Saturday, October 20, 2018
Home > Gaya Hidup > Jalan-jalan > Ada Tangan “Dewa” di Tempat Wisata ini

Ada Tangan “Dewa” di Tempat Wisata ini

Tangan dewa

Kalau bicara tentang ikon wisata Kabupaten Muaro Jambi, pasti yang terlintas langsung Candi Muaro Jambi. Tidak banyak orang yang tahu, baru-baru ini ada tempat nongkrong paling kekinian sebelum menuju kawasan percandian. Konon katanya, di tempat ini terdapat dua pasang tangan “Dewa” yang fotonya ramai berseliweran di media sosial.

Tentu saja ini memantik rasa penasaran saya untuk mendatangi kawasan wisata tersebut.  Tidak sulit untuk mencapai lokasi tempat wisata yang dikenal dengan Pondok Lubuk Penyengat, Desa Baru, Kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi ini. Dibutuhkan waktu hampir 45 menit dari pusat kota jika melalui Jembatan Aurduri I. Saran saya, jika Sahabat Puan akan mengunjungi objek wisata ini bisa memilih alternatif jalan lain, yaitu melalui Jembatan Aurduri II karena kondisi jalannya jauh lebih baik dibandingkan jalan melalui Jembatan Aur duri I.

 

Tangan Dewa
Tangan Dewa

 

Lahan seluas hampir 1 hektar ini disulap dengan berbagai ornamen berbau tradisional terbuat dari bahan rotan dan bambu.  Paling mencolok di sisi kanan dan kirinya terdapat dua pasang tangan menjulang ke langit. Bagi para pengunjung yang ingin berfoto pada tangan tersebut, harus menaiki tangga setinggi 2 meter dan tidak diijinkan lebih dari 2 orang. Tangan tersebut dikenal dengan julukan tangan “Dewa”.

Menurut Jaharudin, Anggota Komunitas Muaro Dano yang menggagas adanya kawasan wisata ini, ternyata makna adanya tangan yang terdapat di tempat wisata tersebut adalah sebuah usaha dan kerja keras. “Tangan yang kami buat ini awalnya satu tangan di sisi kiri. Ini maksudnya, dengan tangan satu saja kami sanggup berbuat. Dan tangan-tangan ini juga memiliki makna filosofi sebuah usaha keras dan kerjasama untuk mewujudkan cita-cita,” jelasnya.

Jaharudin menyebutkan, ide membangun kawasan wisata sudah digulirkan sejak Februari 2017, akan tetapi baru bisa launching bertepatan di hari ketiga Idul Fitri. “Kami awalnya cuma berniat membersihkan sungai yang kebetulan dilintasi kanal-kanal kuno. Kami juga ingin Desa Baru ini menjadi tempat wisata, bukan hanya tempat lewat masyakat ke candi yang selama ini kami dapat debu. Akhirnya setelah mendapat bimbingan dari Bang Misran, kami bergotong rayong untuk membuat pondok dan semua ornamen,” tambahnya.

Spot untuk berfoto
Spot untuk berfoto

Selain dua ornamen tangan “Dewa” terdapat juga bentuk lain seperti topi, sandal, tengkorak, botol-botol yang terbuat dari bahan rotan dan  bambu. Ada yang paling menarik, sebuah anjungan setinggi empat meter yang biasa digunakan untuk melihat pemandangan semua lokasi dan juga mengambil spot foto yang menarik dari atas.

Tempat ini dikatagorikan dalam wisata minat khusus, karena lokasi ini memang menampilkan beberapa spot foto bagi selfi mania. Masih banyak potensi yang seharusnya bisa digarap di tempat ini. Sungai yang berada di pinggir lokasi, juga bisa menjadi daya tarik lainnya bagi pengunjung. Namun, mereka belum bisa berbuat banyak karena terkendala dana untuk membersihkan sungai tersebut. Sungai ini juga mengitari kawasan percandian dan bermuara pada Sungai Batanghari. Terdapat beberapa kayu ukuran besar dan enceng gondok menutupi permukaan sungai.

“Selama ini kami bergotong royong untuk membuat ornamen, termasuk membersihakan sungai. Pemerintah masih belum mendukung untuk mengembangkan tempat wisata ini. Kami memerlukan alat berat untuk membersihkan sungai dengan jangkauan yang lebih luas lagi,” ujarnya.

Jika lapar, di Pondok Lubuk Penyengat juga disediakan berbagai penganan lokal, di antaranya cegau ubi, lempeng togok, dan cenget rotan. Cegau ubi, berbahan dasar ubi kayu yang diolah dengan digoreng tapi menggunakan minyak yang sedikit, begitupun dengan lempeng togok, hanya saja jenis ini berbahan dasar pisang. Pisang yang digunakan jenis pisang ulin dan dibaluri sedikit tepung. Sehingga hasil gorengannya menyerupai dipanggang. Sedangkan cenget rotan, adalah olahan gulai pucuk rotan, dan tidak setiap hari ada, tergantung pesanan pengunjung.

Sungai yang berada di pinggir lokasi
Sungai yang berada di pinggir lokasi

Pondok Lubuk Penyengat ini sudah bisa menyedot 3000 hingga 4000 pengunjung setiap minggunya. Lokasi wisata ini juga sudah menyerap tenaga kerja dari desanya dan memberikan sumbangsih pada pemasukan desa. Soal harga, untuk memasuki kawasan wisata lubuk penyengat cukup dengan membayar Rp 3 ribu untuk orang dewasa. Sementara anak-anak tidak dipungut biaya. Bagi Sahabaf Puan yang membawa kendaraan roda dua dan empat, kendaraan akan aman karena mereka juga menyediakan area parkir dengan tarif Rp 2 ribu untuk kendaraan roda dua dan Rp 5 ribu untuk kendaraan roda empat.

Facebook Comments