Tuesday, November 21, 2017
Home > Gaya Hidup > Jalan-jalan > Liburan Murah ke Kebun Raya Bogor

Liburan Murah ke Kebun Raya Bogor

Liburan Murah ke Kebun Raya Bogor

Awalnya saya hendak mengunjungi Museum Gedung Juang 45, namun karena berdebat panjang soal arah dengan teman jalan saya yang memiliki disorientasi arah, maka kami batalkan.

Tak ada rencana jalan-jalan hari ini. Niatnya hanya mengunjungi salah satu teman, tetapi ia membatalkannya padahal kami sudah bersiap. Sayang pula badan yang wangi serta pakaian rapi disiakan. Pergilah kami mengantar paket berisi buku dan pakaian untuk dikirim ke Bobotsari, Purbalingga.

Paket dikirim di Kantor Pos Pasar Kembang Cikini, lalu kami ke taman di depan HDI Menteng. Di situ kami melakukan perdebatan kecil.

“Ya sudah kita ke Istana Bogor aja. Gimana?”

“Iya mau, tapi yang tempat ketemunya Pak Jokowi dengan Pak Obama itu kan?”

“Iya di situ.”

“Bukannya di Bogor adanya Kebun Raya Bogor?”

“Iya itu sekomplek.”

“Ya, udah kita ke sana.”

Teman saya yang belum pernah menginjakkan kaki di Kebun Raya Bogor itu memastikan tempat yang hendak kami tuju. Dia khawatir salah tujuan dan saya tak terlalu khawatir jika salah tujuan. Namanya saja ‘mencari jejak’.

Sembilan tahun yang lalu, saya mengunjungi Kebun Raya Bogor dengan mengendarai mobil kantor tempat saya bekerja dulu. Sudah cukup lama.

Sebelum pergi, tentu saya sudah googling terlebih dahulu jalur commuterline dan angkutan kota ke Kebun Raya Bogor. Ada banyak petunjuk dan saya coba salah satunya.

Pukul 10.15 WIB, kami naik KRL dari Stasiun Cikini ke Stasiun Bogor. Biayanya sangat murah untuk perjalanan sekitar 1,5 jam yaitu Rp. 6.000/orang untuk satu tujuan. Kereta yang kami naiki tak seramai kereta menuju kota di pagi hari.

Tersebab saya mengetahui mobilitas tertinggi kereta terjadi di pagi hari dari arah Bogor ke Jakarta dan sore hari dari Jakarta ke Bogor, maka saya merasa yakin tidak akan terjebak oleh desak-desakan yang menyakitkan di dalam kereta. Saya menyebut orang-orang yang berdesakan di commuterline layaknya tusuk gigi yang berada dalam wadahnya, nyaris tanpa celah.

Sesampainya di Stasiun Bogor, kami menuju ke arah jalan Mayor Oking lalu ke kiri menuju jalan Kapten Muslihat. Di situlah berderet angkutan kota ukuran kecil berwarna hijau. Pilihlah yang tertera nomor 02 dengan jurusan Sukasari.

Untuk mencapai pintu gerbang pertama Istana Bogor yang di halamannya terdapat ratusan kijang yang berasal dari Bangladesh, maka tak perlu naik angkutan. Cukup jalan kaki sekitar 1 kilometer. Lain halnya bila ingin menuju pintu gerbang Kebun Raya Bogor, maka mau tak mau harus naik angkutan umum. Jika tidak, bisa dipastikan kaki akan gempor sebelum mengelilingi Taman Botani tersebut.

Baca juga:

 

Memang lebih enak mengendarai mobil pribadi untuk mengelilingi kompleks tersebut, tetapi bagi wisatawan bermodalkan dua kaki seperti saya ini, sebaiknya menghemat tenaga.

Ada dua pintu gerbang di Kebun Raya Bogor, sebelah kanan untuk para pejalan kaki dan sebelah kiri untuk pengendara mobil dan sepeda motor. Kami memilih ke kanan supaya tak kena sembur satpam. Sebelum membayar tiket, saya memotret pintu gerbang berdiri megah dan kokoh itu.

pintu gerbang pertama Istana Bogor
Pintu gerbang pertama Istana Bogor

Rupanya tiket wisatawan domestik dan wisatawan asing dibedakan. Saya jadi bertanya-tanya. Mengapa harus dibedakan? Bukankah ada juga wisatawan asing yang kere? Ah, saya ini terlalu usil berpikirnya.

Bagi wisatawan domestik dikenai Rp. 15.000/orang dan bagi wisatawan asing dikenai Rp. 25.000/orang. Untungnya saja kami wisatawan domestik, jadi hanya membayar dengan jumlah Rp. 30.000/2 orang. Tiket tersebut sudah termasuk Museum Zoologi tetapi belum termasuk mini bus keliling. Apabila ingin mengelilingi Kebun Raya Bogor tanpa rasa betis naik, maka bisa menyewa mini bus dengan harga Rp. 25.000/orang. Akan sangat puas melihat seluruh penjuru Kebun Raya Bogor tentunya.

Kami memilih untuk memanfaatkan sepasang kaki masing-masing. Puluhan kilometer kami lalui. Sungguh kenekatan yang luar biasa buat saya yang baru saja melakukan operasi tulang belakang.

“Oh, jangan khawatir. Alarm di tubuh bisa memberi tahu saat harus beristirahat,” begitu jawaban saya saat teman ‘mencari jejak’ itu bertanya.

Teman saya itu mengenal banyak tempat wisata di Jakarta karena saya. Biarpun saya tak lagi mengenal transportasi di ibukota ini, namun jiwa petualangan saya menuntun ke arah tujuan.

