Monday, August 20, 2018
Home > Literasi > Cerita > Kabar Buruk

Kabar Buruk

Kabar Buruk

Aliara keluar hendak mengangkat jemuran di halaman samping, matanya menangkap kerumunan orang-orang di rumah sebelah yang tidak berpagar. Di halaman depan rumah bercat kuning itu sudah berdiri tenda yang menandakan kemalangan. Ia sedikit terkejut karena tidak tahu menahu perihal yang menimpa tetangga dekatnya itu.

Mengurus si kembar telah menyita semua perhatian Aliara. Fatma yang biasanya membantu, pamit pulang ke orang tuanya Sabtu kemarin. Gadis yang cukup cekatan mengurus bayi kembar di usianya yang sangat muda itu telah menyimpan gajinya untuk membeli sepeda motor matik, tentunya secara kredit.  Ayah Fatma membeli sepeda motor temannya yang sudah ditutup angsuran selama setahun oleh sang teman. Sialnya teman ayah Fatma ternyata bermasalah dengan pihak kreditur. Karena perihal itulah, Fatma pulang selama dua hari. Si kembar menjadi tanggung jawab Aliara sepenuhnya.

Sebagai ibu muda, Aliara sangat bahagia mengurus kedua bayinya. Hanya saja bila sendirian di rumah, ternyata cukup merepotkan juga. Sementara sang suami bekerja di kota lain. Kalau tidak keluar tadi, ia pasti tidak meyadari kedatangan orang-orang ke rumah Kak Rangkuti, perempuan Batak yang dikawini Bang Burhan. Anehnya para tetangga malah memanggil marganya saja, bahkan Aliara tidak tahu pasti nama asli perempuan itu.

“Dek, ada apa ramai-ramai?” tanya Aliara pada gadis berjilbab merah pupus yang berdiri di dekat tenda.

“Ibeunu tenggelam, jenazahnya baru saja diketemukan.”

“Ibeunu?”

Gadis itu kembali mengangguk prihatin.

Baru tadi pagi Ibeunu, putra bungsu Kak Rangkuti berpapasan dengan Aliara di  halaman rumah. Sambil membenarkan letak pecinya, anak yang baru berumur tiga belas itu menegurnya.

“Kak Aliara, kau mau mie Aceh kepiting? Nanti malam kubawakan untukmu.”

***

Suara tangisan Zana membuat Aliara beranjak masuk kembali ke dalam rumah yang dikontraknya dua tahun lalu itu. Meninggalkan jemuran yang masih melambai di halaman samping. Wajah Zana seperti terong karena menangis menjerit-jerit. Sepertinya bayi perempuan itu  pup. Zane yang masih tertidur ikut terbangun. Mungkin inilah keruwetan lain dari memiliki anak kembar.

Aliara membawa Zana ke kamar mandi untuk dicebokin. Putri yang lima menit lebih dulu dilahirkan itu memang lebih cengeng dari adiknya. Kalau ia menggendong Zane, anak itu biasanya langsung menangis cemburu. Mungkin inilah yang disebut kepekaan kanak-kanak. Aliara menajamkan telinga, masih terdengar celoteh Zane dari dalam ayunan. Itu cukup melegakan hati. Ia memandikan putri sulungnya terlebih dahulu.

Sementara sebagian pikirannya telah berlari ke rumah sebelah. Pada Ibeunu yang mati tenggelam. Mungkinkah anak itu mandi di laut? Tangisan Zana membuat Aliara tidak bisa mencari informasi lebih lanjut perihal kematian tragis putra bungsu tetangganya itu.

Selesai memandikan Zana, ia letakkan anak itu di atas kereta sorong bayi, kemudian mengambil Zane dari ayunan. Zana langsung menangis begitu ditinggalkan sang ibu. Aliara berusaha meneguhkan hati untuk memandikan putri yang satunya. Di saat seperti ini, ia berharap Syahdan ada bersamanya untuk membesarkan kedua putri mereka. Hidup memang tidak selalu memberi pilihan yang kita inginkan. Setelah kedua putrinya dipakaikan baju bermotif kupu-kupu lengkap dengan cibi-cibi di kepala, Aliara menyingkap gorden jendela.

Tamu semakin banyak berdatangan di rumah sebelah. Kemudian telepon genggamnya berdering. Ternyata Fatma yang mengabarkan kalau ia telah ditipu teman ayahnya. Sepeda motor itu telah dua bulan tertunggak bayarannya. Sore itu dua kabar buruk hinggap di telinga Aliara. Sementara malam mulai menurunkan tabirnya.

***

Air yang terlihat hijau di siang hari itu kian menggoda remaja lelaki yang kecapaian sehabis bermain bola. Remaja itu kembali menelan ludah, membasahi kerongkongan yang serasa kering. Ia dan tiga orang temannya baru saja selesai bermain bola di punggung bukit itu. Sebenarnya itu bukanlah lapangan bola yang sesungguhnya. Melainkan halaman perkantoran yang sunyi pada hari libur. Mereka memanfaatkan itu untuk bermain bola. Dan kolam yang terlihat hijau dengan airnya yang sejuk merupakan kolam buatan yang sering dijadikan tempat pemancingan orang kantor pada sore hari minggu. Setelah sebelumnya mereka letakkan ribuan bibit ikan di sana. Kolam itu tepat berada di kaki bukit yang dikelilingi jalan menuju perkantoran di atasnya.

