Tuesday, October 16, 2018
Home > Literasi > Pendidikan > Dina Adelya Pamerkan Textile Art Bertema Jambi di Ajang Internasional

Dina Adelya Pamerkan Textile Art Bertema Jambi di Ajang Internasional

Dina Adelya Pamerkan Textile Art Bertema Jambi di Ajang Internasional

Sebuah karya textile art bertemakan batik Jambi dengan judul “Sore Membatik” dipamerkan pada special section BEKRAF Emerging Artist, saat festival seni rupa internasional terbesar di Indonesia yang diadakan oleh BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif) Indonesia, Art Jakarta dan Harper’s Bazaar Magazine 27-30 Juli 2017 lalu, di Grand Ballroom The Ritz Carlton Jakarta Pacific Place.

Textile Art berjudul “Sore Membatik” merupakan karya Dina Adelya, mahasiswa Universitas Negeri Semarang, jurusan Seni Rupa yang telah menyelesaikan tugas akhirnya. Sore Membatik merupakan salah satu karyanya dari 12 karya textile art yang dibuatnya untuk memenuhi pameran tugas akhir di kampus. Duabelas karya itu diciptakan khusus mengusung tema tentang Jambi dalam textile art.

Ketika BEKRAF membuka call for artist untuk menyeleksi karya-karya seniman muda di seluruh Indonesia, “Sore Membatik” karya Dina ternyata terpilih dan lolos kurasi untuk dipamerkan. Dina termasuk dari 45 orang seniman muda yang terjaring ajang festival ini  untuk mewakili provinsi Jambi, dari 470 lebih peserta yang mendaftar.

Sore Membatik merupakan karya textile art yang bercerita tentang masyarakat Seberang Kota Jambi (Sekoja). Masyarakat Sekoja identik dengan mata pencaharian sebagai perajin batik Jambi. Tampak pada karya textile art Dina, beberapa perempuan yang menggunakan baju kurung dan tengkuluk tengah melakukan kegiatan membatik di beranda rumah, sedangkan beberapa laki-laki yang menggunakan kain sarung dan teluk belango tengah bermain kompangan.

Keunikan karya Dina ini yaitu pada proses pengerjaannya. Karena textile art merupakan karya seni rupa yang diciptakan dengan menggunakan bahan material dari textile seperti kain, serat kain dan sejenisnya, maka demikian juga dengan karya Dina. Ia menggunakan kain sepenuhnya dengan penekanan pada motif batik Jambi. Dina mewujudkan karyanya dengan menjahit manual menggunakan tangan satu persatu (handmade skill). Padahal jika dilihat hasilnya tergolong rumit dan detail.

Di banderol dengan harga Rp. 5.000.000, “Sore Membatik” laku dibeli oleh bule Perancis yang tengah mengunjungi pameran tersebut. Dina pun senang karyanya diapresiasi di ajang yang baru pertama kalinya diikuti ini. Dina berharap, ajang pameran ini merupakan pijakannya untuk berkarya dan memamerkan karyanya lebih lanjut di ajang serupa.

"Sore Membatik" laku dibeli oleh bule Perancis yang tengah mengunjungi pameran tersebut.
“Sore Membatik” laku dibeli oleh bule Perancis.

Sosok Dina Adelya yang menyukai drama Korea dan memimpikan dapat kuliah ke luar negeri untuk lebih mendalami textile art, bukan merupakan sosok yang asing dengan Jambi. Lahir di Blora pada 1991, anak pertama dari tiga bersaudara ini cukup lama tinggal di Jambi, dari sejak kecil hingga SMA. Almarhum ayahnya yang seorang dokter dan ditugaskan di Jambi yang memperkenalkan Dina tentang Jambi. Ibunya sendiri merupakan seniman kain perca di Jambi yang terkenal dengan label Iko Batik dan memasarkan hasilnya berupa tas, dompet dan sejenisnya dengan bahan kreasi kain perca.

Facebook Comments