Wednesday, December 12, 2018
Home > Literasi > Cerita > Perempuan yang Paling Menangis di bawah Purnama

Perempuan yang Paling Menangis di bawah Purnama

Perempuan yang Paling Menangis di Bawah Purnama

Sawitri menggelung rambut panjangnya yang telah kelabu seluruhnya. Di cermin, ia melihat bayangan itu: sesosok ruh yang ingin menari dalam tubuh yang baru. Sebentar lagi, malam ini juga, bisiknya kepada sosok yang kembali masuk ke dalam tubuhnya yang kian condong ke tanah.

Di luar malam serupa perempuan hamil yang berjalan pelan hendak melahirkan. Angin menabur aroma kemenyan ke seluruh arah. Bulan yang menggantung di langit sebulat perut yang mengandung janin. Cahayanya tampak lungkrah mengarsir sepetak tanah di halaman sebuah rumah.

Pada halaman yang luas itu, sebelas obor dari bambu dipacak memutar. Satu-persatu perangkat gamelan diletakkan: bonang, saron, titil, kenong, jengglong, ketuk, klenang, kemanak, dan dua gong serta kendang. Di depan seluruh perangkat gamelan yang telah ditata di depan rumah itu, ada sebuah kotak hitam besar yang di atasnya terdapat kecrek dan sebuah topeng berbungkus kain merah.

Halaman rumah berdinding bambu itu perlahan berubah menjadi panggung ketika beberapa tikar pandan digelar di tengahnya. Para nayaga telah siap menabuh semenjak pukul 00.00. Dengan pemukul di tangan, mereka duduk menghadap alat masing-masing, sesekali mengisap rokok kretek dan menyeruput kopi hitam yang dihidangkan. Mereka seperti ingin menabuh hingga subuh, penaka ingin mengantar sesosok ruh ke dalam sebuah tubuh.

Di antara wangi kemenyan yang basah oleh titik-titik embun, dari dalam rumah Sawitri keluar menuntun dua gadis kecil, yang telah lengkap mengenakan pakaian tari bermotif parang dengan segala aksesorisnya. Mereka didudukkan di ujung tikar pandan sehingga membentang sebuah ruang pertunjukan antara mereka dengan perangkat gamelan.

Sawitri memberi aba-aba para nayaga untuk melaras gamelan sementara ia mengikat sampur di perutnya, dengan ujung yang sama panjangnya, dan mengencangkan sobra di atas kepalanya. Ia berjalan ke depan kotak hitam, menaruh kaki kanannya di atas kotak itu untuk beberapa lama sembari mendengarkan Dalban, anak lelakinya yang ada di belakang kotak, merapal mantra dengan nada yang sendu.

Dimulai dari kendang, perlahan-lahan para nayaga menyusun komposisi gonjing. Sawitri pun mulai menari, kakinya menjejak perut malam yang serupa milik perempuan hamil. Ia seolah sedang mengurutnya agar segera melahirkan janin yang dikandung sejak sembilan puluh sembilan hari yang lalu, sementara kedua cucunya terus bersiaga mengikuti gerak tari neneknya.

***

Isun wis bli kuat, Teh.” (Saya sudah tidak kuat, Mbak)

Tarni cuma bisa tersenyum tiap kali adiknya mengeluh. Ia tahu kalau daya tahan Nurani masih kuat. Sudah hampir tiga bulan mereka melakoni segala jenis puasa dari sedawuhan, nggedang, mutih, dan wuwungan. Bahkan, pada malam-malam tertentu, yakni tiap malam Selasa legi dan malam Jumat kliwon, mereka harus menanggung beban berat badan neneknya ketika sekujur tubuh mereka diinjak-injak seluruhnya, dari kepala hingga telapak kaki. Meskipun neneknya bertubuh kurus dengan usia lebih dari 70 tahun, injakannya masih sekokoh kuda-kuda seorang pendekar.

