Wednesday, August 15, 2018
Home > Sosok > Ajeng, Perempuan Reptile dari Jambi

Ajeng, Perempuan Reptile dari Jambi

Ajeng, Perempuan Reptile dari Jambi

Dalam penafsiran beberapa agama, perempuan dan ular digambarkan sebagai Hawa dan iblis. Hawa adalah perempuan yang kemudian menjadi cikal bakal penerus umat manusia di muka bumi, sedangkan iblis menjadi penggoda yang tiada bosan mencari cara untuk menjerumuskan umat manusia dari jalan kebenaran. Itu kalau kita melihat relasi antara perempuan dan iblis dari sisi agama. Nah, di sini redaksi puan.co akan menyuguhkan relasi perempuan dan ular dalam konteks berbeda yang diperankan oleh seorang perempuan bernama Ajeng. Dia begitu lekat dengan makhluk ular yang sejak dulu diidentikkan dengan makhluk iblis dalam kisah Adam dan Hawa.

Tentu ini menjadi sebuah fenomena yang cukup unik dan menarik. Biasanya perempuan digambarkan sebagai sosok gemulai dan cenderung penakut terhadap binatang melata, namun tidak demikian halnya dengan Ajeng. Perempuan Jambi kelahiran Lampung ini tak sedikit pun menampakkan rasa takut dan ngeri saat menggelar atraksi bersama ular-ular berbisa.

Ular yang ditampilkan pun bermacam-macam jenisnya: king cobra, phyton, cincin emas, gonyosoma, dan lain-lain.
Ular yang ditampilkan pun bermacam-macam jenisnya: king cobra, phyton, cincin emas, gonyosoma, dan lain-lain.

Perempuan manis bernama lengkap Maria Ajeng ini lahir pada 1997. Sejak 2015 lalu, dia bergabung dalam Sumatran Snake Show. Pilihan itu tak terpisahkan dari latar belakang dirinya sendiri yang memang sangat menyukai binatang melata (reptile) dari masa kecil, terutama ular. Ajeng kerap kali menampilkan seni pertunjukan kolaborasi antara manusia dan ular berbisa. Ular yang ditampilkan pun bermacam-macam jenisnya: king cobra, phyton, cincin emas, gonyosoma, dan lain-lain.

Sumatran Snake Show terdiri dari 30 anggota yang tersebar di pulau Sumatera, dan 10 orang di antaranya berdomisili di provinsi Jambi. Ajeng adalah satu-satunya anggota perempuan di Sumatran Snake Show, karena memang cukup sulit mencari pemain berjenis kelamin perempuan untuk terlibat dalam atraksi manusia dan ular berbisa ini. Sebab, setiap adegan yang dilakoninya terbilang sangat berbahaya. Jika tidak berhati-hati, tentu akan sangat fatal akibatnya.

Maka dari itu, sebelum melakukan atraksi, Ajeng selalu menyiapkan perlengkapan memadai dalam mengantisipasi kecelakaan yang mungkin saja bisa terjadi. Di antaranya adalah obat-obatan pertolongan pertama penangkal bisa ular. Hal yang paling penting juga adalah memastikan kondisi ular yang akan diajak dalam atraksi bukanlah ular yang sedang dalam proses ganti kulit. Karena ular yang sedang mengalami pergantian kulit akan lebih sensitif dan agresif terhadap kondisi sekitarnya.

Atraksi paling ekstrim yang pernah dilakukan Ajeng adalah memasukkan ular dari hidung dan mengeluarkannya dari mulut. Ular diarahkan menuju ke saluran mulut agar tidak kesasar ke saluran paru-paru. Selain itu, menjulurkan lidah ke arah moncong ular adalah adegan yang kerap kali dilakukan. Kuncinya adalah, menjaga jarak dan memperhitungkan kedekatan dengan ular, karena nyawa adalah taruhannya.

Awalnya, pihak keluarga merasa cemas dengan pekerjaan yang dilakoni oleh Ajeng. Namun, kekerasan tekad Ajeng lah yang pada akhirnya meluluhkan kecemasan keluarga. Bahkan, 2 adik kandung Ajeng yang semuanya perempuan, juga mempunyai hobi sama, yaitu sama-sama menyukai reptile. Terutama adik paling kecil, yang saat ini duduk dibangku kelas 5 sekolah dasar, sangat menyukai ular.

Ajeng dan keluarga
Ajeng dan keluarga

Komunitas Sumatran Snake Show menerima panggilan atraksi untuk acara apa saja, asal sanggup dilakukan dan waktunya tidak terbentur kesibukan masing-masing anggota komunitas.  Acara yang pernah diramaikan komunitas ini misalnya ulang tahun kota Jambi, peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia, acara outbound instansi, serta beberapa acara yang sifatnya hiburan. Sayangnya, Ajeng hanya tersenyum, saat redaksi Puan menanyakan berapa harga sekali atraksi.

Menurut Ajeng, seni pertunjukan tersebut secara tidak langsung bertujuan untuk membangun stigma bahwa manusia dan binatang, dalam kadar tertentu bisa menjadi sahabat dalam kehidupan sehari-hari. Manusia dan binatang adalah satu rangkaian kehidupan yang saling membutuhkan demi eksistensi masing-masing. Begitu simpulan Ajeng di akhir bincang santai kami beberapa waktu lalu.

Ajeng memperkenalkan ular.
Ajeng memperkenalkan ular.

Nah, bagi Sahabat Puan yang tertarik dengan dunia yang digeluti Ajeng serta ingin berkenalan lebih lanjut dengan sosoknya, bisa menjalin komunikasi melalui akun Instagram Ajeng Blackpattern atau no telepon 085349432332. “Saya bersedia membagi pengalaman dan pengetahuan saya seputaran binatang melata,” katanya.

Biodata

Maria Ajeng
Maria Ajeng
Nama : Maria Ajeng
Nama Panggilan : Ajeng
Tempat dan Tanggal Lahir : Lampung, 29 Januari 1997
Alamat Domisili : Talang Banjar, Kota Jambi
No HP : 085349432332
Latar Belakang Pendidikan : Lulusan SMK Negeri 2 kota Jambi
Hobi : Menjelajah Alam
Instagram : Ajeng Blackpattern
Facebook Comments