Wednesday, September 20, 2017
Home > Lingkungan > Desa Kompos Pertama di Jambi

Desa Kompos Pertama di Jambi

Beberapa perempuan silih berganti membawa tumpukan kotoran sapi mengunakan angkong (puan.co).

Beberapa perempuan silih berganti membawa tumpukan kotoran sapi mengunakan angkong (gerobak sorong beroda satu) menuju dapur pembuatan kompos. Bau menyengat menyeruak, namun tak menyurutkan semangat para perempuan tersebut bekerja. Sebelum sebuah truk besar datang mengambil berkarung-karung pupuk kompos yang sudah siap dibawa ke sebuah perusahaan HTI di sekitar Desa Dataran Kempas Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Beberapa laki-laki telah siap mengangkat dan menyusun karung-karung pupuk tersebut. Begitu rutinitas di sebuah pabrik pembuatan pupuk kompos yang baru enam bulan ini beroperasi.

Rumah kompos yang terbuat dari kayu (puan.co).
Rumah kompos yang terbuat dari kayu (puan.co).

Berada di lahan seluas dua hektar yang merupakan lahan swadaya, terlihat jejeran kandang sapi dan sebuah rumah kompos yang terbuat dari kayu. Sementara di sampingnya bertumpuk-tumpuk karung pupuk kompos yang siap digunakan. Setiap harinya ada empat hingga lima mobil truk milik perusahaan mengambil pupuk-pupuk tersebut. Setiap mobil mengangkut enam ton pupuk yang sudah di packing maupun bahan pembuatan pupuknya. Pabrik pengolahan pupuk kompos yang dikelola LKMA Mitra Usaha Mandiri tersebut sudah mampu mengumpulkan pemasukan hingga Rp 80.871.580,-.

Awalnya, melalui program APBN Provinsi Jambi. 2013, para petani mendapatkan bantuan sebanyak 25 sapi, namun hampir separuh sapi sakit dan mati. Mereka pun menjadi patah semangat untuk melakukan perawatan dan penggemukan sapi. Hingga akhirnya mereka berpikir bagaimana agar sapi-sapi ini tidak hanya bernilai pada dagingnya saja tetapi juga limbahnya.

Supari (37) selaku sekretaris Kelompok Tani Mekar Jaya mencoba melakukan usaha lain guna menambah pemasukan keluarga dengan mengolah kotoran sapi dan limbah dari perkebunan sawit yang sudah tua. Supari bersama Suyadi kakaknya sekaligus ketua Kelompok Tani Mekar Jaya mengajak anggota kelompok lain yang mau bergabung. Hanya delapan orang yang mau ikut dalam ide ‘gila’ tersebut. Supari menyebutnya, ini adalah ide gila karena dia tidak menguasai betul bagaimana pembuatan pupuk kompos, yang dia pahami biasanya kotoran sapi secara langsung ditabur di batang tanaman kelapa sawit demikian pun dengan pelepah sawit yang banyak dijumpai di sekitar desanya.

Supari kemudian mencoba membuat pupuk kompos sederhana dengan mencampurkan kotoran sapi, pelepah sawit, abu, dan sampah kering. “Limbah-limbah ini digabung semua, awalnya dikerjakan secara manual. Kami mencincang-cincang pelepah sawit dengan parang dan membungkusnya dengan perlak plastik kemudian membiarkannya terfermentasi selama 21 hari,” jelasnya.

Namun produksi pupuk kompos tersebut tidak serta-merta menghasilkan uang, tidak ada yang membeli pupuk kompos produksi mereka. Mereka menggunakan pupuk kompos hanya untuk kebutuhan sendiri. “Ada yang menggunakan untuk tanaman kelapa sawit tua, dan hasil panen bisa meningkat hingga mencapai 2 ton setiap dua minggu. Tapi ini tidak berpengaruh pada kami yang tidak memiliki kebun sawit , yang hanya bergantung pada program integrasi sapi sawit dan usaha kompos dari kotoran sapi ini,” jelasnya.

