Saturday, September 23, 2017
Home > Literasi > Resensi > Di Tanah Lada: Bukan Romantika Dunia Anak-Anak

Di Tanah Lada: Bukan Romantika Dunia Anak-Anak

Di Tanah Lada. Ketika pertama kali membaca judulnya, benak saya dipenuhi prasangka. Saya menduga kalau saya akan disuguhi cerita-cerita beraroma poskolonial lagi. Kalaupun iya, tak apa. Barangkali ada sudut pandang baru. Lalu setelah membaca beberapa bab, saya senang karena dugaan saya salah. Ternyata novel ini tidak beraroma poskolonialisme. Lalu, tentang apa? Secara garis besar, novel ini berpusat pada kehidupan sekaligus pandangan dunia anak perempuan berusia enam tahun bernama Salva.

Dunia yang Mengelilingi Salva

Pandangan Salva tentang dunia tak bisa dipisahkan dari apa yang dilihat dan diperolehnya dari rumah. Cerita  dibuka dengan gambaran rumah Salva yang selalu terasa dingin dan gelap. Rumah itu dihuni oleh sesosok hantu bernama papa. Dari sebutan Salva terhadap papanya, pembaca sudah dapat mengira-ngira bagaimana sifat papa. Salva memiliki papa yang suka membentak, memukul, dan selalu marah-marah. Singkatnya, papa adalah monster yang menakutkan dan jahat. Orang yang tidak jahat, tidak bisa menjadi papa. Begitulah semua papa di dunia, menurut Salva.

Di samping papa, ada mama. Mama digambarkan sebagai sosok yang tidak berdaya dan cenderung mengalah pada papa. Ia tak mampu membela Salva yang sering disakiti oleh papa. Akan tetapi, pada kondisi tertentu mama juga bisa tegas ketika papa sudah terlalu kejam pada Salva. Sayangnya, kondisi tertentu itu tak sering muncul. Selain mama, ada Kakek Kia yang memberi Salva hadiah yang sangat berat dan berharga, yaitu Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kemana pun Salva pergi, kamus itu selalu berada di tas ranselnya. Ketika Salva tidak mengerti arti kata tertentu, ia langsung mencarinya di dalam kamus.

Papa yang terlalu bengis dan mama yang cenderung lemah dan pasrah itulah yang membentuk pandangan Salva terhadap dunia. Dia menganggap dunia secara dikotomis. Hitam putih. Baik jahat. Ditambah lagi dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia tempat ia menemukan jawaban atas kata-kata yang tidak dimengertinya. Kamus itu di satu sisi memang menjadikan Salva sebagai anak yang pintar dan berwawasan luas. Namun, di sisi lain, kamus itu membuat Salva hanya memahami dunia lewat makna leksikal. Apa-apa yang tidak sesuai dengan makna yang ada dalam kamus membuatnya kebingungan dalam melihat fenomena sekitarnya. Di samping menjadi kelebihan, penggunaan kosa kata kamus dalam novel ini juga menjadi kelemahan karena disajikan dalam porsi yang berlebihan.

Baca juga: Nietzsche: Sang Pembunuh Tuhan yang Mencintai Takdirnya

Dunia Salva sedikit meluas setelah kepindahan keluarganya ke Rusun Nero. Perpindahan itu mempertemukan Salva dengan seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun bernama P. Pertemuan mereka pun menjadi intens. Bertemu orang lain selain keluarganya memungkinkan Salva memiliki referensi baru dalam memandang dunia. Sialnya, P memiliki nasib yang hampir sama dengan Salva sehingga mereka begitu “nyambung” dan cepat akrab.

P memiliki papa yang tak kalah kejam dengan papa Salva. Justru lebih parah. Jika papa Salva hanya menggunakan kekerasan verbal, papa P tak segan-segan menggunakan kekerasan fisik. Jika Salva masih memiliki mama yang menyayanginya, tidak demikian dengan P. Mamanya  pergi entah kemana. Dengan latar belakang itu, Salva dan P seolah memiliki keterhubungan. Seiya sekata. Alhasil, pertemuan dengan P ini tidak hanya semakin menegaskan pandangan dunia Salva yang hitam putih, tetapi juga terbit anggapan bahwa kehidupan di dunia hanya dipenuhi penderitaan.

Dikotomi Dunia Anak-Anak dan Orang Dewasa

Di Tanah Lada dibangun dengan kecenderungan dikotomi. Kecenderungan dikotomi itu dapat ditemukan pada beberapa hal, di antaranya, dikotomi anak-anak dan orang dewasa. Novel ini masih mengulang pesan bahwa dunia anak-anak akan selalu terpisah dengan dunia orang dewasa. Ketika menjadi dewasa, mereka seolah lupa pernah menjadi anak-anak. Orang dewasa kerap lupa pada bagaimana pikiran anak-anak bekerja, yang menjadikan jurang antara keduanya menjadi semakin dalam.