Don’t worry. Sekarang bukan jamannya peta buta, tetapi google map. Kemungkinan kecil akan salah jalan.”

Zaman sudah berubah. Seiring maraknya travelling, tulisan-tulisan para blogger pun berserakan. Tinggal klik salah satunya. Mana yang suka dan bisa dipercaya. Ada banyak tempat indah di Indonesia, mengapa kita hanya diam di rumah bagai katak dalam tempurung?

Pertama-tama yang kami kunjungi ialah area belakang Istana Bogor. Sayang sekali akses menuju ke sana melalui Kebun Raya Bogor ditutup, maka kami hanya berpuas hati melihat gedung tempat bertemunya Presiden Joko Widodo dan mantan presiden Amerika Serikat, Barack Obama, pada 30 Juni 2017.

Area belakang Istana Bogor
Area belakang Istana Bogor

Kemudian, kami menuju ke arah Jembatan Merah atau Jembatan Gantung. Beberapa potret saya abadikan. Anehnya, teman saya tak bisa mengabadikan potret jembatan yang memiliki mitos tersebut saat di depan jembatan tersebut. Tiga kali kami memastikannya dan tiga kali pula telepon genggam teman saya mati seketika saat dipencet untuk memotret.

“Sudah jelas itu ada penghuninya,” saya bercanda.

Lalu kami menuju Pohon Jodoh dan berfoto di sana. Ada kejadian lucu saat kami swafoto. Sepasang perempuan muda berkata: “Gimana kita mau berfoto, kita jomblo.”

Saya tertawa saat teman menceritakan kejadian itu. Pohon jodoh hanya istilah saja bukan nama sebenarnya dari kedua pohon yang menjulang tinggi itu. Pohon tersebut tumbuh sejajar dengan jenis yang berbeda, karenanya untuk menarik perhatian pengunjung, kedua pohon tersebut dinamai pohon jodoh.

Pohon jodoh

Saya berharap dengan menyatukan pohon itu dengan tangan kami, hubungan menjadi semakin erat hingga beranak-cucu dan maut memisahkan. Tiba-tiba kami jadi melankolis begitu. Memangnya kami sedang pacaran? Ya, begitulah.

Sepanjang jalan kami memang sering bergandengan tangan dan saat melihat beberapa pasangan muda-mudi, saya berbisik kepadanya: Sudah halal kah?

Saya ini memang usil hanya dalam pikiran saja.

Sesekali kami berhenti untuk istirahat karena kaki mulai goyah. Istirahat di depan toilet, istirahat di simpang jalan, istirahat makan ice cream dan istirahat memakan sosis bakar. Ice cream harganya Rp. 3.000/cup dan sosis bakar harganya Rp. 7.000/buah. Kami membeli 2 cup ice cream dan 3 buah sosis bakar. Total uang yang kami belanjakan Rp. 30.000.

Alangkah lebih murahnya lagi liburan ke Kebun Raya Bogor ini jika membawa makanan sendiri seperti yang dilakukan beberapa keluarga yang kami temui di sana. Sehat perut sehat kantong. Tak perlu dompet terkuras sampai kosong.

Nyaris lupa, saya tak berani melewati Jembatan Merah padahal teman sudah mendesak. Bukan terpengaruh mitos bahwa hubungan laki-laki dan perempuan akan kandas setelah melewati jembatan itu, tetapi karena saya takut ketinggian. Berarti, saya terbebas dari mitos itu.

Jembatan Merah atau Jembatan Gantung
Jembatan Merah atau Jembatan Gantung

Apabila saya melewati jembatan itu, maka akan cepat sampai di area Teratai Raksasa dan Griya Anggrek. Saya memilih untuk melintasi kembali jalan yang sama saat menuju Jembatan Merah dan Pohon Jodoh. Tak disangka, sepanjang jalan menuju kedua tempat itu ada kompleks makam keramat. Saya mengajak untuk menunaikan ibadah salat di situ.

“Ah, salat kok di makam,” teman saya menolak.

Komplek Makom Keramat
Komplek Makom Keramat

Akhirnya kami melanjutkan menuju kompleks taman Teratai Raksasa yang di sana berdiri sebuah tugu yang baru saja ditegakkan yaitu Tugu Dua Abad Kebun Raya Bogor. Rupanya kebun itu telah berusia 200 tahun. Saya tak menyiakan momen ini untuk mengabadikan gambar tugu itu.

Taman Teratai Raksasa
Taman Teratai Raksasa

Sungguh wajah Kebun Raya Bogor saat ini sudah jauh berbeda dari saat pertama kali saya mengunjunginya. Lebih tertata rapi. Sembilan tahun lalu, saya tak merasakan chemistry pada pemandangan Kebun Raya Bogor yang kesannya tak terawat. Saya jadi penasaran, siapakah presiden yang memerintahkan untuk mempercantik Kebun Raya peninggalan Gubernur Jenderal Stamford Raffles itu? Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau Presiden Joko Widodo? Maaf, saya sedang malas untuk googling. Mungkin Sahabat Puan bisa membantu?

Kunjungan saya kali ini sangat puas dengan ‘wajah baru’ Kebun Raya Bogor. Terlebih lagi, untuk mencapai ke sana, saya hanya perlu merogoh kocek Rp. 20.000/orang untuk transportasinya. Tak sampai 100 ribu, kami mengeluarkan uang. Bukankah itu liburan yang murah meriah?

Sahabat Puan ingin mencobanya? Ayo buruan sebelum habis liburan sekolah tahun ini.

Facebook Comments