Hingga akhirnya ada permintaan pupuk dari perusahaan yang ada di sekitar desa mereka. Delapan petani ini berjuang keras untuk memenuhi target awal pupuk yang dibutuhkan perusahaan. Mesin pencacah sawit yang tadinya digunakan untuk membuat pakan ternak beralih fungsi menjadi mesin pembuatan kompos. Oktober 2016, LKMA Mitra Usaha Mandiri berhasil memenuhi kebutuhan pupuk yang dipesan perusahaan. Sekaligus menjadi kontrak kerjasama pupuk bagi perusahaan selama kurun waktu 5 tahun mendatang. Usaha produksi pupuk kompos pun menggeliat, dibutuhkan banyak tenaga kerja untuk bisa memenuhi permintaan perusahaan.

Tidak hanya itu, teknik pembuatan pupuk harus sesuai dengan standar yang diinginkan. Pupuk kompos yang awalnya masih kasar serta campuran yang tidak memiliki takaran pasti . LKMA Mitra Usaha Mandiri pun dibina beberapa instansi terkait, Bank Indonesia bekerjasama dengan LPPM Universitas Jambi melakukan pembinaan pembuatan pupuk kepada para petani.

Kami dilatih dalam membuat pupuk kompos yang sesuai dengan standar, misalnya campuran abu, kotoran sapi, pelepah sawit, hijau-hijauan, serta gula, mikroorganisme dan air. Dibutuhkan 30 persen campuran kotoran sapi dan abu. Sementara pelepah sawit dan hijau-hijauan (baca rumput-rumputan dan sampah daun) sebanyak 20 persen, air dan gula sebanyak satu liter untuk setiap kilo gram nya. Untuk packing kami juga mendapat pelatihan, awalnya hanya berupa karung yang diikat tali plastik seadanya sekarang packing nya sekarang sudah lumayan rapi,” ujar Supari.

Produksi pupuk kompos LKMA Mitra Usaha Mandiri mengalami kemajuan pesat, dalam kurun waktu Oktober 2016 – Februari 2017, mereka sudah memproduksi hingga 600 ton pupuk dan mampu mempekerjakan 50 orang warga desa. 48 orang bekerja di bagian produksi pupuk dan dua orang sebagai buruh bongkar muat.

Harga jual pupuk saat ini Rp 1.135 per kg nya. April, kami menargetkan produksi 1000 ton pupuk. WKS mau menerima produksi hingga 3000 ton per bulannya secara bertahap. Bahkan kami sekarang sudah mampu membayar gaji pegawai di bagian produksi pupuk sebesar Rp 3.000.000 per bulannya. Sementara untuk buruh bongkar muat dibayar per mobil Rp 100.000 ,” ujarnya.

Nanik Rahayu, seorang karyawan pembuatan pupuk mengaku sangat terbantu dengan adanya usaha pembuatan pupuk tersebut. Semula Nanik berjualan jamu gendong beralih profesi karena gaji yang menggiurkan. Tidak hanya Nanik, suaminya Mario yang awalnya menjadi buruh serabutan juga memilih menjadi karyawan pembuat pupuk. Sekarang mereka mampu memenuhi kebutuhan sehari-sehari sekaligus menyekolahkan anak perempuannya di sebuah pondok pesantren Provinsi Sumatera Selatan.

Kalau dulu kami tidak memiliki sumber pendapatan yang pasti, sekarang setiap awal bulan sudah bisa terima gaji. Kami terbantu sekali dengan pabrik pengolahan pupuk ini, ada juga karyawan dari desa tetangga seperti Desa Purwodasi, Desa Delima, dan Desa Sungai Keruh yang bekerja. Rata-rata kami sebelumnya bekerja buruh serabutan, kami tidak memiliki lahan apalagi kebun,” jelasnya.