Sawitri, nenek mereka, akan menginjak-injak badan mereka dengan tenang dan tekun meskipun keduanya mengisak sepanjang malam. Ketika kaki Sawitri sudah sejengkal ada di atas punggung—ritual itu senantiasa diawali dari punggung lalu ke atas kepala dan perlahan-lahan turun hingga kaki, dengan injakan terlama ada pada kedua lengan—tubuh mereka mendadak kaku. Dan mulut, selebar apa pun ternganga, hanya dapat mengeluarkan suara perih yang lirih bila kaki itu telah menapak di punggung.

Sawitri tak pernah peduli pada tangisan dan rintihan cucunya. Ia juga tak menaruh acuh pada keluhan anak dan menantunya yang merajuk agar menghentikan ritual-ritual yang dapat membunuh kedua cucunya itu. Baginya, sudah menjadi kewajiban untuk menginjak-injak tubuh cucunya dan mengajarkan mereka menanggung perasaan sedih dan sakit melalui segala ritual dan tirakat. Injakan kakinya akan menguatkan tulang, melunakkan otot, dan melenturkan urat menari di tubuh mereka. Sementara laku tirakat beragam jenis puasa akan melatih kesabaran menanggung derita hingga mampu mematangkan batin sebelum mereka berurusan dengan darah kotor dan berhadapan dengan lelaki.

Sedelat maning, Nok.” (Sebentar lagi, Dik)

Demikian Tarni biasa menenangkan hati adiknya saat merintih menahan injakan kaki Sawitri, seolah-olah segalanya akan segera berakhir. Disabar-sabarkannya pula hatinya sendiri. Ditahan-tahannya air matanya agar tak rebas. Kalau adiknya terus merintih dan matanya telah basah, kerap kali ia harus mengulang-ulang tembang mantra sembari mengusap air mata adiknya.

Lunga lunga lara

larane ning segara.

(pergi pergilah sakit

sakitnya ke samudera)

***

Sejak menjalankan ritual, tak ada yang berubah dari Tarni, ia masih gadis kecil dengan tubuh liat dan bugar. Sebaliknya, Nurani tampak bertambah kurus dengan wajah kian pucat. Melihat perbedaan itu, juga ketenangan yang ditunjukkan anak sulungnya, Dalban telah yakin kalau Tarni yang kelak mewarisi Tari Topeng Losari. Ketika Dalban menyampaikan pendapatnya itu dengan harapan seluruh ritual dihentikan sebab telah jelas siapa yang terpilih, Sawitri teguh akan tetap melanjutkan sampai mendapatkan wangsit siapa pewaris sesungguhnya.

Berhadapan dengan sikap keras kepala ibunya, Dalban harus terus menenangkan istrinya yang kerap menangis sebab tak tega melihat anak-anak mereka terus menderita. Apalagi bila melihat si bontot, bungsu, yang makin kurus dan pucat. Belum lagi bila mengingat sekolah—Tarni kelas enam sementara Nurani baru kelas tiga—yang pernah beberapa pekan tidak masuk hingga kepala sekolah datang ke rumah.

Namun, entah dengan merapal mantra apa, sang kepala sekolah malah dibuat tunduk oleh Sawitri. Kepala sekolah pamit pulang dengan mengatakan: kita butuh pewaris yang tepat, dan sekolah hanya bisa mendukung, kapan pun anak-anak itu masuk sekolah tidak jadi masalah.

***

Semenjak menjalankan ritual, Nurani gandrung sekali bermain dan selalu mengalahkan kakaknya serta lawan-lawannya dalam setiap permainan. Dalam lompat karet, lompatannya semakin tinggi dan tak pernah menyentuh karet yang dibentangkan meskipun diulur hingga satu lengan di atas kepala lawannya. Ia tak pernah menjadi penjaga garis lebih dari satu menit saat bermain slodor karena larinya bertambah cepat dan gesit. Ia juga makin tangkas saat bermain glatik, dengan memukul dan menerbangkan kayu hingga jauh. Dan dalam bermain engklek, Nurani seringkali menyelesaikan permainan dalam satu putaran dari petak ke petak, tanpa memberi lawannya kesempatan untuk bermain.

