Tuesday, November 21, 2017
Home > Literasi > Resensi > Sang Pendobrak Zaman: Ulasan tentang Film Kartini Karya Hanung Bramantyo

Sang Pendobrak Zaman: Ulasan tentang Film Kartini Karya Hanung Bramantyo

Sang Pendobrak Zaman: Ulasan tentang Film Kartini Karya Hanung Bramantyo

Saya termasuk salah satu penggemar karya sineas muda Indonesia, Hanung Bramantyo. Meski tidak semua karyanya bagus, namun sebagian besar saya puas dengan keterampilan tangannya dalam membuat film supaya banyak diminati penikmat film bioskop di Indonesia. Ia pun tak sekedar membuat film laris tapi boleh dikata sebagai sineas berideologi. Bukan sekedar sineas bergantung pada pangsa pasar saja.

Beberapa karya Mas Hanung, begitu sapaan akrab lelaki itu, membahas mengenai tokoh bangsa ini. Yang saya ingat benar ialah Sang Pencerah yang menceritakan perjuangan K.H. Ahmad Dahlan, pendiri organisasi Muhammadiyah.

Saya tertarik dengan film Kartini salah satu di antaranya karena pemainnya Dian Sastrowardoyo. Saya yang generasi 90-an tak asing bahkan mengidolakan, namun tak sampai tergila-gila padanya. Ya, semua akibat film Ada Apa dengan Cinta.

Di akun instagramnya, sudah lama memunculkan foto tentang proses pengambilan gambar film Kartini itu. Saya tentu saja menantikan penayangannya yang serentak tanggal 19 April 2017 lalu, 2 hari sebelum peringatan hari Kartini.

Saya menonton sendirian dengan beberapa orang yang hanya memenuhi separuh kursi bioskop lainnya. Mungkin karena hari kerja. Harga tiketnya pun lebih murah, hanya Rp. 35.000 sedangkan akhir pekan mencapai Rp. 50.000.

Meski ada berita tentang sikap Dian Sastrowardoyo yang menepis salah satu tangan fans dan menjadi viral di media sosial, saya tidak terpengaruh untuk mengurungkan niat menontonnya. Yang saya ingin lihat adalah karyanya.

Acting terbaik ada pada Christine Hakim yang terlihat mendalami perannya. Ia begitu fasih mengucapkan bahasa Jawa, padahal ia seorang kelahiran Jambi. Setelah itu, acting Reza Rahardian dengan bahasa Jawanya yang nyaris sempurna.

Sedangkan Dian Sastrowardoyo sendiri ada beberapa pengucapan bahasa Jawa yang tidak sesuai dan ini memperlihatkan bahwa ia belum ahli dalam hal pengucapan bahasa. Seharusnya, ia melakukan kursus bahasa Jawa sebelum pengambilan gambar film ini supaya lebih terlihat profesionalitasnya.

Film ini bermula dari adegan Kartini jalan berjongkok. Lalu menuju pada adegan dipisahkannya Kartini kecil dari sang ibu kandung, Ngasirah yang diperankan oleh Christine Hakim. Tak lama kemudian, adegan pingitan pun berlangsung dari Kartini yang mulai beranjak remaja hingga mulai dewasa.

Tradisi memingit anak gadis itu merupakan siksaan bagi Kartini. Kakaknya, Sosrokartono, mengetahui kegundahan sang adik. Kakak yang diperankan oleh Reza Rahardian itu memberikan sebuah kunci untuk membuka pikiran Kartini.

Sebelum kakaknya pergi ke Belanda guna menuntut ilmu, ia memberi petunjuk mengenai kunci itu untuk membuka sebuah lemari di kamarnya. Tentu saja, Kartini penasaran dengan petunjuk dari kakaknya itu. Rupanya ada deretan buku-buku karangan penulis Belanda yang membuat hati Kartini berbinar dan langsung membacanya.

Kekurangan di adegan ini, tidak ada diperlihatkan proses belajar di sekolah Belanda sehingga Kartini mampu membaca dan menulis bahasa Belanda dengan baik. Tentu itu akan sedikit membingungkan bagi penonton yang belum mengenal benar sosok Kartini.

