Thursday, July 19, 2018
Home > Gaya Hidup > Jalan-jalan > Jam Gadang dan Big Ben, Saudara Kembar Berbeda Ibu

Jam Gadang dan Big Ben, Saudara Kembar Berbeda Ibu

Jam Gadang dan Big Ben, Saudara Kembar Berbeda Ibu

Pijakan kaki kembali menapak di bumi kelahiran Bung Hatta. Langkah santai menuju ke titik nol kota Bukittinggi yang terletak di Pasar Atas. Senja mulai menyapa langit yang cerah. Perlahan-lahan memudarkan warna biru dan putih menjadi kemerahan.

Berkunjung ke jam Gadang di hari Minggu bisa dipastikan akan menemui keramaian. Tak ada sepi meski malam mulai mengganti siang. Sekumpulan manusia dari segala penjuru berkumpul di satu titik untuk melihat megahnya bangunan yang sudah berdiri sejak 1926.

Mungkin tak ada hadiah yang bisa menandingi mahalnya hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker. Hadiah seharga 3.000 gulden merupakan nominal fantastis kala itu. Hadiah itu diberikan dalam wujud Jam Gadang.

Bangunan setinggi 26 meter itu dirancang oleh Yazid Abidin Rajo Mangkuto, seorang berdarah Minang. Namun, loncengnya didatangkan langsung dari Eropa. Hanya ada 2 buah jenis lonceng tersebut di dunia yaitu di Bukittinggi dengan Jam Gadangnya dan di London dengan Big Bennya.

Perajin lonceng itu bernama B. Vortmann yang membuatnya di Jerman. Boleh dikata, lonceng Jam Gadang dan Big Ben dilahirkan dari ayah yang sama dengan ibu yang berbeda. Maksud dari ayah yang sama adalah si pembuatnya, B Vortmann, dan ibu yang berbeda yakni diletakkan di negara yang berbeda. Bagai saudara yang terpisah ribuan kilometer jauhnya.

Di dekat area Jam Gadang, terdapat deretan bendi yang bisa disewa oleh para pengunjung untuk mengelilingi kota Bukittinggi, namun sebatas area sekitar Pasar Atas. Bendi didandani sedemikian rupa supaya para pengunjung tertarik menungganginya.

Toko-toko dan mall berderet mengelilingi setengah area Jam Gadang. Bagi yang lelah memandangi kemegahan Jam Gadang atau berkeliling dengan bendi bisa menuju ke toko atau restoran terdekat. Saya memilih ke salah satu restoran cepat saji di sudut gang. Sebenarnya, sayang sekali karena sudah jauh-jauh berkunjung ke Bukittinggi tetapi makanan yang dinikmati ialah makanan cepat saji yang mudah ditemui di kota besar di seluruh Indonesia. Apa daya, selera sedang tak kompromi dengan makanan khas Bukittinggi.

Azan maghrib berkumandang tepat saat saya menawar sepotong baju bergambar Jam Gadang di bagian dada. Tak perlu lama tawar menawar karena si pedagang hendak menutup lapaknya. Saya mengeluarkan kocek 50 ribu untuk 2 potong baju, ukuran dewasa dan anak-anak. Sepertinya saya tak pandai menawar.

Saya tidak lupa untuk mengabadikan foto melalui kamera handphone. Ada beberapa penjual jasa memotret dan mencetak hasil jepretannya dengan instan, namun saya tidak tertarik. Jepretan dari kamera handphone sudah cukup. Foto itu sudah memperlihatkan bahwa saya pernah menginjakkan kaki di Jam Gadang dan sebagai bukti bahwa itu bukan hoax.

Bangunan setinggi 26 meter itu dirancang oleh Yazid Abidin Rajo Mangkuto
Bangunan dirancang oleh Yazid Abidin Rajo Mangkuto
Salah satu restoran cepat saji di sudut gang
Salah satu restoran cepat saji di sudut gang
Bendi didandani sedemikian rupa supaya para pengunjung tertarik menungganginya
Bendi didandani sedemikian rupa.
Facebook Comments