Sunday, May 27, 2018
Home > Dapur Puan > Kuliner > Mencicipi Kue Tradisional Jambi

Mencicipi Kue Tradisional Jambi

Mencicipi Kue Tradisional Jambi

Pernah mencicipi kue padamaran atau  pernah mendengar nama kue tradisional baketuk, ketan aji, dan na’am? Itu merupakan beberapa jenis penganan tradisional yang berasal dari Jambi. Ningdam (52), yang biasa dipanggil Wak Dam, sehari-harinya menjual berbagai kue tradisional tersebut di Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, Kota Jambi. Dia selalu setia berjualan setiap pagi dengan menggelar sebuah meja panjang yang berisi berbagai macam kue.  Wak Dam mulai berjualan sejak dia masih kecil, dan keahlian membuat kue tradisional ini diwariskan terus menerus dari generasi ke generasi. Wak Dam sendiri mewariskan keahlian itu kepada Nila, puteri keduanya yang saat ini membantunya menjalankan bisnis kue tradisional lintas generasi tersebut.

“Sekarang sayo yang melanjutkan bikin-bikin kuenya. Kalau mamak lah tuo paling cuma masih mengadon resep bae. Selanjutnya sayo lah dengan saudara lainnya,” kata Nila.

Sekarang sayo yang melanjutkan bikin-bikin kuenya.
Sekarang sayo yang melanjutkan bikin-bikin kuenya.

Soal rasa adalah hal yang sangat dijaga oleh keluarga besar Wak Dam ini dari generasi yang satu ke generasi berikutnya. Mereka masih menggunakan pandan dan santan dari kelapa kampung untuk membuat kue tersebut. “Kami masih menggunakan pandan sebagai pewarna dan sekaligus pewangi kue. Walau banyak pewarna makanan dijual di pasar, kami masih tetap memilih pandan. Santan pun begitu, masih asli dari kelapo kampung sini lah,” ceritanya sambil mengaduk adonan santan untuk kue padamaran.

Wak Dam dan puterinya sibuk menaruh adonan kue beketuk pada sebuah cetakan. Tak beberapa lama datang Arifa’i (65), suami Wak Dam, dengan senampan cetakan kue padamaran. Cetakan ini terbuat dari daun pisang, tapi bukan sembarang daun. Daun pisang yang bisa dipakai sebagai wadah berbentuk kapal untuk kue padamaran harus berasal dari daun pisang batu. Karena tekstur daun yang sedikit keras dibandingkan daun pisang lainnya maka daun pisang batu dipilih sebagai sarang kue padamaran.

Kue-kue tersebut biasanya kaya akan lemak karena terbuat dari puluhan telur, santan, susu, mentega dan gula.
Kue-kue tersebut biasanya kaya akan lemak karena terbuat dari puluhan telur, santan, susu, mentega dan gula.

Dulu kata Arifa’I, di belakang rumah penduduk rata-rata dipenuhi pohon pisang batu. Namun seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan akan tanah untuk kebun dan rumah, maka amat jarang dijumpai tanaman pisang di daerah ini. Sehingga untuk daun cetakan padamaran, Arifa’i harus mencari jauh dari tempat tinggal mereka.

“Kalau di pasar ada yang daun pisang batu satu pelepahnya seribu. Itu bisa dibuat 30 kotak cetakan padamaran. Tapi saya biasonyo harus agak jauh cari yang masih ado pohon pisang batunya.  Beli di batang lebih murah dari di pasar,” ungkapnya.

Wak Dam dengan cekatan meletakkan gula merah di bagian dasar cetakan. Selanjutnya, kata Wak Dam, akan diberikan  santan kental tanpa ditambahkan tepung. Dan setelah sedikit mengental, baru adonan santan yang dicampur tepung dan air daun pandan yang sudah disarikan terlebih dahulu. Terakhir Wak Dam kembali menaburkan satu sendok santan di bagian atasnya.  Rasa gurih santan berbaur dengan wanginya  daun pandan ini yang membuat kue padamaran buatan Wak Dam berbeda.

 

Baca juga:

Nuansa Angkringan di Kota Jambi

Rica-Rica Ceker Ayam Tiada Duanya di Muara Bulian

Berbagai jenis kue tradisional ini dijual seharga seribu rupiah perbiji. Harganya memang sangat murah jika dibandingkan dengan proses pembuatannya yang cukup lama dan rumit. Tapi Wak Dam tidak mau menaikkan harga kuenya, baginya bisnis kue tradisional ini adalah bagian dari keinginannya untuk terus merawat keberadaan kue-kue tersebut di tengah  banyaknya cake yang lezat dan modern.

“Dari dulu hampir sepuluh tahun terakhir masih seribu. Kalau mahal-mahal kagek dak ado yang beli pulo. Yang penting kue-kue ini tetap bisa dikenal generasi mudo. Sekarang banyak roti-roti dan bolu modern yang dijual di mall-mall. Takutnyo cucu –cucu kito dak kenal lagi dengan kue-kue ini,” katanya.

Harganya memang sangat murah jika dibandingkan dengan proses pembuatannya yang cukup lama dan rumit
Harganya memang sangat murah jika dibandingkan dengan proses pembuatannya yang cukup lama dan rumit

Selain menjual kue basah setiap paginya, Wak Dam juga menerima pesanan kue bolu tradisional di antaranya kue Puteri Kandis, Kue Maksuba, Engkak, Lapis Susu. Kue-kue tersebut biasanya kaya akan lemak karena terbuat dari puluhan telur, santan, susu, mentega dan gula. Rasanya yang lebih manis memang menjadi ciri khas. Biasanya kue-kue ini akan diantarkan para menantu ke rumah mertua mereka di hari raya. Kue ini adalah simbol penghormatan menantu kepada mertua dan juga jamuan istimewa untuk acara-acara penyambutan tamu yang dihormati.

Facebook Comments