Saturday, September 23, 2017
Home > Literasi > Opini > Penolakan Ryunosuke Akutagawa terhadap Realitas

Penolakan Ryunosuke Akutagawa terhadap Realitas

Penolakan Ryunosuke Akutagawa terhadap Realitas

Kappa adalah novel yang ditulis oleh Ryuunosuke Akutagawa pada 1927. Novel ini mengisahkan tentang lelaki gila berusia tiga puluh tahun – penghuni kamar no. 23 sebuah rumah sakit jiwa di Jepang yang bercerita kepada sang dokter bahwa ia pernah bertemu Kappa. Tokoh di dalam cerita ini tidak diberi nama, namun memakai sudut pandang orang pertama “Aku”. Kappa adalah sejenis amfibi yang memiliki tempurung seperti kura-kura dan bermoncong panjang. Di dalam Folklor Jepang, Kappa dipercayai ada. Kappa juga mirip seperti bunglon. Ia dapat berubah warna sesuai warna tempat di sekitarnya. Tokoh Kappa digambarkan sebagai makhluk kerdil dengan kecerdasan yang melebihi manusia, namun memiliki moral yang jauh lebih rendah daripada manusia.

Kappa yang diceritakan oleh Akutagawa banyak berisi nada-nada satire yang penuh dengan kritik sosial. Barangkali sisi kehidupan inilah, dunia yang sebenarnya diidam-idamkan oleh Akutagawa. Sejatinya, Kappa tersebut merupakan alegori terhadap gambaran masyarakat Jepang di era 1920-an yang sebagian besar isinya adalah penolakan-penolakan Akutagawa terhadap realitas atau bisa dikatakan dunia di dalam Kappa adalah kebalikan dari dunia manusia. Meski, pada beberapa hal, ada juga kemiripan dengan kehidupan di dunia – khususnya Indonesia – atau bahkan semacam ramalan yang akan terjadi di dunia, bahkan Indonesia.

Fenomena dunia yang terbalik dalam dunia Kappa atau penolakan terhadap realitas Akutagawa, dibuka dengan cerita saat tokoh Aku yang hendak mendaki Gunung Hodaka, ia melihat Kappa dan hendak menangkapnya, namun kenyataannya malah ia yang ditangkap oleh Kappa dan dibawa ke dunia para Kappa melalui lubang yang memancarkan cahaya. Para Kappa menjelaskan bahwa banyak kaum manusia yang sudah ia tangkap (dijadikan peliharaan) dan tidak mau pulang ke dunia manusia karena merasa nyaman. Padahal kenyataannya, manusia bukanlah makhluk yang lemah – yang bisa dengan mudahnya ditangkap oleh hewan sekelas amfibi – biasanya, malah manusialah yang menangkap binantang – juga memelihara binatang dengan kasih sayangnya.

Kedua, penolakan terhadap kelahiran bisa dilakukan oleh calon bayi Kappa. Saat Ibu Kappa hendak melahirkan, sang ayah memegang perut istrinya sambil menanyakan apakah bayi Kappa tersebut mau dilahirkan ke dunia atau tidak. Pada Bagian IV, bayi Kappa mengatakan bahwa ia tidak mau dilahirkan karena tidak ingin mewarisi kegilaan orang tuanya yang mengerikan sehingga tiba-tiba perut Ibu Kappa mengempis dan bayinya hilang entah kemana. Di kehidupan nyata, bayi yang akan dilahirkan tidak bisa menolak takdirnya untuk dilahirkan. Saya curiga, hal ini merupakan pemberontakan Akutagawa yang merasa menyesal dilahirkan sebagai manusia karena memiliki ibu yang gila, sehingga semasa hidupnya, Akutagawa dibesarkan oleh bibinya. Juga saat digambarkan seekor Kappa penyair – Tock – yang bunuh diri merupakan potret masyarakat Jepang yang mudah bunuh diri ketika depresi. Bunuh diri di kalangan masyarakat Jepang sendiri adalah hal yang biasa. Tidak sedikit penulis-penulis Jepang ternama yang mati bunuh diri, sebut saja dua sahabat karib: Yukio Mishima dan Yasunari Kawabata. Juga Ryuunosuke Akutagawa sendiri yang mengakhiri hidupnya sendiri di usia 35 tahun.

Baca juga: Ketika Modernitas Datang dan Tradisi Belum Ditinggalkan

Ketiga, Di dunia Kappa, betina-betina Kappa sangat mendominasi. Anggota dewannya kebanyakan Kappa betina. Dalam permasalahan cinta, Kappa jantan sampai sembunyi karena takut dikejar-kejar Kappa betina yang agresif. Selain itu, gara-gara Kappa betina putus cinta dengan seekor Berang-Berang, Kaum Berang-berang menyerbu dunia Kappa (perang dunia antarhewan). Kappa jantan juga sangat tunduk terhadap betinanya, seperti si Kapitalis Gael – ia memang menguasai petinggi parpol yang sedang naik daun – juga menguasai petinggi beberapa media cetak. Meskipun begitu, ia lebih dikuasai istrinya. Seorang pendeta di dunia Kappa juga menceritakan bahwa Kappa pertama yang diciptakan adalah Kappa betina. Sementara di dunia nyata, khususnya negara kita, meskipun feminisme telah ada, tetap saja kaum wanita yang ada di parlemen tidak sebanyak di dunia Kappa. Juga dalam sejarah, belum ada gara-gara perempuan, negara kita lantas perang terhadap negara lain.