Karena keasyikan bermain, siang itu Nurani tampak kelelahan, sementara di hari itu mereka sedang diharuskan berpuasa. Saat pulang sekolah, sebagaimana biasanya mereka pulang bersama—sejak kunjungan kepala sekolah ke rumah—Nurani terus-menerus memegang perutnya dengan wajah mengkerut. Sesekali perutnya bersuara keroncongan. Mukanya terlihat pasi dan gerak tubuhnya demikian lemas. Nurani beberapa kali duduk sebentar sebelum melanjutkan berjalan pulang.

Tarni yang tahu adiknya kelelahan dan kesulitan menahan lapar segera menggendongnya ke kebun singkong.

Setelah menyandarkan adiknya di pohon mangga yang ada di tepi kebun, Tarni mencabut salah satu batang pohon singkong lalu mengumpulkan reranting dan daun-daun kering. Ia ambil kaca pembesar mainan dari tasnya yang dibelinya pada pedagang di sekolahnya yang menggelar lapak mainan alat kerja orang dewasa, seperti suntikan, masker, kacamata las, dan sejenisnya. Ia fokuskan cahaya matahari di selembar daun kering. Sangat perlahan api menyala. Ia sulut tumpukan reranting dan daunan kering dengan api yang membara. Ketika nyala membesar, mereka menaruh singkong yang telah dipatahkan dari batangnya dan dibersihkan seperlunya. Mereka saling menatap dan tersenyum, membayangkan betapa pulen singkong itu ketika matang.

Bulir keringat mengalur di kening Tarni yang berusaha membalik singkong dengan pelepah daun pisang. Nurani melindungi hidungnya dari asap. Ia mengendap ke arah kakaknya dan berbisik; aku sudah tidak lapar. Kakaknya melotot, dan berkata: tanggung, ini singkong sebentar lagi matang dan kamu bisa makan. Nurani hendak menyebut nama neneknya, tapi keburu mulutnya ditutup telapak tangan kakaknya. Mereka membisu sampai singkong itu matang.

Tarni, dengan muka antara hitam dan merah, menyodorkan singkong yang telah matang itu ke mulut adiknya. Adiknya menggeleng-gelengkan kepala, menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Aku ingin jadi penari, Mbak saja yang makan, suara itu terdengar keras di telinga Tarni.

Tarni terus menyodorkan singkong itu hingga adiknya, yang terus-menerus menggeleng, terdesak dan tersungkur. Ia dengar suara adiknya: Mbak nakal, sengaja ingin aku gagal! Tarni meneriakkan “kirik sambil melempar singkong itu ke dada adiknya dan beringsut pulang.

Nurani mengibas-kibaskan bajunya dari bercak singkong bakar. Ia lihat singkong yang jatuh ke tanah. Sedikit asap masih mengepul dari daging singkong yang membuka, bau harum menguar darinya. Rasa lapar kembali ke dalam perutnya. Ia ambil singkong itu, mendekatkan ke mulutnya, dan menelan ludah.

***

“Kalau tubuhku ambruk sebelum sampur sampai kepada salah satu cucuku di akhir tarian, kau harus terus menabuh kecrek, memberikan aba-aba untuk terus menabuh gamelan kepada para nayaga. Tak usah hiraukan keadaanku. Jangan sampai ada yang mendekatiku sampai tarian selesai. Dia yang menyelesaikan tarian dialah yang terpilih. Kalau dua-duanya berhasil sampai akhir, jilatilah bagian dalam topengnya, yang terpilih adalah yang paling asin di bagian matanya.”

Demikianlah pesan terakhir Sawitri kepada Dalban ketika tadi siang merasa telah mendapatkan wangsit. Ia meminta anaknya memanggil dan mengumpulkan para penabuh gamelan yang tersebar di kampungnya dan kampung sebelah. Malam ini akan jelas siapa yang menjadi pewaris. Dalban tak tahu mengapa ibunya memilih tarian Klana Bandopati yang menceritakan tentang Rahwana yang urakan, pemabuk, dan segala sifat angkara lainnya, untuk ritual terakhir. Ia pun hanya menurut, dan meminta para penabuh memainkan gonjing yang kini sedang mengalun.

