Wednesday, August 15, 2018
Home > Literasi > Opini/esai > Kado Ultah dari Malaysia

Kado Ultah dari Malaysia

Tragedi terbaliknya pencetakan bendera merah putih
Rini Febriani Hauri
Rini Febriani Hauri, seorang perempuan yang bersembunyi di tubuh wanita. Pernah gagal memakai sepatu Lars di usia balita – penulis tidak benci dengan kegagalan.

Tragedi terbaliknya pencetakan bendera merah putih di halaman ke-80 dalam buku suvenir Sea Games ke-29 tahun 2017 yang dilakukan oleh Malaysia, mengisahkan kepiluan tersendiri di hati masyarakat Indonesia. Bendera tersebut tercetak menjadi putih merah. Padahal, warna putih merah merupakan bendera negara Polandia. Apakah di mata Malaysia, Indonesia adalah Polandia?

Padahal, jika ditinjau dari letak geografis, Malaysia tidaklah jauh dari Indonesia. Bahkan negara Indonesia dan Malaysia masih berada dalam satu rumpun yang sama. Seharusnya, posisi inilah yang kemudian dipahami oleh pihak penyelenggara agar peka terhadap hal-hal yang sangat prinsipil. Ini sebuah keteledoran yang melukai hati rakyat Indonesia.

Atas insiden tersebut, Kemenlu Malaysia, Dato Sri Anifah Haji Arman, telah melayangkan permohonan maaf secara tertulis kepada pemerintah Indonesia. Ia sangat menyesalkan kesalahan yang tak disengaja itu. Dalam jumpa pers terkait masalah ini, di Hotel Shangrilla, Kuala Lumpur (20/8),  Menteri Belia dan Sukan (Menpora) Malaysia, Khairy Jamaluddin,  duduk bersebelahan dengan Menpora Indonesia, Imam Nahrawi. Ia memohon maaf secara langsung kepada rakyat Indonesia dan menjelaskan kesilapan yang memang dilakukan oleh timnya. Khairy menjelaskan bahwa ke depan, timnya akan lebih menjunjung tinggi profesionalisme dan berhati-hati. Wajah Imam Nahrawi yang memerah dan keningnya yang beberapa kali mengerut  saat itu menunjukkan bahwa beliau memendam kekecewaan yang mendalam.

Lain pula dengan Wapres Indonesia, Jusuf Kalla (JK), beliau berharap setelah adanya kasus ini, hubungan bilateral antara Indonesia dan Malaysia tetap akan berjalan baik. Jokowi pun telah memafkan pihak Malaysia sebab mereka telah meminta maaf. Jokowi juga mengimbau masyarakat Indonesia agar tidak reaksioner terhadap tragedi yang menimpa Indonesia.

Bisa dibayangkan, suvenir buku Sea Games yang memuat terbaliknya bendera negara Indonesia diberikan kepada tamu-tamu kehormatan se-ASEAN. Bukankah ini merupakan pukulan telak bagi Indonesia? Bukankah ini sangat menciderai martabat bangsa Indonesia? Menpora Imam Nahrawi dengan tegas meminta agar buku tersebut stop diedarkan. Menpora Malaysia mengatakan bahwa pihaknya akan memperbaiki dan mencetak ulang buku tersebut di percetakan baru yang ia pastikan bahwa bendera Indonesia adalah merah putih.  Ia juga akan mengantarkan buku baru tersebut kepada tamu-tamu kehormatan se-ASEAN.

Penyesalan memang selalu datang terlambat. Meskipun permohonan maaf telah dilayangkan dan tindak lanjut telah digalakkan, tetap saja permasalahannya tidak sesederhana itu. Sebab ini menyangkut harga diri dan identitas suatu bangsa. Bukan hanya Menpora Imam Nahrawi dan seluruh elite politik saja yang kecewa, melainkan masyarakat dunia yang mencintai Indonesia. Meskipun tidak disengaja, bukankah ini sebuah penghinaan? Bukankah tindakan ini merendahkan bangsa Indonesia? Bagaimana  seandainya bila bendera Malaysia yang dicetak terbalik oleh Indonesia? Dengan berat hati, kenyataan pahit memang harus ditelan mentah-mentah.