Keempat, masalah penamaan. Dalam dunia Kappa, nama-nama tokohnya paling banyak dua suku kata, namun didominasi satu suku kata. Bag si Kappa petani, Chrack si Kappa dokter, Lab si mahasiswa, Mag si filsuf, Hakim Pep, sang musikus Craback, si kapitalis Gael, dan lain-lain. Coba bandingkan di dunia manusia! jarang sekali kita menemukan nama yang demikian singkat. Kelima, di dunia nyata, para lelaki kebanyakan lebih tertarik mencari teman hidup yang cantik untuk memperbaiki keturunan. Di dunia Kappa justru berbeda. Lihat saja cuplikan spanduk di dunia Kappa berikut ini yang penuh satire!

KALAU ANDA KAPPA YANG SEHAT, KAWINLAH DENGAN KAPPA YANG KURANG SEHAT UNTUK MELENYAPKAN KEJAHATAN-KEJAHATAN KETURUNAN! (halaman 17).

Keenam, Jika di kehidupan manusia ada banyak jenis keyakinan, maka agama di dunia Kappa bernama modernisme. Yang mereka sembah adalah pohon kehidupan yang terdiri atas pohon kebaikan (berwarna emas) dan pohon kejahatan (berwarna hijau). Orang-orang suci dalam agama mereka adalah orang-orang yang memuja dunia – yang patungnya dipajang di sepanjang kuil-kuil suci yang boleh dimasuki siapa saja. Misalnya, Strindberg, Tolstoi, Wagner, Nietzsche, dan Dappo Kunikida. Makhluk Kappa memang sangat memuja kehidupan dunia, berbeda dengan manusia beragama yang lebih percaya pada ilahiah dan kehidupan di akhirat.

Keunikan cerita sangatlah menarik, hanya saja karena buku terjemahan ini dulu pernah diterbitkan PT Pustaka Jaya pada 1975, setelah dialihkan ke KPG tampaknya langsung dicetak saja tanpa ada editor atau penyelia bahasa. Kentara sekali bahasa-bahasa pada zaman tersebut yang kini sudah mengalami perubahan masih ada. Padahal, bahasa bersifat dinamis. Alangkah baiknya dari pihak KPG mengedit naskah kembali sebelum terbit.

Baca juga: Kisah-kisah Persahabatan dan Perempuan di Dataran Tortilla

Selain penolakan Akutagawa terhadap realitas, ada juga gambaran masyarakat Jepang pada 1920, yakni saat Craback melakukan konser musik kemudian dibubarkan oleh pihak kepolisian. Pameran lukisan dan hasil-hasil karya serupa sering juga demikian. Benarlah ketika Tock – Kappa penyair – berkata, “Seni tidak boleh diganggu oleh aturan-aturan kehidupan mana pun. Seni hanyalah untuk seni. Karena itu, Kappa mesti menjadi supperkappa dan berada di atas segala-galanya, termasuk nilai-nilai baik dan buruk.”

Membaca sosok penyair Tock, saya kemudian teringat Frederich Nietzsche, filsuf sekaligus penyair asal Jerman yang menciptakan konsep ubermensch ‘sang adimanusia/ manusia supper’. Manusia yang melampaui baik dan buruk sebagaimana supperKappa yang diceritakan Tock. Kisah lain tentang persaingan antarseniman. Juga seniman yang antikritik dijelaskan pada sosok Craback – yang hingga masa kini sosok-sosok semacam itu masih bisa ditemui di mana saja.

Ketika Akutagawa memunculkan tokoh Mag – Kappa Filsuf – saya juga menemukan sosok Nietzsche. Dalam buku Kata-kata si Tolol karangan Filsuf Mag, isinya berupa aforisme-aforisme persis aforistik khas Nietzsche pada bukunya Beyond Good and Evil dan Senjakala Berhala-Berhala dan Anti Krist. Barangkali Dendam Nietzsche terhadap realitas, penolakannya terhadap ilahiah, dan dunia bayang-bayang yang ia kisahkan sangat menginspirasi Akutagawa sehingga sosoknya juga dijadikan salah satu orang suci di kuil para Kappa. Hal lain yang sangat mencerminkan masyarakat timur juga dibahas Akutagawa pada bagian lima belas. Akutagawa mengisahkan Perkumpulan Penelitian Kebatinan yang meneliti arwah roh. Hal ini jelas menggambarkan adat ketimuran yang hingga kini masih percaya pada takhayul.

Akutagawa juga memunculkan kejahatan kapitalisme melalui sosok Gael. Hampir setiap tahun, Setelah ia memakan daging karyawannya, ia lalu memecat 40 – 50 ribu karyawannya. Setiap tahun ia membeli 700 – 800 mesin baru untuk mencetak buku di perusahaannya sehingga ia tidak membutuhkan tenaga Kappa lagi. Inilah gambaran masyarakat Jepang pada 1920-an. Para Kappa yang dipecat secara massal pun tidak melakukan aksi mogok seperti manusia. Saya kemudian mengingat Filsuf Posmodernisme – Jean Francois Lyotard – mengenai gagasannya tentang Nirmanusia. Bahwa Lyotard sangat curiga para manusia akan didehumanisasikan oleh kekuatan-kekuatan perkembangan kapitalisme lanjut, yakni sebuah ramalan di mana tenaga robot akan lebih dipercaya daripada tenaga manusia. Bisa jadi, pelan-pelan – hal ini akan juga terjadi di Indonesia.

Novel yang terdiri atas tujuh belas bagian ini memang sangat tipis, namun cerita di dalamnya memberikan kita banyak pelajaran bahwa hidup tidak harus selesai sampai di sini saja.

Kappa

Judul Buku : Kappa
Penulis : Ryuunosuke Akutagawa
Penerjemah : Winarta Adisubrata
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan : Pertama, Juni 2016
Tebal Halaman : 83 halaman