Selanjutnya, Kartini merasa tercerahkan lagi dari korespondensi dengan kakaknya. Adegan diperlihatkan seolah-olah Sosrokartono berada di dekat Kartini dan bercakap seperti dalam surat yang digenggamnya. Di adegan ini, saya terganggu dengan surat Sosrokartono yang menggunakan huruf Jawa. Menurut saya, Hanung kecolongan karena tulisan Jawa-nya di surat itu terlalu jelek, seperti tulisan Jawa orang masa kini. Saya yang mengetahui karakter tulisan Jawa zaman itu tentu agak kecewa.

Adegan-adegan selanjutnya adalah masa-masa kebebasan Kartini dengan adik-adiknya, Kardinah dan Rukmini. Penulis skenario menyelipkan kata-kata yang dikutip dari biografi Kartini yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer yakni: Panggil Aku Kartini Saja. Di sela-sela adegan itu, ada sesi foto menggunakan kimono. Saya membandingkan dengan foto aslinya, ada kemiripan gaya Dian Sastrowardoyo dengan Kartini, namun ada satu orang yang hilang dari gambar aslinya yang tak ada di film itu. Siapakah dia?

Adegan yang paling menguras emosi dan air mata ialah saat Kardinah dan Kartini menikah. Saya nyaris menitikkan air mata. Betapa menikah dengan paksaan bukanlah hal yang menyenangkan. Kartini pada akhirnya menyerah dengan takdir yang sulit dihindarinya: menikah. Ia menikah di saat beasiswanya dikabulkan oleh pemerintah Belanda dan akhirnya beasiswa itu diserahkan kepada Haji Agus Salim.

Ada beberapa hal yang bisa dipelajari dari menonton film ini, yaitu: pertama, Kartini adalah sosok yang melampaui zamannya. Ia berhasil membuat ukiran Jepara hingga terkenal di negeri Belanda sana dan hingga saat ini kota kelahirannya, Jepara, masih dikenal dengan ukiran kayunya.

Kedua, ia memiliki tujuan mulia dengan mengajak kaum perempuan membaca dan menulis. Sesuatu yang sangat langka dilakukan oleh perempuan bangsawan kala itu. Ketiga, ia seorang penulis handal, terlihat dari karya-karyanya yang diterbitkan di jurnal meski atas nama ayahnya. Karya-karya lainnya dan surat-surat dengan teman-temannya di Belanda merupakan bukti kehandalannya.

Keempat, ia berani mendobrak adat dengan memberikan persyaratan sebelum menikah atau saat ini disebut perjanjian pra-nikah. Perbuatan yang tidak umum kala itu, namun calon suaminya, Djojohadiningrat yang diperankan oleh Dwi Sasono, memiliki pemikiran terbuka dan mau menerima persyaratan itu. Bahkan setelah menjadi suaminya, Kartini bisa mewujudkan cita-cita membuat sekolah perempuan.

Pelajaran dari hidup Kartini itu bisa diterapkan masa kini dengan tidak hanya sekedar menjadikan peringatan hari kelahirannya secara seremonial, tetapi melanjutkan perjuangannya di bidang masing-masing secara maksimal. Meski Kartini merupakan produk pendidikan kolonial Belanda, namun jasanya dengan istilah “emansipasi” yang ditulis dalam salah satu suratnya, membuka tabir gelap menjadi terang bagi perempuan Indonesia. Inspirasi yang luar biasa untuk kaum perempuan Indonesia.

Film ini berhenti pada pernikahan Kartini, tidak sampai pada proses perjuangan Kartini selanjutnya hingga kematiannya. Selain durasi, kemungkinan memilih awal perjuangan merupakan bagian pentingnya. Pokok perjuangan Kartini dari masa pingitan hingga menikah memang perlu diketahui masyarakat sehingga bisa mengetahui keistimewaan Kartini sehingga dijadikan pahlawan dan hari lahirnya diperingati setiap tahun.

 

Facebook Comments