Monday, August 20, 2018
Home > Literasi > Opini/esai > Tradisi Panjat Pinang: Merayakan Kemerdekaan atau Melecehkan Kemanusiaan?

Tradisi Panjat Pinang: Merayakan Kemerdekaan atau Melecehkan Kemanusiaan?

Tradisi Panjat Pinang

 

Rini Febriani Hauri
Penulis: Rini Febriani Hauri, seorang perempuan yang bersembunyi di tubuh wanita. Senang merayakan kesedihan dan makan keju basi.

Setiap tanggal 17 Agustus negara Indonesia pasti merayakan kemerdekaan. Kemerdekaan adalah anugerah terbesar yang bisa kita rasakan sekarang ini. Berkaitan dengan perayaan kemerdekaan, sudah menjadi hal yang lumrah bila di tiap desa hingga tingkat nasional mengadakan beberapa perlombaan. Perlombaan biasanya diadakan mulai tanggal 17 Agustus hingga akhir Agustus. Tak jarang pula, ada beberapa desa yang masih merayakan kemerdekaan Republik Indonesia hingga awal September.

Perlombaan dalam rangka kemerdekaan tidak hanya diadakan oleh para masyarakat umum saja, tetapi juga masyarakat sekolah hingga perguruan tinggi. Lomba-lomba yang diadakan, seperti lomba makan kerupuk, balap karung, joget balon, menyanyi, memasukkan kelereng ke dalam botol, hingga panjat pinang. Peserta lomba pun beragam, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Biasanya, puncak acara yang paling seru dan paling ramai ditonton adalah perayaan tradisi panjat pinang.

Panjat pinang sejatinya adalah sebuah perlombaan memanjat batang pohon pinang yang sudah dihaluskan dan diolesi pelumas, seperti minyak dan oli. Biasanya di atasnya sudah terdapat berbagai macam hadiah, mulai dari barang-barang primer hingga sekunder, seperti makanan, pakaian, sepeda, boneka, bantal, keperluan dapur, dan lain-lain. Bagian paling atas hadiah, diberi bendera merah putih yang akan berkibar bila tersapu angin. Hadiah ini beragam tergantung keuangan desa. Selain dana kas desa, biasanya dana bersumber dari iuran sukarela masyarakat.

Peserta panjat pinang ini bukan hanya laki-laki saja, terkadang ada juga panjat pinang yang khusus diadakan untuk ibu-ibu. Kreativitas dan kerja sama tim sangat dibutuhkan dalam perlombaan ini. Sebab perjuangan jatuh bangunnya seringkali mengundang gelak tawa hingga tepukan tangan yang meriah. Bila sampai ke puncak, biasanya sorak sorai akan lebih membahana dan hadiah tentu saja akan dibagi rata kepada tiap peserta lomba.

Menurut sumber yang dilansir dari Jawa Pos, dulunya, lomba panjat pinang pada zaman kolonial dikenal dengan istilah “de klimmast” artinya memanjat tiang, dirayakan setiap tanggal 31 Agustusus untuk memperingati hari lahir Ratu Wilhelmina. Selanjutnya diadaptasi oleh masyarakat kita yang dipakai untuk merayakan kemerdekaan Republik Indonesia.

Jika ditilik dari sumber lain, yakni Wikipedia, sejarah panjat pinang ini kurang membawa angin segar. Barangkali tidak semua masyarakat mengetahuinya. Ternyata, panjat pinang ini sudah ada dari zaman penjajahan Belanda. Di masa lalu, tradisi panjat pinang ini diadakan oleh orang Belanda bila mereka menggelar acara-acara besar, seperti pernikahan dan hajatan.

Lebih tepatnya, perlombaan ini dianggap sebagai hiburan orang-orang Belanda di masa lalu. Uniknya, peserta perlombaan adalah orang-orang pribumi. Sebab pada zaman dahulu mendapatkan makanan dan keperluan rumah tangga yang digantung pada perlombaan ini merupakan hal yang mewah. Juga perjuangan untuk mendapatkannya merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri.

