Friday, June 23, 2017
Home > Literasi > Resensi > Rara Mendut, Sebuah Legenda atau Sejarah?

Rara Mendut, Sebuah Legenda atau Sejarah?

Rara Mendut hanyalah seorang gadis nelayan biasa, yang akan dijadikan sebagai salah satu selir oleh Adipati Pragola dari Kadipaten Pati
Judul : Rara Mendut
Pengarang : YB Mangunwijaya
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Genre : Novel, dewasa
Cetakan : Tahun 2008
Ukuran : 16 x 24 cm
Jumlah Hal. : 802 halaman

Ada kekaguman tersendiri ketika membaca novel berjudul Rara Mendut, karya Y.B. Mangunwijaya. Bagaimana tidak, novel yang pada awalnya “ngeri” juga untuk mulai membaca karena jumlah halamannya mencapai 802 halaman ini, berisi cerita sejarah kerajaan Mataram dibumbui romantisme kisah cinta pilu antara Rara Mendut dan Pranacitra.

Biasanya suatu cerita sejarah agak membosankan untuk dibaca, tetapi tidak ketika telah diramu oleh imajinasi Romo Mangun. Kisah-kisah kepahlawanan para tokoh utama dalam novel ini yang kesemuanya adalah perempuan yaitu Rara Mendut, Genduk Duku dan Lusi Lindri mampu menghipnotis pembaca untuk penasaran membaca hingga akhir cerita.

Novel ini merupakan sebuah trilogi kisah 3 kaum perempuan dalam mendobrak aturan-aturan umum dan pakem di zaman itu. Perempuan-perempuan tersebut adalah Rara Mendut, Genduk Duku serta Lusi Lindri. Cinta sejati, keteguhan dan kesetiaan yang membuahkan penderitaan bahkan kematian tidaklah menyurutkan perjuangan mereka dalam melawan feodalisme bangsawan Jawa kuno.

Rara Mendut hanyalah seorang gadis nelayan biasa, yang akan dijadikan sebagai salah satu selir oleh Adipati Pragola dari Kadipaten Pati yang menolak mengakui Mataram sebagai junjungannya. Namun, belum sempat dijadikan selir, Adipati Pragola tewas ditangan Tumenggung Wiraguna, seorang panglima perang utusan Mataram. Hingga akhirnya Rara Mendut diboyong secara paksa menuju ibu kota Mataram.

Sebagai buah keberhasilan dalam menumpas pemberontakan Adipati Pragola, maka Sultan Hanyakrakusuma menghadiahkan Rara Mendut kepada Tumenggung Wiraguna. Saat itu Rara Mendut berusia baru belasan tahun sedangkan Wiraguna telah berusia 50 tahunan. Dan hal yang biasa ketika seorang laki-laki bangsawan mempunyai istri atau selir jumlahnya mencapai ratusan, bahkan usianya terpaut jauh bagaikan kakek dengan cucu.

Rara Mendut menolak diperistri oleh Wiraguna, bahkan ketika Wiraguna “menekan” Rara Mendut agar setiap hari menyerahkan upeti kepadanya, sebagai salah satu cara agar Rara Mendut luluh hatinya dan akhirnya menyerah. Tidak ada kata menyerah bagi Rara Mendut, sehingga timbul ide setengah gila agar bisa menghasilkan uang untuk membayar upeti Wiraguna, yaitu berjualan rokok lintingan di pasar kerajaan yang telah diolesi oleh air ludah Rara Mendut. Sebuah cara yang agak “nakal” dalam mempertahankan harga diri.

Hingga suatu waktu, bertemulah tanpa sengaja Rara Mendut dengan Pranacitra. Falling in love at the first sight, kata pepatah. Berharap agar Pranacitra membebaskannya dari kungkungan tembok Puri Wiragunan dan menikah secepatnya. Sayangnya, pelarian Rara Mendut dan Pranacitra diketahui oleh Wiraguna. Ketika keduanya telah terdesak, Wiraguna bertanya kepada Rara Mendut, siapakah yang dipilih olehnya, Wiraguna atau Pranacitra?. Dengan tegas Rara Mendut menjawab Pranacitra, yang jawaban tersebut membawa Rara Mendut dan kekasih pilihan hatinya menemui ajal diujung keris Tumenggung Wiraguna. Betapa menyakitkan dan pedihnya cinta.

Genduk Duku, dayang cilik Rara Mendut yang menyertai perjalanan hidup Rara Mendut semenjak di Puri Pragola hingga tewas demi mempertahankan cinta dan keyakinannya. Setelah kematian puannya, melanglang buana menghindari kehidupan kaum ningrat yang dinilainya penuh kemunafikan, kesewenang-wenangan dan intrik-intrik politik yang kejam.

Genduk Duku merupakan perempuan ahli penunggang kuda yang pada zamannya hampir tidak ada perempuan yang bisa menyamai kepandaiannya. Tidak hanya itu, Genduk Duku dikenal juga sebagai Blantik Jaran handal, sehingga sering diminta bantuan untuk meneliti kekhasan serta keunggulan kuda-kuda yang akan diperdagangkan.

