Tuesday, November 21, 2017
Home > Literasi > Resensi > Mata Hari, Perempuan di Pusaran Kekuasaan

Mata Hari, Perempuan di Pusaran Kekuasaan

Namaku Mata Hari karya Remy Sylado

Dulu aku berpikir, dan sekarang aku harus membenarkannya, bahwa seorang perempuan modern bukan melulu bisa berpakaian bagus dan karenanya penampilannya akan selalu dilirik orang – seperti yang sudah sejak kecil aku dibiasakan oleh almarhumah ibuku – tapi yang penting sekali adalah otaknya harus bagus juga, yang diperolehnya dari kemauannya membaca buku di perpustakaan. Dengan membaca, aku percaya perempuan menjadi manusia berharkat, bukan hanya cerdik saja tapi juga cendekia.

———————————-

Kutipan di atas merupakan penggalan pemikiran sosok  Mata Hari dalam novel yang berjudul Namaku Mata Hari karya Remy Sylado. Novel ini diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama, dengan tebal 559 halaman. Cetakan pertamanya  terbit pada tahun 2010, sedangkan cetakan keduanya terbit pada tahun 2011. Sebelumnya cerita pada novel ini diterbitkan sebagai cerita bersambung di Harian Kompas.

Di tangan Remy Sylado, Mata Hari tak sekedar pelacur internasional, penari erotis dan agen mata-mata pada perang dunia ke-2, seperti yang pernah kita kenali dari berbagai literatur dan film dokumenter. Di novel ini, Mata Hari merupakan sosok perempuan cantik dan cerdik sekaligus cendekia, suka membaca buku yang memiliki pemikiran mendobrak dominasi patriarki, mengkritik kekuasaan kolonial, mengkritik agama dan gereja, mengkritik pemikiran kebangsaan yang sempit, serta mengkritik seks.

Nama Mata Hari, terilhami dari nama koran Melayu pada abad ke-18 di Hindia Belanda. Koran bernama Mata Hari diterbitkan oleh Oei Tiong Ham, raja gula dari Semarang. Margaretha Geertruida yang saat itu merupakan istri opsir kerajaan Belanda dan ditugaskan ke Hindia Belanda di daerah Ambarawa, tertarik dengan nama Mata Hari pada koran berbahasa Melayu itu. Dia juga tertegun ketika membaca iklan rokok dalam koran tersebut yang menuliskan tentang Mata Hari.

Selanjutnya Margaretha Geertruida ketika telah tampil sebagai penari erotis yang gerakannya terilhami dari relif candi Borobudur, serta hasil kajiannya terhadap seni tari di sekitar daerah candi, memperkenalkan diri dengan nama Mata Hari ke setiap orang yang mengenalnya sebagai penari eksotik nan erotis. Nama Mata Hari dan tarian ini, yang menjadi bekal Mata Hari berkeliling dunia sebagai penari, sekaligus memerankan perannya menjadi agen mata-mata Jerman juga Perancis, di samping kecendekiaan Mata Hari dengan pengetahuannya terhadap seni, budaya, dan tradisi Indonesia.

Mata Hari yang lahir pada 1876 dan menjalani masa hidupnya hingga 1917, merupakan perempuan yang tidak sengaja terseret ke dalam pusaran arus kekuasaan. Kecantikannya, kemolekannya, kecendekiaannya, wajah Indo yang didapat dari ibu Jawa dan ayah Belanda, menjadi modal Mata Hari tampil di pusaran arus kekuasaan tersebut. Mata Hari memanfaatkan betul modal ini untuk keuntungan pribadinya, untuk menegaskan pemikirannya sebagai seorang perempuan berpikiran bebas di tengah arus kekuasaan yang kerap tampil munafik, juga untuk misi melawan kebijakan perang, serta prasangka ras dan kebangsaan yang sedang berkecamuk pada abad tersebut.

Itulah mengapa Mata Hari berkenan mengambil peran sebagai agen ganda antara Jerman dan Perancis. Mata Hari menukar informasi di antara keduanya dengan sengaja sebagai upaya menghancurkan kebijakan perang yang dibencinya, kebijakan kekerasan atas nama ras dan bangsa terselubung yang dimurkainya. Meskipun pada akhirnya, Mata Hari menjadi martir kekuasaan dari perwira-perwira Perancis pada perang dunia ke-2 yang malu karena telah terungkap aibnya pernah tidur dengan Mata Hari, atau istilah Mata Hari pernah melakukan dialog bantal bersamanya.

Novel ini ditulis dengan bahasa yang mengalir, meskipun menggunakan bahasa sastra lama, namun alur kehidupan Mata Hari yang terseret ombak kekuasaan kolonialisme dan perang dunia ke-2, dapat diikuti dengan rasa penasaran hingga tuntas sampai pada pengujung kematiannya di hadapan regu tembak Perancis pada tahun 1917. Meskipun Mata Hari telah mati, namun pesan kematiannya masih tetap terbawa di semangat zaman hingga kini.

Baca juga: Rara Mendut, Sebuah Legenda atau Sejarah?

Perjalanan Mata Hari sebagai perempuan yang dikhianati suami, kemudian perlawanannya terhadap kesewenang-wenangan suaminya, dan kasih sayang terhadap kedua anaknya, merupakan kisah yang mengaduk perasaan dalam memahami peran Mata Hari sebagai istri dan ibu yang hidup di tengah dominasi patriarki. Terutama pada kisah anak Mata Hari bernama Norman John yang mati diracun oleh saudara babunya karena dendam atas perlakuan suami Mata Hari yang menghamili babunya dan tidak bertanggung jawab. Selain itu, kisah ini juga sangat dramatis ketika mengisahkan bagaimana perasaan Mata Hari yang kecewa dan sakit ketika mengetahui Norman John lahir  cacat karena tertular penyakit sifilis dari suaminya.

Dari sosok yang sederhana sebagai istri dan ibu ini, kemudian Mata Hari menjelma menjadi sosok perempuan yang diperhitungkan dalam pusaran arus kekuasaan untuk keuntungan perang, kepentingan kolonialisme, serta kenikmatan seks yang hinggap pada naluri kekuasaan yang dibungkus rapat di bagian luar dengan kesantunan, wibawa dan karisma. Ini menjadikan Mata Hari sebagai sosok perempuan yang sebenarnya ada bukan hanya karena kebutuhan kekuasaan itu sendiri, tetapi ia turut andil dalam menggerakkan kekuasaan tersebut.

Buku ini, menggambarkan bagaimana tangguhnya perempuan di dunia yang penuh dominasi patriarki, betapa pun kekuasaan telah membuat perempuan menjadi jalang, sundal, pelacur, namun nilai-nilai inilah yang menghidupkan sisi lain dalam kekuasaan, mengisi ruang kebutuhan kekuasaan untuk melepaskan beban penat kekuasaan dari dunia luar.

Namaku Mata Hari

Judul : Namaku Mata Hari
Pengarang : Remy Sylado
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Genre : Novel, dewasa
Terbit : Cetakan pertama, 2010
Jumlah Hal. : 559 halaman

 

 

Facebook Comments