Tuesday, September 25, 2018
Home > Sosok > Menguak Rahasia Ratna Dewi: Perempuan dan Ruang Publik

Menguak Rahasia Ratna Dewi: Perempuan dan Ruang Publik

Ratna Dewi Yoga

Kemunculan figur perempuan di ruang publik, menurut Ratna Dewi sebenarnya hal yang alamiah saja. Ratna mengaku sejak kecil, ia memang senang tampil di muka umum, mengikuti banyak perlombaan, mencoba hal-hal baru, dan lain lain. Faktor keluarga menjadi poin utama sebagai pendorong dan penyemangat agar Ratna mencintai buku, aktif berorganisasi dan berprestasi di lingkungan sekolah hingga lingkungan yang lebih luas. Kebiasaan dan pola hidup ini terus berlanjut hingga usianya yang terbilang matang seperti sekarang ini.

Ratna kecil pernah bercita-cita menjadi arsitek. Pada masa itu, arsitek dikenal sebagai orang pintar, yang hanya padanyalah segala rencana disusun. Ratna ingin punya kemampuan seperti itu. Namun, dulu Ratna kecil tidak tahu bahwa keahlian tehnik dasar yang dimiliki arsitek adalah menggambar sementara ia tidak pandai menggambar. Sepertinya cita-cita menjadi arsitek dalam arti yang lain itulah, yang tetap hidup dalam diri Ratna hingga kini, yakni ia yang berkemampuan merencanakan, menyusun, membangun sebuah konstruksi rencana yang lengkap, dan mengeksekusinya hingga menjadi kenyataan. Menjadi arsitek sosial, mungkin itulah cita-cita yang terus hidup dalam dirinya.

Salah satu hobi Ratna yang cukup menarik adalah membaca. Sejak SD, Ratna  penggemar berat buku-bukun Enid Blyton. Kalau sekarang, ia paling senang membaca buku filsafat, sosiologi, antropologi, dan terutama sastra. Reading habit ini merupakan warisan turun-temurun dari keluarganya. Ratna bahkan pernah dua kali membuka Teras Baca untuk anak-anak tetangga sekitar dengan memanfaatkan terasnya sebagai ruang baca publik untuk anak-anak. Koleksi bukunya pun sangat banyak, namun beberapa hilang karena tak dikembalikan. Hobi membacanya ternyata juga menurun kepada tiga anaknya. Bagi Ratna, bersama buku ia menjadi lebih hidup.

Berbicara masalah perempuan, khususnya perempuan Jambi, menurut Ratna Dewi, secara historis, perempuan Jambi menempati posisi sentral. Jika ditilik melalui folklor yang hidup dan dipercayai masyarakat, penguasa pertama di negeri Melayu Jambi, ternyata seorang perempuan, yaitu Putri Pinang Masak. Dalam masa kolonialisme pun, perempuan, walau tidak memegang posisi tertinggi dalam silsilah kesultanan, namun di beberapa buku disebut bahwa berbagai keputusan penting, Sultan maupun keluarga Sultan, terutama sekali diambil atas pengaruh dan pertimbangan kaum perempuan.

Di Jambi, sebuah perang besar, antara Jambi hulu dan hilir, bahkan pernah terjadi karena dipicu pertentangan kaum perempuan. Jelas, bahwa perempuan di Jambi pernah menempati peran sentral. Idealnya,  hari ini pun tetap berada di posisi yang sama. Namun, pengertian sentral tidak selalu berhubungan dengan penempatan tinggi atau tertinggi dalam sebuah jabatan publik atau politik. Sentral berarti bahwa keberadaan perempuan menjadi pertimbangan utama dalam keputusan-keputusan publik.

Ratna juga menjelaskan bahwa figur perempuan menjadi sangat penting di ruang publik. Sebagai contoh, peran dan keberterimaan terhadap perempuan ditentukan oleh edukasi dan penanaman nilai-nilai egaliterian, persamaan, fungsi gender, dan aktualisasi kemanusiaan yang ditanamkan sejak kecil di keluarga. Betapa, seorang manusia (lelaki dan perempuan) dibesarkan di ruang keluarga akan sangat menentukan pandangannya terhadap perempuan di ruang publik.

Tentu saja, tambahnya, peran perempuan di semua ruang dan bidang  adalah istimewa. Perempuan hanya tinggal memaksimalkan keistimewaan dan keunikan dirinya masing-masing. Perempuan diberi kelebihan yang merupakan konsekuensi dari fungsi-fungsi spesifiknya (reproduksi). Perempuan dianugerahi kemampuan mengasihi dan mencintai yang lebih, sifat empati yang dalam, kepekaan, kejujuran dan sifat-sifat intrinsik lain. Bayangkan betapa harmonis dan selarasnya ruang publik jika perempuan hadir dan memaksimalkan sifat-sifat ini. Masalahnya hari ini, untuk menjadi unggul, banyak perempuan justru meninggalkan sifat-sifat keperempuanannya dan berupaya keras menyerupai sedekat mungkin laki-laki. Perempuan berusaha menjadi laki-laki dan berhenti menjadi dirinya sendiri. Akibatnya, berujung pada gesekan dan konflik. Sifat saling mengisi tidak ada. Ruang publik kita hari ini defisit sifat feminitas.