Selanjutnya adalah pada apa yang disebut baik dan jahat. Tokoh orang dewasa dalam novel ini hampir semuanya digambarkan sebagai orang jahat, kecuali Kakek Kia, itupun sudah meninggal. Mas Alri dan Kak Suri juga digambarkan tidak jahat. Mas Alri kerap membantu P, membelikan makan, dan mengajarinya bermain gitar. Demikian juga dengan Kak Suri. Mereka berdua kerap melindungi P jika dipukuli oleh papanya. Meskipun demikian, dalam satu hal yang—katakanlah—sangat prinsipil mereka justru sangat jahat karena mereka tidak berani mengakui P sebagai anak kandungnya. Kenyataan itu menjadikan dunia orang dewasa adalah dunia yang penuh kejahatan.

Dunia anak-anak diposisikan sebagai dunia yang apa adanya. Lugu dan jujur. Mereka melakukan apa yang dikatakan dan mengatakan apa yang dilakukan. Dalam novel ini, dengan keluguannya, kita kadang dibuat tersenyum pada pemikiran-pemikiran Salva dan P. Namun, dengan keluguan itu mereka juga jadi mudah mengeneralisasi keadaan. Sebaliknya, orang dewasa memandang dunia dengan ruwet. Dunia orang dewasa adalah dunia yang sulit dipahami oleh anak-anak. Orang dewasa sering mengajarkan sesuatu kepada anak-anak, tapi tidak bisa menjalankan apa yang diajarkannya.

Yang paling mencolok adalah soal mengambil keputusan. Sebagai anak-anak, Salva dan P adalah anak yang berani mengambil risiko atas hal yang sedang dan akan mereka lakukan. Mereka memutuskan untuk ke Tanah Lada seringan membalik telapak tangan. Padahal mereka belum tahu medan yang akan ditempuh. Keberanian mereka ini seketika menempatkan orang dewasa pada posisi pengecut dan egois. Mama, misalnya, tidak berani mengambil risiko meninggalkan papa Salva. Di pihak lain, Mas Alri dan Kak Suri juga sama pengecutnya. Mereka selalu berdalih bahwa menjadi orang tua itu tidak mudah.

Keberanian yang juga perlu diapresiasi dari Salva dan P adalah keberanian mencintai. Orang dewasa seringkali menyebut cinta anak-anak sebagai cinta monyet. Cinta mainan, cinta tanpa pikir panjang. Akan tetapi, alasan mengapa Salva begitu berani mengambil risiko mengikuti kemana pun P pergi adalah karena cintanya pada P. Pada cinta yang demikian ini, rasanya sulit untuk menganggap cinta mereka adalah main-main. Alih-alih mencintai, orang dewasa kerap terjebak pada egonya masing-masing. Setidaknya itu tergambar pada tokoh Kak Suri dan Mas Alri. Hanya anak kecil yang berani jujur mengungkapkan cinta. Meskipun disakiti, mereka tetap mampu mencintai dengan tulus. Novel ini berpesan bawa dalam hal mencintai, orang dewasa harus belajar pada anak-anak.

Baca juga: Mata Hari, Perempuan di Pusaran Kekuasaan

Bangunan dikotomi itu tampak semakin kokoh dengan apa yang dikatakan Mas Alri pada Salva dengan nada getir, “Jadilah anak kecil barang sebentar lagi. Lebih lama lagi,” katanya. “Bacalah banyak buku tanpa mengerti artinya. Bermainlah tanpa takut sakit. Tonton televisi tanpa takut jadi bodoh. Bermanja-manjalah tanpa takut dibenci. Makanlah tanpa takut gendut. Percayalah tanpa takut kecewa. Sayangilah orang tanpa takut dikhianati. Hanya sekarang kamu bisa mendapatkan semua itu. Rugi, kalau kamu tidak memanfaatkan saat-saat ini untuk hidup tanpa rasa takut.” (hlm. 197).

Namun, bangunan dikotomi itu runtuh karena ada satu hal yang diam-diam ditenun dengan tekun oleh penulis: perihal penderitaan dan kebahagiaan. Ketika sebagian besar narasi yang beredar menyatakan bahwa dunia anak-anak penuh dengan warna-warni indah membahagiakan, dan sebaliknya dengan dunia orang dewasa, novel ini berpendapat lain. Dalam novel ini, dunia anak-anak dan dunia orang dewasa sama-sama gelap, penuh derita.

Bukan Romantika Dunia Anak-Anak

Sebagian besar orang dewasa sering mengeluh kecewa karena telah begitu berjarak dengan dunianya semasa kanak. Jika ada mesin yang dapat memutar waktu, bisa dipastikan orang dewasa ingin kembali atau setidaknya mengulang masa kanak barang sebentar. Yang demikian itu bisa timbul karena orang dewasa selalu membayangkan bahwa dunia anak-anak adalah dunia tanpa beban. Yang ada hanya kebahagiaan. Kenyataan bahwa waktu tak bisa diputar ulang semakin membuat orang dewasa menyesal telah menjadi dewasa.