Rupanya kehidupan membawa kembali Genduk Duku beserta suaminya Slamet menuju pusat kerajaan Mataram. Tempat yang sebenarnya selalu dihindari oleh Genduk Duku, karena mengingatkan kembali pada peristiwa-peristiwa tragis Rara Mendut. Serupa namun tak sama dengan Rara Mendut, Genduk Duku juga harus menemui kepiluan nasib ketika Slamet harus mati diujung keris Tumenggung Wiraguna demi membela salah satu selir Wiraguna. Sebagai ibu yang harus membesarkan seorang anak perempuan buah hatinya dengan Slamet, Genduk Duku memilih menjanda hingga akhir hayatnya.

Lusi Lindri, awalnya memilih kehidupan istana sebagai tempat untuk tumbuh dan dewasa. Hingga dia terpilih menjadi Trinisat Kenya –pengawal khusus bagi raja yang kesemuanya adalah perempuan perawan-. Pilihan ini membuatnya terpisah dari ibunda tercinta Genduk Duku, yang memilih mengasingkan diri di pegunungan dan hidup dari hasil bercocok tanam. Lusi Lindri juga mewarisi kepiawaian ibunya dalam menunggang kuda.

Melihat kehidupan istana dan kerajaan yang penuh kesewenang-wenangan, akhirnya Lusi Lindri memilih kabur dari istana dan menikah dengan seorang Mantri Telaga –penjaga dan perawat Segarayasa- bernama Peparing, yang belakangan diketahui adalah seorang pemimpin pemberontak terhadap kerajaan Mataram. Mereka mempunyai 5 orang putra-putri yang kesemuanya tewas oleh tindakan buas kaum bangsawan Mataram.

Kehidupan keras Lusi Lindri dimulai saat harus menemani suaminya berpindah-pindah dari satu hutan ke hutan lainnya, demi menghindari kejaran pasukan Mataram yang saat itu diperintah oleh Kanjeng Susuhunan Prabu Amangkurat Agung atau Amangkurat I –putra dari Sultan Hanyakrakusuma-.

Amangkurat I mempunyai sifat dan sikap yang jauh berbeda dengan ayahnya, Sultan Hanyakrakusuma. Jika pada masa pemerintahan Sultan Hanyakrakusuma kerajaan Mataram menjadi negara Jayajagat Wahyu Agungingrat –jaya dibumi yang merupakan kebesaran dunia-, lain halnya pada masa pemerintahan Amangkurat I. Pada masa pemerintahannya justru banyak terjadi pemberontakan yang berusaha menggulingkan kedudukannya sebagai raja bahkan pemberontakan yang dilakukan oleh putranya sendiri. Ini tidak lain disebabkan ketidak becusannya dalam mengatur negara.

Selain itu, Amangkurat I juga dikenal mempunyai perilaku yang buruk dan kejam. Semenjak usia 15 tahun, Pangeran Aria Mataram – nama kecil Amangkurat I- terkenal suka meniduri perempuan-perempuan cantik. Tidak peduli masih gadis ataupun istri orang, salah satu yang hendak ditidurinya adalah Genduk Duku. Beruntung karena muslihat Genduk Duku, ia berhasil lolos dari cengkeraman Pangeran Aria Mataram.

Meski novel ini dikembangkan dari Babad Tanah Jawi dan berbagai sumber oleh Romo Mangun, namun ciri khas pengolahan kata serta celetukan-celetukan humornya sangat Romo Mangun sekali. Perasaan yang sama timbul ketika membaca novel Romo Mangun lainnya seperti Pohon-pohon Sesawi atau kumpulan cerita pendek dalam Rumah Bambu, sangat njawani.

YB MANGUNWIJAYA
YB MANGUNWIJAYA

Kekaguman bertambah ketika membaca novel Rara Mendut yang dilatar belakangi penyebaran agama Islam di Kerajaan Mataram pada saat pemerintahan Adiprabu Sultan Hanyakrakusuma yang kelak bergelar Sultan Agung -Raja Mataram keempat-, betapa Romo Mangun sangat fasih dan paham dalam menggunakan istilah maupun bacaan-bacaan Islami lengkap dengan kejawen-nya. Yang notabene diketahui bahwa Romo Mangun adalah cendekiawan Katholik yang berpikiran inklusif.

 

Dalam novel ini digambarkan juga, betapa Romo Mangun begitu membanggakan kaum nelayan dan samudranya. Rara Mendut adalah nelayan, Pranacitra adalah anak pedagang yang kerapkali berlayar, Slamet suami Genduk Duku juga nelayan. Nelayan adalah para pelaut putra sang jaladri –lautan-, kegigihannya dalam mengendalikan bahtera, menaklukkan ombak serta mengarungi bahari tanpa batas bukti bahwa mereka adalah manusia-manusia tangguh tanpa tandingan, manusia-manusia marwita marganing maruta -berguru pada jalannya angin-. Laut lazuardi lenggara langgam laras…

Intinya…tidak rugi membaca novel ini.

Tags: rara mendut, karya y.b. mangunwijaya, novel roro mendut pdf, sinopsis roro mendut, sinopsis novel rara mendut, rara mendut pdf, analisis novel roro mendut, unsur intrinsik novel roro mendut, kisah roro mendut asli, unsur ekstrinsik novel roro mendut

Yuk jalan-jalan gratis, mau?
COMMENTS