Tuesday, November 21, 2017
Home > Gaya Hidup > Jalan-jalan > Hunting Foto Keluarga di Blacksweet Photography

Hunting Foto Keluarga di Blacksweet Photography

Hunting Foto Keluarga di Blacksweet Photography

Malam yang terang memberikan suasana yang menggairahkan bagi para pemudik yang pulang ke kampung halaman. Kerlap-kerlip lampu yang tertempel di kereta sewa dengan aneka bentuk membuat malam semakin semarak. Jalan menuju alun-alun Kebumen pun semakin padat merayap. Tak biasanya kota kabupaten di antara Purworejo dan Banyumas itu mengalami kemacetan.

Malam itu, manusia tumpah memenuhi pusat kota, mencari penghiburan bersama sanak saudara atau sahabat lama. Reuni, silaturahmi, dan berbagi merupakan agenda rutin ritual mudik. Semangat bertemu yang menggebu menjadikan mudik menjadi semakin berarti.

Begitu pula dengan saya yang tahun ini melakukan mudik ke kota Kebumen. Antusiasme untuk bertemu keluarga sungguh di luar duga. Kami pun memiliki rencana berfoto bersama sebagai tanda bahwa kami tak hanya berdua tapi berenam belas. Jumlah yang kelak akan terus berkurang dan berkembang.

Setelah berbuka puasa di rumah makan Samra, simpang empat SMPN 1 Kebumen, kami menuju ke Masjid Kauman yang tak sampai 1 kilometer. Rupanya alun-alun sudah dipenuhi oleh manusia-manusia para pencari bahagia.

Tak banyak studio foto di Kebumen atau penjual jasa fotografi yang memberikan layanan jasa memotret dengan menyediakan aneka background yang cantik lagi menarik. Kebanyakan jasa fotografi terpaku pada pernikahan atau wedding photography. Tersebab acara pernikahan lebih menjanjikan untuk mengeruk pundi-pundi dari bisnis fotografi dibandingkan pesanan memotret keluarga, sahabat, dan wisuda.

Baca juga:

 

Kami pun googling studio foto dengan konsep kekinian dan ketemulah studio Blacksweet Photography yang paling dekat. Setelah Shalat magrib kami pun mengandalkan google map untuk menemukan lokasi studio foto tersebut.

Tak jauh dari alun-alun kota Kebumen, dua mobil melaju ke arah selatan menyeberangi jembatan yang berada di atas Sungai Luk Ulo. Sebenarnya lokasi studio tersebut tidak jauh dari jembatan, tetapi kami sempat salah jalan karena komunikasi dengan mobil satunya salah menunjukkan posisi. Seharusnya disebutkan utara STIE Putra Bangsa tetapi malah tertulis sebelah selatannya. Alhasil saya yang berada di mobil kedua terlalu ke selatan hingga daerah Kedaung. Kami pun kembali lagi ke utara dan memasuki area perumahan Pejagoan. Studio foto tersebut tepat di jalan Flamboyan.

Keluarga yang berada di mobil pertama sudah melakukan tawar-menawar dan disepakati 500 ribu untuk beberapa sesi pemotretan hingga mendapatkan hasil yang memuaskan.

Sebelum kedatangan kami, ada 7 gadis yang datang dari Prembun dan mengalami salah jalan seperti kami, namun lebih parah yakni berputar-putar mencari lokasi hingga 3 jam lamanya. Hanya demi memperoleh jepretan momen kebersamaan dari ikatan persahabatan, mereka rela menempuh aral rintangan. Kami pun terpaksa menunggu sekitar 45 menit lamanya.

Studio ini pada dasarnya tidak menerima jasa pemotretan untuk jumlah lebih dari 10 orang. Akan tetapi, kami sudah terlanjur mendatangi studio tersebut, maka sang pemilik pun bersedia menerima permintaan kami. Sebenarnya, jasa fotografi yang digawangi oleh Mas Feri ini bersedia memotret dengan jumlah orang lebih dari 10, namun bukan di studio melainkan di tempat lain, misalnya di kantor, alam bebas atau tempat lainnya.

Mengantuk menjadi tantangan kami sebelum berfoto karena malam semakin larut dan mata mengajak terkatup. Saat ketujuh perempuan muda selesai diabadikan gambarnya, Mas Feri pun menyediakan properti untuk pemotretan kami. Layar putih diturunkan, 3 kotak diletakkan untuk dijadikan tempat duduk. Mas Feri pun mengarahkan gaya dan sesekali mengatakan: “Katakan cheese atau kuda.” Kami pun serentak berucap: “Kuda.”

Pengambilan foto keluarga selesai tak sampai 1 jam lamanya. Hasil pun bisa diambil pada 10 hari setelahnya. Kami pulang dengan penuh kebahagiaan di malam yang semakin kelam nan penuh bintang-bintang.

Facebook Comments