Saturday, September 23, 2017
Home > Sosok > Perempuan Menulis sampai Mati

Perempuan Menulis sampai Mati

Hj Nursini Rais

Tak ada yang berhenti karena usia yang terus menua, begitupun kreativitas dan mimpi. Hj Nursini Rais, seorang pensiunan guru di SDN 11/III/ Simpang IV Danau Kerinci. Empat tahun setelah tak lagi mengabdi di dunia pendidikan, perempuan yang telah dikarunia tiga orang cucu ini terus ingin berkarya dan bermanfaat bagi banyak orang. Nenek, demikian panggilan kesayangannya, bersama dengan banyak penulis muda lain asal jambi dia tidak sungkan untuk belajar bersama. Baginya sehela nafas lebih bernilai jika dimanfaatkan memburu ilmu dan menulis, daripada seribu tahun bertopang dagu, berkedai siku mengantar matahari bergulir ke barat dan menyambutnya kembali di ufuk timur. Orang-orang yang menyia-nyiakan waktu, adalah orang yang merugi. Nenek Nur mencintai dunia penulisan sejak dia masih remaja. Ketika itu ada sebuah majalah sahabat pena yang terus dia tunggu, dia sisihkan uang yang pas-pasan dimilikinya saat itu. “Untuk membeli majalah itu harus menyisihkan hampir sepertiga uang yang dimiliki setiap bulannya. Tapi ketika bisa membaca dan menulis surat bagi semua teman-teman sahabat pena yang berada di penjuru Indonesia, itu merupakan kebahagiaan bagi saya,” katanya.

Hj Nursini Rais dan keluarga
Hj Nursini Rais dan keluarga

Kecintaannya dalam tulis-menulis, juga berlanjut ketika dia telah menikah. Lelaki yang bernama lengkap Karais ini mendukungnya untuk mencintai hobinya ini. Bahkan tulisan pertama yang pernah dimuat di majalah nasional kala itu menjadi kenangan terindah yang dia ceritakan. “Waktu itu tahun 86-an, tulisan ibu pernah dimuat di Fakta Plus. Itu merupakan majalah skala nasional pertama yang menerima tulisan ibu. Dan Diberi kompensasi sebanyak Rp.5.000,-. Ibu dan bapak membelikan sebuah selimut dan majalah Bobo untuk anak di rumah. Itu kebahagiaan yang susah diungkapkan kata-kata,” kenangnya.

Saat menjadi guru, Nursini juga meluangkan waktu untuk menulis berbagai opini yang telah dimuat di surat kabar. Diantaranya, dengan judul Berbondong-bondong Jadi Guru, Nyontek Warisan dari Siapa?, Perspektif Media Terhadap Guru SD dan banyak tulisan lainnya. Di usia senjanya, Nursini terus aktif mengikuti kegiatan diskusi kepenulisan baik secara tatap muka maupun online. Baginya, ada sesuatu yang terus menggoda pikirannya, jika dia tidak segera menumpahkan berbagai ide dalam selembar kertas ataupun di depan layar laptopnya.  Meski sudah menelurkan tiga buah karya novel, Nursini masih merasa dia belajar sambil menulis. Perempuan rendah hati ini, masih malu-malu untuk mengajari beberapa teman dan anak muda yang ingin belajar menulis dengannya. Nursini merasa dia masih terus haus dengan ilmu, dan bingung kalau harus berbagi tips dengan para penulis lainnya. “Ibu sampai saat ini masih terus belajar, belajar menulis, menulis sambil belajar dan juga belajar sambil menulis. Tapi yang terpenting, semua orang memiliki kemampuan untuk menulis, hanya dibutuhkan kemauan dan harus dimulai. Menulis akan bisa, jika kamu memulainya. Dan biarkan kata-kata terus berlarian di pikiranmu,” tambahnya.

Jatuh Bangun Mengenal Sayang by Hj Nursini Rais
Jatuh Bangun Mengenal Sayang karya Hj Nursini Rais

Novel pertama yang berjudul Jatuh Bangun Mengenal Sayang yang diterbitkan Dapur Buku tidak menjadikannya berpuas diri, dan seperti candu dia terus ingin mengeluarkan karya-karyanya. Pengerjaan buku ini tidak semulus yang dipikirkan. Mengawali penulisan buku di tahun 2013, sempat terhenti karena beberapa kesibukan dan hampir berminggu tak juga menemukan satu kata yang tepat untuk melengkapi satu paragraph menjadi hal yang biasa ditemui. Nursini mengaku dulu ketika dia tak menemukan satu ide pun untuk melanjutkan tulisannya, yang dia lakukan adalah terus berkutat di depan laptopnya sampai nyaris putus asa. “Ibu ini orang nya keukeh, jadi kalau tidak ketemu kata-kata yang tepat untuk melanjutkan tulisan. Tetap saja maksa untuk berpikir, sampai capek sendiri akhirnya. Hingga bertemu dengan teman-teman lain sesama penulis yang menyarankan untuk rehat sejenak ketika ide buntu. Bisa jalan-jalan, baca buku, nonton, ataupun sholat karena itu akan memulihkan kembali ide-ide untuk menulis. Semenjak itu, kalau tidak ketemu ide, ibu akan ke kebun bersama bapak,” ujarnya sambil tertawa.

Pundi rupiah, bukanlah pencapaian yang ingin diraihnya melalui tulisan-tulisan yang dihasilkannya. Karena mencari penerbit saja, dia pernah ditipu oleh salah satu penerbit yang meminta uang muka untuk cetak novel keduanya namun buku tak kunjung tercetak. “Pengalaman kena tipu penerbit juga ada, pokoknya menulis ini bukan berharap jadi jutawan. Cukup bisa menuangkan ide yang ada di kepala dan dibaca banyak orang. Apalagi bisa menarik minat baca bagi kaum muda di bidang literasi,” sebutnya.

Beruntung, Nursini mendapat dukungan penuh dari semua anggota keluarganya. Tidak hanya suami, kedua buah hatinya juga mendukung keinginannya untuk belajar , belajar dan belajar lagi menulis. Dia mengatakan puteri sulungnya selalu meluangkan waktu mengantarkannya ikut seminar-seminar kepenulisan. Bahkan putera bungsunya yang saat ini di Inggris pernah membantunya menyunting novel yang ia tulis. Nursini berharap menjelang akhir usianya, buku-buku hasil karyanya bisa menjadi warisan untuk anak dan cucunya.

Hj Nursini Rais (puan.co)
Hj Nursini Rais

Biodata

Nama : Hj Nursini Rais
Nama Panggilan : Bu Haji Nur
Tanggal Lahir : 5 Agustus 1954
Alamat Domisili : Sungaipenuh, Kerinci, Jambi
Hobi : Menulis