Saturday, September 23, 2017
Home > Literasi > Resensi > Ketika Modernitas Datang dan Tradisi Belum Ditinggalkan

Ketika Modernitas Datang dan Tradisi Belum Ditinggalkan

Ketika Modernitas Datang dan Tradisi Belum Ditinggalkan

Daisy Manis merupakan salah satu novel terjemahan seri sastra klasik dunia yang ditulis oleh Henry James.  Henry James adalah pengarang roman kelahiran New York, 15 April 1843. Ia meninggal  di Inggris tanggal 28 Februari 1916. Versi aslinya yang berjudul Daisy Miller terbit pada 1878 – telah difilmkan pula.

Novel Daisy Manis bercerita tentang kisah gadis muda Amerika yang cantik bak puteri bangsawan: kaya, polos, tetapi sia-sia dalam menghadapi keangkuhan sosial bangsanya di Eropa. Ia sangat lincah dalam bergaul, semaunya sendiri, tahu batas, tetapi hancur menjadi bahan pergunjingan, hanya karena ia kurang menghormati tata cara dan sopan-santun yang telah menjadi adat setempat.

Kisah dalam novel ini dibuka dengan bertemunya pemuda asal Amerika – Winterbourne –  dan bocah laki-laki berumur sembilan tahun – Randolph Miller – di kota kecil bernama Vevey, Swiss.  Randolph Miller ternyata adalah adik kandung dari Daisy Miller yang memiliki nama asli  Annie P.  Miller. Pertemuan yang tak direncanakan ini membuat Daisy dan Winterbourne berbincang-bincang di sebuah kursi. Menurut adat Amerika yang juga berlaku di Eropa, lelaki muda tidak akan berbicara bebas kepada wanita yang belum menikah, kecuali dengan syarat-syarat tertentu. Namun, Daisy tidak memedulikan itu.

Mereka lalu membuat janji mengunjungi Puri Chillon. Winterbourne juga berjanji akan memperkenalkan Daisy ke bibinya yang bernama Ny. Costello – seorang janda kaya raya dan juga sangat selektif dalam bergaul. Setelah mendengar cerita dari kemenakannya, Ny. Costello menolak untuk dipertemukan dengan Daisy. Menurutnya, Daisy adalah perempuan Amerika yang tak berbudaya karena ia sering bergaul dengan banyak teman lelaki yang pada zaman itu dianggap sangatlah tabu dan melanggar adat.

Meskipun Daisy adalah keluarga kaya yang tinggal dari hotel ke hotel di  beberapa negara di Eropa, tetapi keluarganya (ibunya, adiknya, dan pesuruhnya) dijauhi oleh masyarakat sekitar. Mereka dicap sebagai masyarakat kelas rendah yang tidak lagi menjunjung tinggi adat-istiadat. Sebab, keluarga Daisy memperlakukan Eugenio – pesuruhnya – layaknya sebuah keluarga.

Walaupun hanya pesuruh, Eugenio selalu tampil rapi memakai jas yang bisa dikata pada zaman dahulu adalah pakaian yang mewah. Selain itu, keluarga Daisy selalu makan bersama dengan Eugenio dalam satu meja. Sementara menurut Ny. Costello yang selalu merasa dirinya berada dalam tatanan sosial kelas tinggi sangat menjaga jarak kepada siapa pun. Tak peduli ia kaya raya atau tidak. Baginya seorang pesuruh seharusnya diperlakukan sebagai pesuruh. Hal ini menunjukkan bahwa feodalisme masih berkembang pesat di era itu. Keunikan cerita inilah yang kemudian menjadi konflik antarmereka. Ny. Costello yang kental dengan keangkuhannya dan keluarga Daisy yang humanisme- yang menjunjung tinggi sisi kemanusiaan.

Yang menjadi keunikan lain dalam buku ini, yakni terdapat beberapa halaman yang paragrafnya bernapas panjang. Lebih dari sepuluh halaman yang tiap halamannya hanya terdiri satu paragraf saja. tentu saja ini menjadi kenikmatan tersendiri bagi pembaca untuk berkonsentrasi menyelami dunia Henry James.

Winterbourne yang sangat tertarik kepada Daisy yang ramah, ketika itu mengunjungi Daisy sekeluarga yang pindah ke sebuah hotel di Roma, Italy. Bukan hanya di Vevey Swiss, di kota ini ternyata Daisy juga menjadi pergunjingan di tengah-tengah masyarakat. Ia memiliki teman karib lelaki tampan asli Italy bertubuh kecil – Giovanelli. Giovanelli bukanlah seorang yang kaya, tetapi Daisy mau bersahabat karib dengannya. Sebenarnya, Ny. Miller – Ibu Daisy – tak pernah menyetujui Daisy bepergian dengan lelaki mana pun. Namun, Daisy yang ramah, menawan, dan terbuka terhadap siapa pun merasa membutuhkan seorang teman. Saat Winterbourne mengetahui Daisy dekat dengan Giovanelli, ia terbakar cemburu. Apalagi menurutnya, lelaki rendahan yang dalam tatanan sosial tidaklah setara dengannya yang merupakan lelaki terhormat. Inilah krtitik sosial yang sebenarnya ingin diutarakan oleh James.

Baca juga: Kisah-kisah Persahabatan dan Perempuan di Dataran Tortilla

Selain pergolakan antara adat dan keterbukaan keluarga Daisy, pembaca juga akan diajak berwisata sejarah. Sebut saja Puri Chillon di Swiss – yang kaya akan peninggalan feodal, juga Colosseum di Roma, Italy. Sayang, kemegahan dan keindahannya tidak dijelaskan secara detail oleh pengarang. Selain itu, terjemahan bahasanya terlalu formal dan kaku. Kata You yang diterjemahkan menjadi Anda terkesan memberi jarak. Padahal obrolan berlangsung antara laki-laki dan perempuan dalam suasana santai – bukan formal. Semestinya penerjemah barangkali bisa menggunakan diksi kamu/kau supaya suasana akrab antarmereka lebih hidup. Bila saja pembaca sudah membaca novel Daisy Miller dalam edisi asli bahasa Inggris, pembaca akan merasakan sendiri perbedaannya.

Bila berbicara masalah pergolakan adat, saya jadi teringat novel-novel Indonesia  angkatan Balai Pustaka (1920-an) yang sangat banyak membicarakan adat dalam banyak kisah. Sebut saja kisah Siti Nurbaya (Marah Rusli, 1922), Darah Muda (Adi Negoro, 1927), Rusmala Dewi (S. Hardjo Soemarto, 1934)  yang mengkritik pola pikir masyarakat kala itu yang sangat konservatif, yakni masalah perjodohan. Secara tematik yang diangkat dalam novel-novel Amerika dan Indonesia relatif sama. Bisa disimpulkan, permasalahan adat dan tradisi adalah isu dominan yang melanda kebudayaan global saat itu.

Judul Buku : Daisy Miller
Penulis : Henry James
Penerjemah : Sapardi Djoko Damono
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan : Pertama, Agustus 2016
Tebal Halaman : 219 halaman
ISBN  : 591601250