Tuesday, June 19, 2018
Home > Sosok > Meiliana K. Tansri: Lokalitas sebagai Identitas

Meiliana K. Tansri: Lokalitas sebagai Identitas

Meiliana K. Tansri

Siapa yang tak mengenal Meiliana K. Tansri? Penulis Jambi berdarah Tionghoa yang novelnya telah banyak beredar di Toko Buku Gramedia di seluruh Indonesia. Agaknya, Jambi perlu berbangga hati memiliki novelis yang telah menghasilkan tujuh novel seperti beliau. Selain mengisahkan Jambi di berbagai novelnya, nama Meiliana K. Tansri sendiri cukup dikenal di Indonesia dan boleh jadi sangat diperhitungkan.

Meiliana memang sudah menyukai aktivitas tulis-menulis sejak duduk di bangku sekolah dasar. Beliau juga sangat suka membaca sejak kecil. Menjadi penulis memang menjadi cita-cita yang diidamkan sejak kecil. Ditambah lagi, pada saat SMA, guru bahasa Indonesianya sangat mendorong semua siswanya untuk gemar menulis karena guru beliau juga merupakan penulis andal yang sudah malang melintang di dunia kepenulisan Indonesia. Buku-buku sastra di sekolahnya pun sangat banyak. Mei remaja tak jarang membaca buku dan meminjamnya dari sana.

Setamat SMA di tahun 1993, Meliana K. Tansri bekerja di sebuah bank. Karena panggilan menulisnya muncul dari benak terdalamnya, beliau memutuskan resign pada tahun 1996 dan memutuskan untuk fokus menulis. Tahun 1997 merupakan tahun yang akan selalu membekas dalam ingatan. Beliau dinyatakan sebagai pemenang  lomba cerber majalah Femina dengan judul “Perahu Kertas” yang berjumlah sepuluh ribu kata. Hadiahnya sangat lumayan, yakni Rp3,5 juta. Wow, bisa dibayangkan jumlah uang tersebut di tahun 1997. Tahun sebelum krisis moneter era orde baru yang melanda Indonesia.

Semenjak menjadi pemenang lomba, Meiliana K. Tansri dihubungi oleh Gramedia agar cerbernya tersebut dijadikan novel. Meiliana menyetujuinya. Akhirnya, terbitlah novel pertamanya berjudul Kupu-Kupu. Dicetak sebanyak enam ribu eksemplar oleh Gramedia pada tahun 2002.  Novel yang terdiri atas 125 halaman tersebut ia selesaikan dalam waktu singkat, yakni dua minggu saja. Hingga kini, Meiliana tetap menulis meski beberapa tulisannya juga ada yang ditolak penerbit.

“Kita memang harus jeli mengusung tema yang akan ditulis. Selain itu, kita juga harus megetahui selera pasar yang sedang berkembang sebab hal tersebut yang menjadi sasaran utama dari pihak Gramedia,” tuturnya.

Baca juga: Perempuan Menulis sampai Mati

Wah, ternyata, untuk penulis sekelas beliau juga pernah ditolak penerbit. Jadi, buat Sahabat Puan yang gemar menulis dan beberapa kali ditolak penerbit mayor, jangan berkecil hati! Teruslah menulis! Sebab penolakan merupakan kerikil-kerikil kecil yang akan memberikan banyak pelajaran dan hikmah. Tambah Meiliana K. Tansri, menjadi penulis harus tahan lelah dan tahan banting.

Tema-tema novel yang diangkat ke dalam novel Meiliana pun beragam. Namun, kebanyakan novelnya membahas Human interest (aspek kehidupan manusia dan keragaman sosial). Usut punya usut, ternyata saat ini Meiliana K. Tansri sedang menyiapkan novel kedelapannya yang judulnya masih dirahasiakan. Novel ini telah 80% beliau kerjakan dengan mengekspos sejarah lokal. Lokalitas adalah identitas.

Dengan merekam kehidupan sosial masyarakat Jambi, artinya ini merupakan tanggung jawab sastrawan yang memang memiliki perhatian tentang sosial kultural di masyarakat, melibatkan kebudayaan kepada masyarakat luas, juga sebagai pelestarian budaya Jambi, misalnya dengan menceritakan sejarah kampung, status perempuan di masyarakat, dan lain-lain.

Saat tim redaksi puan.co menanyakan apakah penulis harus rajin membaca buku? Menurut Meiliana K. Tansri, sebagai penulis kita harus membaca karena dengan membaca, kita akan mudah menuangkan gagasan dalam menulis, menambah kosakata, menambah wawasan dalam mengembangkan ide cerita, memberi dukungan data saat riset, dan menstimulasi imajinasi.

