Wednesday, August 15, 2018
Home > Literasi > Opini/esai > Fasilitas Publik yang Tak Ramah Anak

Fasilitas Publik yang Tak Ramah Anak

Tatatertib Pedestrian Jomblo

Di bawah kepemimpinan walikota Jambi Sy Fasha, wajah Kota Jambi mengalami perubahan. Banyak taman-taman dibangun untuk mengubah citra Jambi menjadi kota yang nyaman. Bukan hanya nyaman dipandang, melainkan juga nyaman untuk ditempati, terlebih lagi dirindukan bagi mereka yang merantau.

Salah satu taman yang cukup menonjol dan pernah melahirkan kontroversi, yakni Taman Jomblo. Fasha digadang-gadang sebagian besar masyarakat sebagai peniru Ridwan Kamil – Walikota Bandung –  karena beliau juga telah lebih dulu mendirikan Taman Jomblo di Bandung. Lantas, apakah meniru adalah hal yang salah? Meski banyak yang protes terkait penamaan taman, tak sedikit pula yang mendukung pembangunan taman kota ini.

Taman Jomblo Jambi terletak di Jalan Jendral Basuki Rahmat, Paal Lima, Kota Baru, Kota Jambi, tepatnya bersebelahan dengan kantor Walikota Jambi. Taman ini bisa digunakan sebagai tempat santai bersama keluarga, tempat jogging, bermain sepeda, atau tempat nongkrong bagi anak-anak muda. Biasanya paling ramai saat akhir pekan. Tak ketinggalan pula para pedagang kaki lima yang siap meraup untung. Para pengunjung bisa juga berfoto di trotoar warna-warni atau di depan jargon taman ini yang bertuliskan Pedestrian Jomblo. Dalam Kamus Bahasa Indonesia V, arti pedestrian, yakni pejalan kaki.

Baca juga: Ada Ultraman di Taman Jomblo

Pengunjung Taman Jomblo sendiri bermacam-macam, mulai dari balita hingga orang dewasa. Yang sudah tua pun boleh datang ke tempat ini, asal dalam pengawasan keluarga ya! Memang tempat ini dialokasikan buat pengunjung untuk berjalan kaki. Selain sehat, pengunjung juga bisa mencuci mata. Bagi Sahabat Puan yang senang berolahraga, bisa juga datang ke tempat ini. Alat-alat olahraga sudah terpasang di trotoar warna-warni. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang belum memahami peraturan penggunaan alat-alat olahraga tersebut.

Di dalam salah satu peraturan yang tertempel di sebelah tenggara jargon pedestrian jomblo tertulis bahwa alat-alat olahraga bukanlah permainan. Alat-alat olahraga tidak diperuntukkan oleh anak-anak di bawah usia 10 tahun. Kenyataannya, saat beberapa kali saya main ke Taman Jomblo, saya menemukan banyak anak-anak di bawah usia 10 tahun yang memainkan alat tersebut tanpa kontrol orang tua. Bahkan, ada juga beberapa orang tua yang memang mempersilakan anaknya untuk memainkan alat-alat peraga tadi. Barangkali para orang tua belum tahu peraturan ini. Barangkali memang tidak terlalu banyak pengunjung yang membaca peraturan tertulis ini mengingat letaknya yang kurang strategis? Atau budaya membaca masyarakat Jambi sendiri yang mungkin masih perlu dibenahi?

Maklum, peraturan yang tertempel biasanya memang tidak akan banyak dibaca sebab fenomena kelisanan di provinsi ini yang masih mengakar. Masyarakat yang tahu akan peraturan ini tentunya ada, tetapi yang tidak tahu barangkali jumlahnya lebih banyak karena faktor tadi. Sebagian masyarakat akan lebih mudah memahami peraturan bila dilisankan. Bila pemerintah yang harus berkoar-koar setiap waktu tentulah tidak efektif juga. Kalau sudah seperti ini siapa yang salah? Kesadaran masyarakat terhadap norma-norma yang ada seharusnya menjadi pegangan bahwa fasilitas publik yang ada bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab kita bersama. Pemerintah menyediakan fasilitas dan kitalah yang merawatnya secara bersama-sama.

Apakah anak-anak perlu ditindak karena melakukan pelanggaran? Atau apakah pelanggaran ini sepenuhnya dibebankan ke orang tua? Anak-anak yang masih senang bermain tentu memerlukan perhatian khusus. Pemerintah yang sudah sangat kretaif membangun taman ini juga perlu memikirkan fasilitas yang ramah anak agar anak-anak memainkan permainan yang sesuai dengan usia mereka. Ke depan, semoga permainan khas anak-anak di bawah usia sepuluh tahun akan diwujudkan.

Dengan bahasa dan tutur sapa lembut, anak-anak yang memainkan alat peraga yang datang ke tempat ini tanpa orang tua bisa dinasihati. Jika mereka datang bersama orang tua, perlu diberikan pengarahan agar membangun kesadaran bahwa alat-alat peraga ini hanya boleh digunakan bagi mereka yang berusia di atas sepuluh tahun. Pertanyaannya, siapa yang berhak melakukan hal semacam ini? Apakah pemerintah saja atau harus berkoordinasi dengan masyarakat juga? Masalahnya, terkadang ada juga sebagian masyarakat yang bebal bila dinasihati dengan sesama masyarakat.

Barangkali solusinya, pemerintah perlu menyediakan petugas yang berjaga setiap Sabtu-Minggu, guna mengontrol keadaan mengingat masih banyaknya alat-alat peraga yang dikira anak-anak merupakan permainan bagi mereka. Padahal, jelas di peraturan telah tertulis bahwa pemakaian alat peraga di luar petunjuk berisiko menimbulkan cedera. Solusi ini tentunya demi kebaikan bersama. Tentunya tidak ada satu orang tua pun yang menginginkan anaknya cedera. Jika tanpa disengaja anak tersebut jatuh/cedera, siapa yang akan bertanggung jawab? Apakah pemerintah? Tentunya tidak bukan?

Adanya Taman Jomblo Jambi memang membawa angin segar. Di sisi lain, masyarakat yang belum teredukasi harus menumbuhkan kesadaran untuk mematuhi peraturan yang berlaku. Bila masih terus-menerus seperti ini, kemungkinannya sebagian masyarakat belum siap dengan adanya ruang dan fasilitas publik.

Pedestrian Jomblo
Pedestrian Jomblo

Ruang publik bagi masyarakat merupakan ruang bebas yang telah disediakan oleh pemerintah sehingga terkadang sebagian masyarakat merasa bebas melakukan hal apa saja, termasuk membuang sampah sembarangan. Padahal, tempat sampah telah disediakan di mana-mana, namun kurangnya kesadaran yang lagi-lagi perlu ditumbuhkan ini membuat sebagian kita masih melanggar peraturan yang berlaku. Bila pemerintah telah berupaya keras membangun dan memfasilitasi ruang publik, yang dalam hal ini Taman Jomblo Kota Jambi, masyarakat pengunjung juga perlu menaati peraturan yang berlaku demi kebaikan kita bersama.

Facebook Comments