Wednesday, August 15, 2018
Home > Literasi > Opini/esai > Andai Membaca Semenarik Masturbasi

Andai Membaca Semenarik Masturbasi

membaca masturbasi
Abdul Rajib, Tukang lapak buku dan bisa ditemukan di IG: lapakbacajambi
Abdul Rajib, Tukang lapak buku dan bisa ditemukan di IG: lapakbacajambi

Siapa bilang masturbasi tidak menarik? Buktinya, tidak sedikit orang yang pernah melakukan masturbasi. Hal yang sama juga berlaku untuk membaca. Masturbasi dan membaca sama-sama memiliki sisi menarik. Masalahnya, seberapa sering kita membaca ketimbang melakukan masturbasi.

Omong-omong soal membaca, tentu kita merujuk penelitian yang dilakukan Connecticut University yang bertajuk World  Most Literate Nation. Penelitian yang kurang ajar ini tentu sangat menyakitkan. Namun apa boleh buat, mereka punya metode sendiri. Indonesia ditempatkan pada peringkat enam puluh dari enam puluh satu negara yang diteliti. Kita hanya berada di atas Botswana. Ya, Botswana. Saya pernah dengar nama negara ini entah di mana. Jika terdengar ‘Botswana’ seperti de javu saja. Negara antah berantah ini yang kata wikipedia, terkurung oleh daratan, rasanya tidak sebanding dengan Indonesia.

Posisi kita berada di bawah Thailand. Negara kecil ini berhasil di atas kita soal literasi. Kalah telak dari Thailan soal literasi memang menyakitkan, seperti kekalahan kita dalam final piala AFF yang sudah-sudah.

Tujuh belas ribu pulau lebih dan dua ratus lima puluh juta manusia tidak membuat kita baik dalam literasi. Soal masturbasi mungkin bisa beda hasil. Penelitian lain yang lebih menyakitkan adalah yang dikeluarkan UNESCO. Mereka bilang, hanya satu anak Indonesia yang memiliki minat baca dari seribu anak. Mungkin anak Indonesia menurut UNESCO lebih menyukai menonton sinetron anak jalanan ketimbang membaca buku yang tidak memiliki manfaat praktis. Namun, angka 0,001 % sangat membuat saya mual.

Membaca memang tidak semenarik masturbasi yang memiliki dampak praktis. Alih-alih ingin orgasme di saat yang cepat, buku tidak bisa menghadirkan itu. Membaca buku bukan berarti membuat Anda pintar dalam waktu singkat. Bahkan buku bisa saja tidak memiliki dampak apa-apa. Mengutip wawancara Eka Kurniawan bersama Desi Anwar, dia mengatakan, paling tidak membaca buku bisa mengubah cara berpikirmu. Sebenarnya itu yang harus didapatkan dari membaca. Tentang bagaimana kita belajar dari berbagai macam sudut pandang dan memahami segala sesuatu. Entah itu membaca fiksi atau nonfiksi, itu tak masalah.

Sudah setahun ini saya turut ambil bagian dalam meningkatkan minat baca melalui Lapak Baca gratis yang saya gelar setiap minggu. Bukan berarti saya benar-benar peduli. Saya hanya melakukan apa yang saya senangi. Pengalaman di lapangan membuktikan bahwa di daerah saya (Jambi) anak-anak lebih tertarik dengan buku dari pada orang dewasa yang sudah bisa berpikir layaknya orang dewasa. Jangan tanya remaja yang katanya generasi milenial ini. Ada tapi tidak banyak, bisa dikatakan ada tapi tidak ada, atau tidak ada tapi bisa dirasakan ada. Generasi ini sebenarnya memiliki potensi besar untuk menyebarkan kegiatan membaca, bahkan mereka cocok jadi tim sukses partai politik. Lihatlah bagaimana mereka menguasai media sosial. Asumsi saya kenapa remaja tidak tertarik dengan minat baca mungkin karena mereka lebih menyukai masturbasi, sehingga mereka cenderung ingin orgasme pada hal-hal praktis seperti gadget, misalnya. Melakukan chat dengan pacar orang lain, menonton youtube, dan memakan caci maki yang disajikan di media sosial. Beda sekali dengan anak-anak yang belum paham dengan masturbasi.

Saya jadi teringat dengan yang dikatakan Carlos Maria Domingues dalam rumah kertas. Katanya: “Membaca buku kalau belum ada bekas maka belum orgasme”. Kita memang tak segila tokoh dalam rumah kertas yang membuat rumah dari buku dan menyusun buku membentuk tubuh perempuan.  Tapi, setidaknya kita bisa belajar bagaimana mencintai kegiatan membaca ini.

Sudah banyak para penggiat literasi berusaha menolak penelitian di atas seperti menolak takdir. Ah, bukankah takdir bisa diubah dengan doa. Anggap saja apa yang mereka lakukan adalah doa. Di Polewali Mandar ada Ridwan yang menembus laut dengan Perahu Pustaka, ada Sugeng dengan motor pustakanya di Lampung, ada juga Kuda Pustaka  di gunung slamet, dan masih banyak lagi doa-doa yang dilakukan untuk menolak takdir buruk ini. Sementara di tempat lain seolah tak peduli, termasuk pemerintah. Maksud saya tidak berarti pemerintah tidak peduli sama sekali. Nanti saya bisa dicap apatis atau cap-cap lainnya seperti merk deterjen. Bisa dikatakan kurang peduli. Begitu.

Suatu waktu saya membaca tulisan Eka Kurniawan di webnya. Kata dia, “Menulis itu seperti melakukan hubungan seks.” Saya sepakat. Dan hal yang sama juga berlaku untuk membaca sebuah buku. Membaca juga seperti melakukan hubungan seks. Ada orgasme juga. Bahkan mulai dari pemanasan sampai kita benar-benar mengumpat dan mengeluarkan energi yang besar. Nikmat pokoknya.

Saya kira, perlu menjadikan buku sebagai alat pemuas nafsu. Lebih tepatnya pemuas otak. Bukankah segala sesuatu berpusat di otak dan kita dapat melakukan apa pun terhadap buku asal saja jangan membakarnya. Masa itu sudah lewat. Saat menemukan kepuasan membaca kita akan sadar bahwa buku dapat melebihi masturbasi. Percayalah. Kalau tidak percaya coba saja dulu. Kalau tidak berhasil mungkin ada masalah dengan alat kelaminmu (baca: otak).

Maxim Gorky pernah bilang, “Teruslah membaca buku. buku hanya menjadi sebuah buku, setidaknya berpikirlah untuk diri sendiri.” Pada akhirnya buku memang sekedar buku. Hanya kumpulan kertas yang lama-kelamaan akan dimakan rayap. Tapi, kalian tentu tahulah poin saya. Selamat bermasturbasi!

Facebook Comments