Dalam menulis, seringkali kita kehabisan ide. Kalau Meiliana K. Tansri berada dalam kondisi yang demikian, menurutnya ini hal yang wajar sebab hal ini merupakan kendala penulis pada umumnya. Biasanya beliau akan berhenti sejenak, kemudian melanjutkan lagi saat ide-ide bermunculan dalam kepalanya. Waktu yang sering beliau gunakan dalam menulis adalah rentang waktu antara pagi hingga siang hari sebab kalau malam sudah kelelahan dan harus meninabobokkan anak.

Untuk memudahkannya dalam menulis, beliau selalu membuat kerangka karangan. Artinya, ketika nanti terjadi perubahan alur, tetap tidak keluar dari konsep awal yang telah disusun secara matang. Di sela-sela aktivitasnya sebagai penulis, Meiliana K. Tansri adalah ibu empat anak sekaligus seorang istri yang mencintai keluarganya. Baginya, keluarga masih nomor satu sehingga aktivitas menulisnya tidak bisa dijadwal. “Sesempatnya saja, tidak perlu cengeng meskipun keluarga menjadi hambatan produktif dalam menulis,” imbuhnya.

Selama menjadi penulis, Meiliana merasa lebih banyak sukanya dibanding dukanya. Sebab bila dilihat dari segi finansial, hasil tulisannya bisa membantu perekonomian keluarga, apalagi kalau menulisnya produktif, tentu saja bisa menjadi sumber nafkah.

Baca juga: Penerbit Indie dalam Genggaman Perempuan Muda

Jika melihat perkembangan literasi di Jambi, sangat sedikit penulis perempuan Jambi yang bisa muncul ke permukaan, terutama tingkat nasional. Menurut Meiliana K. Tansri, salah satu penyebabnya adalah konsistensi.  Harus berkomitmen menulis meskipun banyak hambatan. Di lain hal, budaya literasi di Jambi masih belum maju karena minat bacanya masih rendah.

Saat tim redaksi menanyakan, bagaimana perkembangan literasi Jambi saat ini? Beliau menjawab cukup menjanjikan, penulis-penulis Jambi harus mempertahankan kualitas, bukan kuantitas, harus bisa mengeksplor kebudayaan ke dalam tulisan, dan menciptakan keterikatan dengan masyarakat pembacanya. Bila ditolak penerbit mayor bisa bekerja sama dengan penerbit lokal. Menjadi penulis haruslah mandiri dan tidak terlalu bergantung pada pemerintah.

Idealnya karya sastra yang baik menurut Meiliana K. Tansri, yakni tentunya ini merupakan pandangan subjektif: memiliki daya jual, diterima oleh pembaca, dan memberikan dampak signifikan terhadap pembaca.

Bagi Sahabat Puan yang suka dunia tulis-menulis atau ingin menjadi penulis seperti beliau, tipsnya sederhana saja. Jangan pernah berhenti menulis sampai kapan pun, sebab proses belajar tidak akan pernah selesai sampai akhir hayat. Bagi yang sudah berusia lanjut tapi ingin belajar menulis? Tidak ada kata terlambat untuk menulis. Mulailah menulis dari sekarang sebab menulis itu mencerdaskan!

Meiliana K. Tansri
Meiliana K. Tansri

Biodata

Nama : Meiliana K. Tansri
Nama Panggilan : Mei
Tempat dan Tanggal Lahir : Jambi, 14 Mei 1974
Pendidikan Terakhir : SMA Xaverius 1 lulus tahun 1993
Hobi : Membaca dan Nonton Bola
Pekerjaan : Penulis
Penulis Favorit : Oscar Wild, Leo Tolstoi, Stephen King, dan Mochtar Lubis
Novel yang telah dihasilkan
  1. Kupu-kupu (Gramedia, 2002)
  2. Belajar Terbang (Gramedia, 2002)
  3. Layang-Layang Biru (Gramedia, 2006)
  4. Konser (Gramedia, 2009)
  5. Trilogi Darah Emas : – Mempelai Naga (Gramedia, 2010),  Gadis Buta dan Tiga Ekor Tikus (Gramedia,  2010), dan Sembrani (Gramedia,  2010)
Nama Suami : Abraham Tambun
Nama anak
  1. Abigail
  2. Benjamin
  3. Nathaniel, dan
  4. Yafet F.
Facebook Comments