persatu, biasa disebut patchwork. Sebagian orang yang saya kenal, menganggap batik lawasan sebagai produk yang tidak menarik, kurang bernilai bahkan ada yang menganggap tidak layak pakai, ini dikarenakan warnanya yang pudar dan lusuh. Malah pernah ada yang bilang “Haduh, kain buat lap kompor kok dipakai sih?!” Menurut saya, justru disitulah letak keunikannya, warna yang pudar dan terkadang ada sedikit bolong-bolong kecil dikainnya akibat termakan usia. Namanya saja  lawasan, yang kurang lebih artinya lama. Ya, batik lawasan memang batik lama atau bekas yang didaur ulang menjadi produk baru. Yang patut membuat bangga adalah, pengguna batik lawasan kebanyakan adalah turis-turis asing.

Ada 2 jenis batik lawasan berdasarkan prosesnya, pertama: batik lawasan yang berasal dari kain batik yang masih baru kemudian sengaja dibuat pudar warnanya dengan cairan kimia. Kedua, batik lawasan yang memang usianya sudah cukup lama dan warnanya kusam alami akibat termakan usia, biasanya berasal dari kain-kain batik bekas orang yang dijual kembali. Saya sendiri lebih senang dengan batik lawasan versi kedua, lebih mengusung konsep recycle sebenarnya, dan mungkin ada nilai sentimentil tersendiri yang dimiliki oleh pemilik sebelumnya. Bisa jadi pemilik sebelumnya adalah priyayi keraton kasta tinggi atau rakyat jelata atau penjual jamu gendong keliling. Selembar kain batik lawasan tertentu yang usianya sampai puluhan tahun bisa mempunyai nilai jual sampai jutaan rupiah, harga yang tidak seberapa bagi pecinta dan kolektor batik sejati. Saya punya beberapa koleksi batik lawasan patchwork, mulai dari kain lembaran saja hingga yang sudah berupa baju, rok, celana dan tas, kalau koleksi saya tentunya bukan yang harganya sampai jutaan.

Anne Avantie

Dan sekarang, Anne Avantie si desainer kondang, telah mengaplikasikan batik lawasan di rancangannya yang berharga jutaan dengan mengusung merk Batiken. Ya, semoga batik lawasan bisa naik tingkat, sejalan dengan peminat batik yang terus bertambah.

 


Tags: batik lawasan, batik indonesia, jenis batik, batik online, baju batik, batik art, history of batik, batik adalah, batik Malaysia, where does the word batik come from? what is a batik design? what is a batik artist?

 

Facebook Comments