Thursday, July 27, 2017
Home > Dapur Puan > Kuliner > Nuansa Angkringan di Kota Jambi

Nuansa Angkringan di Kota Jambi

Rintik hujan sesekali masih jatuh membasahi jalan, malam belum begitu larut. Saya memarkirkan kendaraan pada sebuah angkringan yang selalu ramai didatangi pelanggannya. Bertempat di depan Kantor Dinas ESDM Jambi, tertulis Cat Rice (Jawa: Sego Kucing) pada terpal merek yang dipasang di sisi pagar.

Suasana redup merupakan ciri khas angkringan, karena hanya diterangi penerangan tradisional lampu teplok yang menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakarnya. Tapi, di angkringan depan ESDM ini penerangannya  sudah menggunakan lampu listrik berwarna kuning, sehingga nuansa redup masih bisa didapat.

Angkringan, berasal dari bahasa jawa yang berarti alat dan tempat jualan makanan keliling dengan pikulan berbentuk melengkung ke atas atau gerobak dorong yang menjual makanan di pinggir-pinggir jalan. Biasanya di pinggir gerobak ada sebuah papan kecil yang berfungsi sebagai meja dan sebuah kursi panjang. Sedangkan Sego Kucing (Nasi Kucing) maksudnya adalah nasi bungkus yang porsinya sedikit (porsi kucing), sehingga biasanya diperlukan 2 atau 3 porsi bagi kita untuk bisa kenyang.

Frans, salah satu pelanggannya menyebutkan, Angkringan bukan cuma tempat makan dan berkumpul. Kerinduannya pada kampung halamannya di Jawa terbayar dengan secangkir teh hangat yang dinikmatinya. Memang hampir disetiap sudut kota di Jawa atau di Yogyakarta dijumpai warung angkringan.

Tonjolkan Suasana Kekeluargaan

Sambil menyeruput susu jahe pesanan, saya berbincang dengan Suprayitno, pemilik angkringan. Laki-laki ini sangat ramah, setelah melayani beberapa pelanggan yang datang dia membuka maskernya lalu menceritakan jika angkringan yang dia miliki berawal dari bisnis anak perempuannya bersama kedua o’om nya yang baru menamatkan kuliah di Yogjakarta.

Dikatakan, Suprayitno, angkringan sudah mulai merambah kota Jambi sejak awal 2012. Namun, bisnis ini tidak seramai diawal pengenalannya, beberapa angkringan tampak tidak terlihat lagi di sudut-sudut jalan. Angkringan depan ESDM ini merupakan angkringan yang masih terus setia melayani pelanggannya.

Awalnya ini bisnis anak saya, mbak, dia itu sekolah di SMK jurusan tata boga, dan ada o’om nya yang baru lulus kuliah, memberanikan berbisnis ini. Anak saya yang masak, o’om nya yang jualan. Tapi, setelah dia lulus dan mulai kuliah, dan o’om nya sudah dapat kerja juga jadi saya dan isteri yang melanjutkan,” ceritanya.

Sebelumnya, Suprayitno bekerja sehari-hari sebagai sopir taksi. Bisnis angkringan ini ternyata telah membuatnya jatuh hati. Terutama pada suasana kekeluargaan yang ada antara dia dan pelanggan.

Di sini kental banget suasana kekeluargaannya mbak. Saya sampai hapal nama-nama pelanggan, rata-rata mahasiswa UNJA. Mereka ada kelompok-kelompoknya, ada anak hukum, anak ekonomi dan kedokteran. Ada juga yang dari kampus lain seperti IAIN,” katanya.

Suprayitno kembali memanggang sate rempelo ati pesanan pelanggan. Dia mengunakan masker untuk menghindari asap dari tungku panggangan. Rosehan, istrinya tampak mengaduk susu jahe yang merupakan minuman andalan angkringan tersebut.

Banyak memang yang pesan minuman jahe, ada susu jahe, teh jahe dan kopi jahe. Kalau ada yang bergadang nonton bareng, pesannya kopi jahe,” sebutnya.

Aneka minuman jahe ini, memang memiliki hangat jahe yang pas. Jahe yang digunakan adalah jenis jahe merah. Suprayitno sengaja memilih jahe ini karena dipercaya sejak dulu berkhasiat menangkal masuk angin.

Kalau masuk angin, badan pegal-pegal resep orang-orang dulu kan dengan minum rebusan jahe merah ini. Saya selalu beli jahe merah ini untuk bahan minumannya,” tambahnya.

Baca juga:

Melewati Senja di CLAVE

Domesteak Café Alternatif Tempat Nongkrong dan Selfie

Merasai Pelbagai Menu Enak di Solaria

Rica-Rica Ceker Ayam Tiada Duanya di Muara Bulian

Attamimi Family, Stand Kuliner Khas Manado Di Jambi

Ramen Berbonus Rice Roll di Ichiban Sushi

Kesegaran Kembang Tahu di Dine & Chat

 

Makanan Murah Meriah dan Bergizi

Tumpukan sate telur puyuh, usus dan rempelo ati berjejer siap dipanggang tak lupa juga kepala ayam, ceker dan aneka gorengan. Tusuk demi tusuk sate telur puyuh telah masuk ke dalam lambung saya, satu bungkus nasi kucing juga telah dihabiskan. Saya melahap dua potong tempe dan tahu sebagai hidangan penutup. Tempe dan tahu ini dipanggang dengan tetesan kecap, membuat rasanya gurih.

Saya bukan bersuku jawa, tapi makanan khas jawa satu ini menurut saya bisa dinikmati penyuka selera nusantara. Cukup bawa uang sepuluh ribu rupiah, nominal itu sudah bisa mengenyangkan perut. Beraneka ragam makanan dan minuman ini hanya berkisar Rp 1.000 – Rp 5.000 saja. Satu bungkus nasi kucing hanya seharga Rp. 3.000, begitupun sate telur puyuh, rempelo ati dan usus. Sementara aneka gorengan, bacem, ceker dan kepala ayam dihargai Rp 1.000 per potong nya. Harga temahal hanya untuk secangkir besar minuman yang dihidangkan, semua minuman yang dijual dipatok Rp 5.000. Untuk ukuran harga makanan di Kota Jambi, bagi saya harga makanan tersebut teramat ramah di kantong.

Meski berharga murah, bisnis angkringan ini ternyata cukup memberikan penghasilan yang luamayan. Setiap harinya, Suprayitno bersyukur dagangannya ludes terjual. Dan dia bisa mengantongi hasil penjualan Rp 600 ribu, hingga Rp 700 ribu. Dengan bisnis angkringan Suprayitno mampu menguliahkan dua anaknya dan dua orang saat ini berada di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama.

Menu Angkringan
Cat Rice (Sego Kucing)
Yuk jalan-jalan gratis, mau?
COMMENTS