Namun, seperti yang sudah disinggung, novel ini menampar pembaca dengan kenyataan yang pahit. Novel ini tidak bercerita tentang duni anak-anak yang indah seperti dalam dongeng. Dunia Salva dan P adalah dunia yang gelap gulita. Mereka hidup dalam dunia yang penuh kekejaman dan ketidakberdayaan. Hari-hari mereka pekak oleh sumpah serapah dan memar di tubuh. Tidak ada selimut bergambar dan ninabobo ketika mereka hendak tidur seperti anak-anak pada umumnya. Salva bahkan tidur di kamar mandi dan di dalam koper, sedangkan P tidur di dalam kardus.

Rumah dan keluarga yang seharusnya menjadi tempat perlindungan mereka dari marabahaya yang ada di luar, justru berperan sebaliknya. Rumah Salva digambarkan sebagai tempat yang dingin dan gelap, jauh dari kehangatan dan kenyamanan. Rusun Nero digambarkan sebagai tempat yang lembab dan tidak nyaman. Kedua tempat itu adalah simbol betapa rumah, dunia yang ada di dalam, sama sekali tak memberikan kasih sayang.

Karena di dalam rumah mereka tidak mendapatkan apa yang mereka butuhkan, mereka terpaksa mencarinya di luar rumah. Awalnya, mereka akan pergi ke tempat yang ada bintangnya. Di tempat di mana harapan terkabul (hlm. 141). Namun, karena di Jakarta tempat mereka tinggal tidak ada bintang, mereka menganggap bahwa di Jakarta tak ada harapan bisa dikabulkan. Oleh karena itu, mereka kemudian memutuskan pergi ke Tanah Lada.

Tanah Lada dipercaya sebagai tanah yang menumbuhkan kehangatan, kebahagiaan. Tanah Lada adalah dunia ideal yang mereka impikan. Impian itu menjadi wajar mengingat mereka adalah anak-anak yang tak diinginkan. Mereka tumbuh dengan luka jiwa yang mendalam, yang kemudian menjadikan mereka skeptis terhadap kehidupan.

Yang menjadikan novel ini terasa begitu gelap dan dingin adalah pandangan mereka bahwa hidup di dunia hanyalah penderitaan. Kebahagiaan hanya bisa dicapai setelah proses reinkarnasi dijalani. Tidak ada kebahagiaan di muka bumi. Kebahagiaan dan kasih sayang hanyalah kata-kata. Hanya ada dalam kamus. Kebahagiaan itu jauh dan tinggi, di langit sana.

Karena mereka tidak mampu menggapai langit, yang bisa mereka lakukan adalah menuju pantulannya: laut. Mereka memilih menenggelamkan diri ke laut bukan karena penderitaan yang tak tertahankan. Penderitaan adalah kata yang tak pernah diucapkan oleh kedua anak itu. Sebab mereka adalah anak-anak yang dihantam penderitaan bertubi-tubi, sampai-sampai mereka tak mampu lagi merasakan penderitaan itu sendiri. Mati rasa. Itu sebabnya kedua anak itu meresponsnya dengan amat datar.

Pandangan dunia seperti itu tidak selayaknya dimiliki oleh anak-anak, bukan? Rasanya kita tak rela anak-anak seusia mereka mengalami kepahitan semacam itu. Kita masih berkeras bahwa dunia anak-anak haruslah semanis gula-gula.

Baca juga: Penolakan Ryunosuke Akutagawa terhadap Realitas

Dalam hemat saya, novel ini ingin mengatakan bahwa dunia anak-anak bukanlah romantika. Apa yang dialami oleh Salva dan P mengingatkan orang dewasa bahwa anak-anak juga menanggung beban penderitaannya masing-masing. Kesedihan dan kebingungannya sendiri-sendiri. Jarak  membentang antara masa dewasa dan kanaklah yang membuat waktu yang telah berlalu itu terasa manis dan romantis. Ibarat sawah atau gunung yang kita lihat dari kejauhan. Pada jarak yang jauh, yang terlihat hanyalah keindahan batang padi yang hijau melambai-lambai tertiup angin. Padahal, di sana juga ada lumpur yang baunya hanya bisa dicium dalam jarak yang dekat.

***

Sebagai penjalin kisah, rasa-rasanya Ziggy terlalu keji. Sejak awal Ziggy sudah menghadapkan pembaca pada suasana yang dingin dan kelam. Tapi dia masih cukup berbaik hati dengan membuat pembaca sedikit tersenyum oleh keluguan Salva. Lalu pelan-pelan pembaca dibawa ke titik yang lebih kelam. Dia pun masih memberikan secercah cahaya harapan pada pertemuan Salva dan P. Dan ketika pembaca lengah karena belum menyadari bahwa harapan itu palsu belaka, tanpa kompromi Ziggy langsung menenggelamkan pembaca dalam kegelapan total. Dingin dan mencekam.

di tanah lada

Judul : Di Tanah Lada
Penulis : Ziggy Zezsyazoeviennazabrizkie
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : Cetakan I, 2015
Tebal : 244 halaman

Anis Mashlihatin, sehari-hari bekerja sebagai pengajar bahasa Indonesia. Saat ini tinggal di Surabaya