Thursday, July 19, 2018
Home > Literasi > Opini/esai > Hijab, Identitas Perempuan Muslim?

Hijab, Identitas Perempuan Muslim?

perempuan Yahudi, perempuan Nasrani di jazirah Arab, sudah menggunakan hijab atau kerudung penutup kepala

Kamu tambah cantik deh kalo ber-hijab.

Hmmm.. tujuannya ber-hijab biar tambah cantik atau buat ibadah ya?!” jawab saya spontan.

Ketika ada teman atau keluarga yang berpendapat seperti itu, kalimat pamungkasnya biasanya adalah “Mudah-mudahan kamu dapat hidayah”. Well, itu adalah kalimat andalan yang paling sering diucapkan orang-orang sekitarku ketika mereka kehabisan kata-kata untuk meyakinkan agar  saya menjadi ‘lebih baik’ versi mereka.

Hidayah?

Saya tidak tau hidayah itu seperti apa rasanya dan bagaimana bentuknya. Setiap orang yang saya tanya pun tidak pernah bisa menjelaskan dengan sempurna. Apakah itu sekedar justifikasi saja bagi orang-orang yang merasa telah melakukan suatu tindakan yang dirasa baik oleh mereka? Agar mereka merasa nyaman atas pilihannya. Apakah itu seperti rasa ketika anda bersemangat bangun dipagi hari karena akan bertemu dengan pujaan hati yang lama tak bersua? Atau seperti ibu hamil yang ngidam pengen makan durian dan dalam sekejab durian tersebut telah tersaji dihadapannya.

Saya juga bisa meng-klaim mendapatkan hidayah ketika saya memberikan pinjaman uang ke teman yang butuh buat beli beras. Atau saya memborong semua koran yang dijual oleh anak kecil di perempatan lampu merah karena merasa iba. Itu bisa juga hidayah kan? Keinginan spontan untuk melakukan sesuatu hal yang baik.

Pernah suatu kali, seorang teman mengajak anak perempuannya yang berusia sekitar 6 tahun ke tempat kerja. Anak tersebut menggunakan hijab. Dia membisikkan sesuatu ke telinga ayahnya. Kemudian ayahnya, yang teman saya menyampaikan ke saya “Tante orang mana? (suku apa maksudnya)” Saya jawab suku Jawa. Sejurus kemudian anak itu bertanya kembali melalui ayahnya, agama saya apa? Saya tidak menjawab, hanya tersenyum dan berkata “Kenapa tanya agama tante apa?” Dan anak teman saya bilang, kalau Islam kenapa tidak pake jilbab? Mendengar pertanyaan tersebut, saya tidak kaget, kembali saya tersenyum. Saya kemudian balik bertanya, pernah melihat orang Kristen pake jilbab? “Enggak” jawabnya. “Orang Kristen ada juga yang pake jilbab lho, namanya biarawati” Sengaja saya menggunakan istilah Kristen, karena kalau saya menggunakan Katholik, mungkin tidak familiar bagi anak usia tersebut. Belum sempat saya menjelaskan lebih panjang lagi, anak tersebut sudah diajak pergi oleh ayahnya. *senyum

Sebenarnya saya hanya ingin menjelaskan ke anak tersebut, bahwa berhijab/berjilbab bukan identitas eksklusif perempuan muslim. Jauh sebelum agama Islam datang, perempuan Yahudi, perempuan Nasrani di jazirah Arab, sudah menggunakan hijab atau kerudung penutup kepala. Bahkan perempuan Yahudi Ortodok menggunakan pakaian serba tertutup juga, dan membatasi pergaulan mereka dengan kaum pria. Begitu juga dengan biarawati Katholik, bahkan saya melihat ada kemiripan model pakaiannya dengan hijab syar’i yang kekininan dipakai oleh perempuan muslim Indonesia. Jadi, kalau ada yang mengidentikkan bahwa yang menggunakan hijab pasti perempuan muslim, mungkin perlu jalan-jalan ke Israel atau ke Vatikan.

Religious Orthodox Jew Dress
Religious Orthodox Jew Dress

Kenapa seringkali ketika seseorang telah menggunakan hijab, mereka merasa telah melakukan seluruh amalan baik? Menganggap dirinya telah sempurna keimanannya. Dan melihat lebih rendah atau tidak lebih baik perempuan yang belum menggunakan hijab. Berhijab itu kewajiban dan berdosa bagi perempuan muslim yang tidak melaksanakannya, begitu pendapat mereka.

Lantas, apakah sudah menjadi jaminan saya pasti masuk neraka karena saya tidak ber-hijab? Saya tidak tahu, bahkan mereka yang merasa sebagai pemegang kunci surga pun kalau mau jujur pasti juga tidak tahu jawabannya.

Amalan baik dalam beragama sungguhlah banyak, tidak hanya ber-hijab saja. Menjaga perasaan orang lain, tidak menyakiti sesama makhluk, mematuhi peraturan lalu lintas, tidak membuang sampah sembarangan, itu adalah sebagian contoh dari sekian banyak perintah amar makruf nahi munkar dalam beragama. Bukankah beragama mengajarkan kita untuk berakhlak baik, bukannya menjadi “Tuhan” atas pilihan orang lain.

Seringkali justru saya tidak habis pikir melihat sebagian perilaku orang-orang disekitar saya yang berhijab, tapi tanpa segan memasang foto selfie berdua sama pacarnya di media sosial (pacar ya, bukan suami). Atau menggunakan hijab tapi timbunan lemak dibadan membuncah disana-sini, macam ulat sagu saja. Memang, alasan menggunakan hijab bagi kaum hawa beragam. Ada yang karena niat tulus beribadah, karena lingkungan, karena paksaan atau karena mode/fashion (ekstrimnya, agar terlihat lebih cantik dan fashionable)

Sering saya menyaksikan di jalan raya, orang-orang yang menggunakan (katanya) simbol agama dalam berpakaian, misal: hijab yang selebar-lebarnya atau peci bagi pria, menggunakan kendaraan bermotor tanpa menggunakan helm, atau melanggar lampu lalu lintas. Ironis sekali, bukankah orang yang mengaku beragama dan bangga memakai simbol-simbolnya seharusnya berkewajiban taat terhadap peraturan? Karena peraturan tersebut dibuat untuk kemaslahatan orang banyak. Dengan melakukan tindakan ceroboh tersebut, mereka tidak hanya melanggar hak-hak orang lain, melainkan membahayakan nyawa diri sendiri dan orang lain.

Poinnya adalah, pilihan ber-hijab atau tidak itu adalah pilihan pribadi yang harus dihormati. Perempuan yang memilih untuk ber-hijab silahkan saja, tetapi bukan berarti kedudukannya menjadi jauh lebih suci ketimbang perempuan yang tidak berhijab. Sedangkan perempuan yang memilih untuk tidak/belum berhijab jangan pula serta merta menganggap bahwa yang ber-hijab cenderung hipokrit.

Karena bagi saya masih banyak amalan-amalan baik dalam perintah beragama yang saya lebih nyaman melakukannya, tanpa merasa terpaksa atau dianggap tidak kekinian.

Facebook Comments