Home > Literasi > Cerita > Pengantin Kehilangan Perawan (True Story)

Pengantin Kehilangan Perawan (True Story)

(True Story, Curhat Nenek-Nenek Beberapa Tahun yang Lampau)

Akad nikah usai perhelatan selesai. Takut, gugup, malu, dan entah rasa apa lagi yang berkelabut di benakku saat melewati benteng malam pertama. Maklum, usiaku baru empat belas tahun, sepuluh tahun lebih muda dari sang suami.

Bersenjatakan kedewasaannya, dia berhasil menaklukkan ego negatifku. Aku layuh dan bertekuk lutut. Malam syahdu berlangsung bermandikan madu. Dunia serasa milik berdua.

Ada keanehan yang membuatku bingung. Selesai menunaikan kewajibannya, suamiku berbaring memunggungi. Padahal aku menunggu dan sangat berharap next action darinya. Aku berpikir, barangkali dia capek. Mau bertanya lidahku kaku bak piring martabak. Wajar. Pertama menatapnya cuman setelah akad nikah, itu pun hanya sekilas. Terus bersanding di pelaminan dan  berlanjut ke kamar pengantin.

Sebelum menikah, aku dan dia sempat bertunangan satu tahun. Selama itu kami tak pernah bertemu langsung. Paling melihat-lihat dari jauh di tepian mandi. Dia mandi di hulu aku di hilirnya. Bila terlihat sosoknya dari jauh, buru-buru aku masuk rumah, lantas ngintip dari balik pintu. Untungnya selama setahun itu, aku tak pernah bertemu dengannya secara mendadak. Karena aku memang tipe gadis yang jarang keluar rumah, kecuali pergi mandi di sungai.

Ketika aku bangun pagi, sang suami tiada lagi di sampingku. Dia pergi tanpa pamit.

Aku kecewa bercampur sedih. Di mana bukti cinta dan sayangnya padaku, yang sempat digembar-gemborkannya sebelum melampiaskan dendam birahinya pada tubuhku.

Yang paling menyakitkan, dia keluar dengan merobek bantal pengantin. Kapas berceceran mulai dari pintu kamar sampai ke pintu depan. Tindakan tersebut menggaungkan alarm aib, bahwa diriku sudah tak perawan lagi. Ini tradisi jelek masyarakat kampungku yang berlaku tujuh puluh lima tahun yang lalu. Pasnya menimpa diriku untuk yang terakhir.

Aduh …! Sakitnya ke hulu jantung. Aku difitnah dengan keji. Nama baikku dicoreng. Harga diri keluarga dan sanak familiku diinjak. Orangtuaku marah besar. Mereka menghukumku dengan mencubit, memukul bahkan mencambuk pakai rotan. Berkali-kali kujelaskan kepada mereka bahwa kehormatanku tak pernah tersentuh oleh siapa pun. Mereka tetap tidak percaya.

Hampir saja aku bunuh diri. Belum lagi sangsi sosial yang harus kuterima. Gosip berantai membadai di seluruh negeri, di sawah, di ladang, terlebih-lebih di sungai tepian mandi. Parahnya lagi, ganjaran ini tidak hanya ditimpakan padaku. Anak cucu pun ikut menanggung beban. Masih ada saja sebagian kecil masyarakat menuding, neneknya dulu punya pengalaman kelam, menikah dalam kondisi tidak perawan. Padahal kejadiannya berlalu hampir seabad. Maklum, pada zamannya, masyarakat kampungku yang sebagian besar buta huruf. Diperparah pula kondisi geografis yang terisolir. Sudah barang tentu mereka berpikir amat primitif. Menganggap pecahnya selaput dara seorang perawan hanya tersebab melakukan hubungan seks.

COMMENTS