Ketika tim redaksi puan.co menanyakan tantangan perempuan di era globalisasi dan teknologi informasi, menurut Ratna Dewi tantangannya sama saja dengan yang dihadapi laki-laki. Kesulitan terberat mungkin dialami perempuan-perempuan yang tinggal di pelosok-pelosok kota yang tak sempat tergapai kemajuan zaman secara maksimal. Globalisasi mengasumsikan semua orang dalam kondisi dan kesiapan yang sama. Hal yang secara faktual sebenarnya utopis karena kompleksnya persoalan pembangunan. Tantangan perempuan secara spesifik, lebih pada akses teknologi dan informasi yang masih terbatas, kesempatan aktualisasi yang belum setara, dan adanya stigma “abadi” yang melabeli perempuan bertanggung jawab penuh baik terhadap keluarganya maupun ruang publik yang ia pilih. Globalisasi belum menghitung ruang domestik (keluarga) sebagai bagian tak terpisah darinya.

Nah, Sahabat Puan sudah tahu di mana saja Ratna Dewi pernah berperan sebagai perempuan di ruang publik? Beberapa tahun belakangan, Ratna  pernah punya program sendiri  di salah satu TV Swasta di Jambi yang bernama Lensa Ratna, yang tayang seminggu dua kali tahun 2014 hingga 2015. Di tahun 2015 setelah program ini berakhir, Ratna memimpin proses kreatif sekaligus pemandu acara sebuah program talksow bertajuk IMK ( Intelektual Muda Klub) yang tayang hingga Oktober 2016. Sejak April 2017 hingga sekarang, Ratna membawakan program dialog Kupas Habis yang mengangkat dan membedah berbagi isu penting seputar kehidupan sosial dan kemasyarakatan di provinsi Jambi.

Harapan Ratna Dewi buat perempuan Jambi ke depan, yakni perempuan Jambi harus melek dalam banyak hal, baik itu politik, hukum, maupun aspek sosial kemasyarakatan lain. Asah kepekaan agar bisa menangkap gejala sosial yang merugikan bahkan menindas perempuan dimulai dari lingkungan terdekat (keluarga, sekolah, dan lingkungan bertetangga). Sesungguhnya banyak problem sosial (KDRT, prostitusi anak, dan lain lain.) yang bisa dicegah dan diantisipasi jika perempuan lebih peka dan mau peduli dengan lingkungannya. Satu lagi, kurangilah bermain gawai! Ibu, ayah, suami, sahabat, dan anak-anakmu butuh kehadiranmu utuh. Tanpa hati dan isi kepala yang tenggelam jauh di dalam gawai dan media sosial. Semailah lagi kebersamaan yang hakiki dan penuh cinta kasih sebelum masing-masing kita menjadi alien di keluarga dan lingkungan kita sendiri!

Jika Ratna Dewi harus memilih urutan yang lebih penting antara kecantikan fisik, kecantikan hati, dan kecantikan otak, baginya semuanya penting dan harusnya bisa diwujudkan secara selaras dan simultan.

Bagaimana Sahabat Puan? Anda ingin juga tampil di ruang publik? Menurut Ratna Dewi, tipsnya sederhana, cukup menjadi diri sendiri dan tampil percaya diri!

 

 

Nama  : Ratna Dewi
 Nama Panggilan  : Ratna / Dewi
 TTL  : 19 Juli 1978
 Riwayat Pendidikan
  • S-1 Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung
  • S-2 IAIN STS Jambi
 Hobi  : Membaca, Traveling, Berorganisasi, dll.
 Status  : Menikah
 Pekerjaan
  • Ketua Jambi Heritage Council, Pengurus SELOKO Institute
  • Host Program Dialog dan Talkshow Jambi TV
 Pengalaman Kerja
  • Majalah Parents Guide, Jakarta (Kontributor, 2002)
  • PT Bina Globalindo (Dewan Direksi, 2002 – 2004)
  • Ketua Komisi Pemilihan Umum Kota Jambi (2008 – 2013)
  • Pimred imcnews, (2015 – Oktober 2016)
  • Pemilik Program Dialog Lensa Ratna, Jambi TV (2014 –  2016)
  • Pimpinan Produksi dan Host Program Talkshow Intektual
  • Muda Club/IMC, Jambi TV (2015 – Okt 2016)
  • Editorial Board Jurnal Budaya Seloko , Dewan Kesenian Jambi (2013 – 2015)
  • Penyunting Jurnal Innovatio, Pascasarjana IAIN STS
  • Jambi (2014)
  • Seloko Institute, Direktur  (2014 sampai sekarang)
  • Jambi Heritage Council (Ketua, Mei 2016 sampai sekarang)
  • FKPT (Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme) Jambi, 2015 sampai sekarang
 Pengalaman Organisasi
  • Pramuka, (SD-SMU)
  • OSIS, (SMP-SMU)
  • Senat Mahasiswa FPIPS, IKIP Bandung (1997-1998)
  • Ketua Keluarga Mahasiswa IKIP Bandung (KMIB) (1998-1999)
  • Ketua HMI Cabang Bandung (1999-2000)
  • PB HMI, Departemen Perkaderan (2000-2001)
  • Koordinator Lingkar Studi Perempuan Bandung (2001-2002)
  • KAHMI Jambi (2013-2015)
Facebook Comments