Remaja itu terus memandang ke dalam air yang hijau, sebelum mulutnya berceracau mengajak teman-teman untuk mandi di tempat sejuk itu. Sepakat mereka berlari melompat ke dalam kolam. Dinginnya air menyegarkan seluruh urat saraf. Sebagai remaja yang tinggal di daerah pesisir, tentu mereka sangat mahir berenang. Remaja lelaki itu, bersama ketiga temannya telah berhasil menyeberang kolam dalam waktu sangat singkat.

Tak puas sampai di seberang, ketiganya berbalik untuk berenang kembali ke tempat mereka pertama turun. Matahari di atas menyengat kepala. Pohon-pohon mahoni yang ditanam di pinggir kolam masih terlalu kecil untuk menaungi tempat tersebut. Begitu tiba di tengah, bocah itu merasakan ada yang lain dengan air kolam, sebelum kemudian ia merasakan urat kakinya kaku tak mampu digerakkan lagi. Tangannya menggapai-gapai mencoba mencapai teman yang berada di sampingnya. Sebelum kemudian menyerah pada air hijau yang memiliki kedalaman tiga meter itu.

Kolam buatan yang seharusnya menjadi tempat bersenang-sengang itu telah memakan mentah-mentah sebuah jiwa yang baru saja memiliki hasrat untuk terus tumbuh. Kematian menjemput tanpa surat pemberitahuan sebelumnya.

***

Aliara melirik jam di dinding kamar ketika tangisan Zana di ayunan membangunkannya. Jarum pendek menunjukkan angka satu, sementara jarum panjang menunjukkan angka tiga. Jangkrik terus bermain musik di luar rumah menjadi irama tak teratur yang terkadang memekakkan telinga. Setelah membuat susu untuk Zana, giliran Zane bersuara. Perempuan itu kembali membuat susu untuk sang putri kedua.

Yang terjadi kemudian, tangan kiri perempuan itu mengayun Zana, tangan kanan mengayun Zane sambil terkantuk-kantuk. Setelah kedua putrinya tertidur, kebutuhan lain terasa mengusik Aliara. Sambil mengucek mata ia menuju kamar mandi. Alam menjadi hening. Jangkrik-jangkrik itu telah berhenti bernyanyi. Aliara membenci kesunyian yang mendadak itu.

Begitu berjalan ke kamarnya, mata Aliara menangkap sesosok berpeci menatap ke luar jendela besar di ruang tamu sambil membelakanginya. Perempuan itu terkejut, rasa kecut menjalari seluruh tubuhnya. Ia kenal betul postur yang kini membelakanginya itu.

“Kak ini mie kepiting yang kujanjikan tadi.” Sosok itu berbalik meletakkan sebuah bungkusan berplastik hitam di atas meja tamu.

Aliara mundur beberapa langkah. “Tidak, itu bukan kamu. Ibeunu telah meninggal tenggelam.”

Remaja itu tersenyum, “Lain kali kalau sendirian di rumah, Kakak jangan lupa mengunci pintu,” ujar Ibeunu sambil menuju pintu. “Aku pulang dulu, ya Kak.” Ia membuka pintu yang tidak terkunci itu meninggalkan Aliara yang masih terkesima. Dengan cepat perempuan itu menuju pintu dan menutupnya. Tak dilihatnya lagi kepergian Ibeunu dalam gelapnya malam. Kejadian barusan cukup memacu adrenalin.

Segera ia bergegas ke kamar, dipandangi kedua putrinya bergantian. Dicubitnya lengan kiri, terasa sakit. Hendak mengintip tenda kemalangan di rumah tetangga, tidak memiliki cukup keberanian untu keluar kamar. Ia mulai berprasangka sedang bermimpi saat mendengar kabar kematian Ibeunu tadi sore. Sosok Ibeunu tadi membelakanginya dan tidak ada lubang menganga di punggung. Hantu dan sejenisnya mempunyai lubang di punggung dan menghindari membelakangi kita.

Jangkrik kembali berbunyi di luar rumah, bersamaan itu hand phone-nya juga berdering, memutuskan segala lamunannya tentang teka-teki kematian Ibeunu.

“Nyak, yang sabar ya. Bang Syahdan masuk rumah sakit. Ia sakit keras,” suara cemas ibu mertua di seberang ibarat seribu jarum menusuk dada Aliara.*

 

Ida Fitri, lahir di Bireuen 25 Agustus. Sekarang bekerja di Dinkes Kab. Aceh Timur. Cerpen-cerpennya pernah terbit di Koran Tempo, Republika dan media lainnya. Buku kumcernya berjudul Air Mata Shakespeare (2016)

Facebook Comments