Sementara masyarakat Indonesia berjuang memanjat batang pohon pinang, orang-orang Belanda menonton sambil terbahak-bahak. Bila kita membayangkan ke masa lalu, apa yang akan kita rasakan ketika melihat saudara kita bersusah payah berjuang malah ditertawakan oleh orang Belanda? Bukankah ini sebuah pelecehan terhadap nilai-nilai kemanusiaan? Atau sebuah simbol kolonial yang hingga kini masih menimbulkan kesakitan bagi masyarakat yang memahami sejarah? Bukankah ini sisi kelam dari sejarah yang tak seharusnya dirayakan? Bagi masyarakat yang kontra akan perlombaan ini, tentu saja hal tersebut sangat tidak diinginkan ada. Namun, benarkah kebanyakan masyarakat Indonesia merasakan demikian?

Bila Sahabat Puan pernah menonton sinetron karya Deddy Mizwar berjudul Para Pencari Tuhan, ada sebuah adegan ketika ada tokoh yang menolak mentah-mentah diadakan perlombaan panjat pinang di acara 17-an dengan alasan sejarah kelam tersebut. Pro kontra semacam ini sebenarnya masih terus bergulir hingga kini. Namun, tokoh tersebut jelas menggambarkan sisi lain masyarakat yang menolak panjat pinang – yang barangkali ia menganggap bahwa kebanyakan masyarat awam tidak memahami sejarah. Lantas, bila masyarakat Indonesia kemudian memahami sejarah yang dianggap kelam tersebut, apakah tradisi panjat pinang akan serta-merta hilang atau dihilangkan?

Meski ada golongan yang kontra, tentu juga ada banyak masyarakat yang mendukung tradisi panjat pinang ini. Mereka yang setuju berdalih perlombaan panjat pinang sebagai usaha menghormati dan menghargai perjuangan para pahlawan yang telah gugur di medan perang? Selain itu sebagai usaha memupuk solidaritas, saling tenggang rasa, meningkatkan kepercayaan diri dalam kerja sama tim, gotong-royong, dan lain sebagainya.

Barangkali tepatnya begini. Masyarakat Indonesia masa lalu – pribumi – yang melakukan panjat pinang, meski ia menjadi tontonan dan lawakan bagi orang Belanda, namun ada hasrat lain dalam memperjuangkan hadiah – yang pada masa itu bila masyarakat pribumi mendapatkannya, ia akan merasa gembira dan sukacita sebab hadiah-hadiah tersebut merupakan hal yang tidak muda mereka dapatkan. Kepuasan dalam berjuang mendapatkan hadiah tersebut barangkali dituturkan dari mulut ke mulut sehingga memunculkan tradisi yang hingga masa kini diyakini bahwa panjat pinang memberikan hiburan sekaligus menonjolkan sisi perjuangan.

Bila demikian, ini berarti masyarakat pribumi masa itu tidak memandang panjat pinang ini sebagai penjajahan, melainkan sebuah perjuangan untuk mempertahankan hidup. Bisa jadi masyarakat pribumi masa lalu menggunakan filsafat jawa nrimo, bahwa segala sesuatu sudah ada yang mengatur maka masyarakat selalu merasa bersyukur dan memandangnya dari sisi positif bahwa panjat pinang adalah simbol perjuangan untuk bertahan hidup.

Lantas, masyarakat yang katanya sudah sangat paham sejarah panjat pinang – yang hingga kini masih dendam pada sejarah karena dianggap lelucon bagi orang-orang Belanda – bukankah mereka belum move on dari sejarah? Sebab selalu ada sisi positif yang bisa diambil dari kegiatan negatif sekalipun. Buktinya, selama perayaan kemerdekaan, tradisi panjat pinang selalu ada hingga masa kini. Kebanyakan masyarakat menganggap tradisi ini sebagai hiburan yang dapat menghilangkan rasa penat saat menontonnya.

Perbedaan sudut pandang dari berbagai pihak yang pro dan kontra adalah wujud bahwa di Indonesia banyak sekali perbedaan. Meskipun berbeda, ingatlah bahwa kita tetap satu jua. Kita adalah Indonesia yang satu dan teguh.

Lalu, Bagaimana dengan Sahabat Puan? Termasuk yang pro atau yang kontra? Meski berbeda pendapat, kita harus selalu rukun ya! Merdeka.

Facebook Comments