Sawitri memejamkan mata. Tangannya gemulai mengikuti irama tetabuhan. Matanya membuka bersamaan badannya digoyangkan ke kiri dan ke kanan, melenggak ke belakang dan melenggok ke depan. Dia memutar tubuhnya, melakukan galeyong dengan menghuyungkan setengah badannya seolah ingin ambruk. Di sela gerakan itu, Sawitri beberapa kali membanting tangannya di udara, sebelum kembali melakukan galeyong lagi. Seluruh gerakan itu diikuti dengan tekun oleh kedua cucunya.

Dalban mengalihkan pandangan dari ibunya yang tengah menari. Ia sungguh tak tega bila melihat ibunya ambruk saat galeyong. Dilihatnya sekeliling, para tetangga yang menonton penuh penasaran, langit yang terang oleh bintang dan purnama, dan suasan makin terang dengan liukan api yang dipacak pada bambu.

Sawitri kembali pada posisi awal, kedua cucunya kembali pula pada posisi semula. Mereka tak mengikuti gerakan neneknya yang sedikit berputar dan berjalan ke arah kotak hitam. Mereka duduk sila di depan topeng berbungkus kain merah yang masing-masing diletakkan di depan mereka.

Sementara Sawitri duduk sila di depan kotak hitam dengan kepala menunduk. Beberapa jenak ia sudah bangkit lagi, menaruh kaki kanannya di atas kotak hitam hingga beberapa menit kemudian ia kembali berputar dengan tangan telah memegang topeng yang masih dibalut kain merah. Kedua cucunya mengambil topeng dan mulai kembali meniru setiap gerakannya.

Kaki kanan mereka diangkat setengah badan sembari menyeblakkan sampur di pinggang ke udara, sementara kaki kiri menopang di tanah. Mereka tengah dalam posisi gantung sikil, tubuh bergoyang dengan satu kaki sebagai pijakan. Sementara topeng digenggam di atas lutut kaki yang diangkat.

Pandangan Dalban kembali kepada ibunya yang kini berdiri dengan satu kaki. Adakah ibunya akan jatuh sekarang?

Tak begitu lama, kedua kaki mereka kembali menjejak tanah, perlahan topeng yang dibungkus itu dibuka dan mereka kenakan. Kain yang jadi bungkus mereka mainkan sebentar, sebelum dibuang dan mereka telah menari sebagai Rahwana.

Dalban terus menabuh kecrek sementara hatinya menduga-duga apakah ibunya akan berhasil menyelesaikan ritual hingga akhir? Apakah benar Tarni yang akan menerima sampur karena tadi siang Nurani pulang dengan baju berbau singkong bakar yang mungkin habis dimakannya hingga gugur puasanya?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkecamuk sampai Sawitri lunglai, terduduk, dan ambruk, tapi tak satu pun dari penonton atau penabuh gamelan yang menghiraukan. Mata mereka justru tertuju pada dua bocah kecil yang terus menari. Suara tabuhan gamelan justru makin keras seolah mengalirkan seluruh emosi dan tenaga para nayaga pada pukulan.

Mata Dalban mengembun, ia tahu ibunya telah wafat, tapi ia tak boleh berhenti. Ia harus tetap menabuh kecrek sambil memerhatikan siapakah di antara kedua putrinya yang tahan sampai ritual selesai atau ada salah satu dari keduanya yang berhenti dan, karena rasa sayang, mendekati tubuh neneknya yang tak bergerak lagi.

Sementara di atas tikar pandan, mereka, dua gadis kecil itu, terus menjelma Rahwana dalam mabuk keangkaramurkaan. Di balik topeng yang dikenakan, seorang dari mereka telah mengerti neneknya telah mendiang, tapi tak kuasa menghentikan tarian sebab tubuhnya telah dikendalikan, dan ia hanya bisa mengucurkan air mata yang paling deras di malam itu.

 

Asef Saeful Anwar, penulis kumpulan cerpen Lamsijan Memutuskan Menjadi Gila (PSK UGM, 2014), kajian komunitas sastra berjudul Persada Studi Klub dalam Arena Sastra Indonesia (UGM Press, 2015), dan novel Alkudus (Basabasi, 2017). Mengajar di beberapa kampus di Yogyakarta dan ikut aktif sebagai redaktur cerita di situs kibul.in.

Facebook Comments