Momen kemerdekaan yang selalu dirayakan oleh rakyat Indonesia di pertengahan hingga akhir Agustus tiap tahunnya, justru menambah kecintaan dan jiwa nasionalis yang mendalam. Apakah kejadian ini merupakan kado spesial atas perayaan kemerdekaan RI ke-72? Lalu, tindakan apa yang dilakukan masyarakat Indonesia atas terjadinya permasalahan ini? Meski RI 1 mengimbau agar masyarakat tidak reaksioner, namun kenyataannya berbeda. Sebagian masyarakat Indonesia yang tengah merayakan kemerdekaan sekaligus memendam kekecewaan melakukan aksi-aksi balas dendam berupa hal-hal konyol.

Misalnya saja, buntut dari tragedi tersebut, sebanyak 27 website Malaysia diretas oleh Hacker Indonesia sehingga setiap halaman webnya berkumandang lagu “Indonesia Tanah Air Beta” disertai amukan kemarahan  bertuliskan “Bendera Negaraku Bukanlah Mainan” dengan balutan warna merah putih. Hingga kini memang belum diketahui siapa pelakunya. Namun, pantaskah aksi balas dendam ini dilakukan? Apakah sikap seperti ini sudah sesuai dengan pancasila?

Selain itu, dari akun Instagram Ngakak Kocak terdapat video seorang warga solo yang memasang bendera Malaysia secara terbalik di bagian belakang dan bagian depan mobil sedannya. Ukuran bendera tersebut lumayan besar sehingga sangat jelas terlihat. Sementara bendera Indonesia dipasang secara benar di bagian kiri mobil bertulisakn 29th Sea Games 2017. Pemuda tersebut kemudian melakukan aksi keliling kota Sola dengan mengolok-olok bendera Malaysia. Video dengan 1 juta viewer tersebut menuai komentar yang kontroversi. Bukankah video ini bisa menjadi pemicu atau propaganda agar terjadi disintegrasi Indonesia-Malaysia? Semoga tragedi ini tidak berpengaruh pada kondisi psikis para atlet Indonesia yang tengah berjuang di negeri Jiran.

Selain itu, di sosial media pun ada juga  masyarakat yang mengolok-olok Malaysia melalui status atau bahkan Meme comic.  Memang, ini salah satu bentuk apresiasi terhadap tragedi Sea Games yang menimpa Indonesia. Akan tetapi, bukankah ini merupakan sesuatu yang berlebihan? Yang menjadi miris, beberapa artis asal Malaysia yang jaya di Indonesia juga kena imbasnya. Sebut saja Miller Khan, Ashraf Sinclair (Suami BCL), dan kalangan pengusaha yang juga calon teman hidup Laudya Cyntia Bella – Engku Arman. Akun instagram mereka pun diserbu warganet dengan komentar yang tidak menyenangkan. Padahal, apa salah mereka? Apakah tindakan semacam ini dibenarkan?

Sahabat Puan, sesakit apa pun perasaan kita, bila pihak yang menyakiti tulus meminta maaf kepada kita, apakah ajang balas dendam masih merupakan jalan terbaik? Semoga kita bisa berpikir jernih. Sesulit apa pun menerima kenyataan, berlapang dada dan ikhlas merupakan salah satu kunci menuju ketenangan yang hakiki. Maafkan dan lupakan seolah tak pernah terjadi apa-apa! Sebab menyimpan dendam bukanlah suatu hal yang positif bagi kesehatan jiwa raga. Apa pun yang terjadi, benar kata JK, kita harus tetap menjaga hubungan baik dengan negara tetangga kita, Malaysia.

Baca juga: Tradisi Panjat Pinang: Merayakan Kemerdekaan atau Melecehkan Kemanusiaan?

Facebook Comments