Monday, December 11, 2017
Home > Gaya Hidup > Komunitas > Gubuk Literasi Padepokan Djagat Djawa

Gubuk Literasi Padepokan Djagat Djawa

Diskusi bersama Ibu Suprihatin, penulis buku cerita anak yang beberapa kali medapat juara tingkat nasional

Gubuk literasi Padhepokan Djagat Djawa (PDD) adalah nama sebuah TBM (Taman Bacaan Masyarakat) yang didirikan oleh Triman Laksana, Sastrawan Indonesia yang kini berdiam di Magelang.  Sebelum menjadi TBM, padepokan ini  awalnya berdiri pada tanggal 07 Juni 2005, yang hanya mengkhususkan untuk forum diskusi sastra Jawa dan sastra Indonesia saja. Lambat laun, tempat ini berkembang menjadi wadah bagi para pencinta sastra pemula yang ingin belajar menulis sastra. Akhirnya, ruang diskusi ini resmi berubah menjadi TBM pada tanggal 17 Agustus 2015. Ternyata di TBM PDD ini juga ada sekolah menulis.

Motivasi Triman Laksana mendirikan PDD, awalnya timbul karena rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Karena buku-buku koleksi pribadi menumpuk banyak, daripada hanya dibaca untuk diri sendiri, lebih baik lagi jika buku-buku ini dibaca oleh banyak orang. Terlebih, TBM di lingkungan sekitar juga belum ada. Keinginan yang kuat ini akhirnya terwujud. Respons masyarakat  pun cukup baik. Meski dalam beberapa hal, memang belum begitu menggembirakan sesuai yang diharapkan.

Triman Laksana bersama Gola Gong
Triman Laksana bersama Gola Gong

TBM PDD  ini beralamat di Soto Citran, Jalan Raya Borobudur Km 1 Citran, Paremono, Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Siapa saja boleh datang ke padepokan ini karena terbuka untuk umum dan buka setiap hari dari pukul 13.00 – 17.00 WIB. Koleksi buku TBM PDD sekitar 800 lebih. Terdiri atas buku-buku sastra Jawa, sastra Indonesia, dan buku cerita anak. Selain koleksi pribadi, beberapa buku merupakan sumbangsih dari beberapa teman yang peduli. Bisa dikata TBM PDD masih sangat membutuhkan donasi buku dari pihak mana pun, terutama buku bacaan untuk anak-anak. Nah, Sahabat Puan, Kalau kamu sedang jalan-jalan ke Magelang, kamu bisa mampir ke TBM PDD sambil menyeruput soto citran khas Magelang yang aduhai.

Program-program TBM PDD ini, yakni dibukanya sekolah menulis untuk umum. Sekolah menulis ini gratis bagi siapa saja yang ingin belajar menulis. Yang dilaksanakan setiap bulan pada hari Minggu pertama. Diskusi sastra dan bedah buku dilakukan setiap dua bulan sekali. Pembicara-pembicara yang pernah didatangkan, antara lain Joni Ariadinata, Suprihatin, Ery Sumawinata, dan penulis-penulis lokal untuk membangkitkan motivasi para penulis muda.

Karena dibuka untuk umum, sasaran TBM ini memang untuk umum. Peminatnya pun beragam. Mulai dari pelajar, pendidik, dan masyarakat sekitar. Namun, ada kendala yang cukup signifikan, meskipun TBM ini telah berdiri, masyarakat sekitar belum terlalu antusias. Yang datang ke TBM malah kebanyakan berasal dari kalangan pelajar. Itu pun karena ada tugas resensi buku-buku sastra dari guru Bahasa Indonesia di sekolahnya. Barangkali TBM ini memerlukan terobosan-terobosan baru untuk lebih membumi mengingat lingkungan TBM  berada di perdesaan.

Meski demikian, Triman Laksana, yang bukunya pernah meraih Juara 1 Nasional dalam Festival Literasi Nasional di Palu 2016 ini,  merasa bahagia bisa memberikan kontribusi yang nyata bagi masyarakat umum. Walaupun koleksi buku TBM ini masih sangat sederhana dan minim. Juga, pendanaan kegiatan pun masih gotong royong. Meski TBM PDD ini merupakan milik individu, tetapi pengurusnya bukan hanya Triman sendiri. Selain Triman Laksana sebagai ketua, ada Eko Widaryati sebagai sekretaris, dan Mutiara Diva sebagai pengelola TBM.

Kalau berbicara prestasi TBM sendiri, prestasinya belum ada. Hanya saja, gubuk literasi Padepokan Djagat Djawa ini, melalui sekolah menulis dan diskusi sastranya, telah menerbitkan tiga buah buku, yang dua di antaranya merupakan kumpulan cerpen kategori penulis umum berjudul Kluruk (Anatri Endras Sumekar, 2016) dan Siti Musibah (Ki Sudadi, 2017). Sementara antologi puisi anak-anak berjudul AIUEO (2017), penulisnya adalah 50 siswa SD dan SMP se-Kabupaten Magelang Jawa Tengah.

Hasil sekolah menulis gubuk literasi Padepokan Djagat Djawa
Hasil sekolah menulis gubuk literasi Padepokan Djagat Djawa

Rekanan TBM PDD hingga saat ini juga belum ada sebab TBM belum berbadan hukum dan belum terdaftar di pemerintah. Hanya dikelola secara swadaya mandiri sehingga belum ada respons dari pemerintah.

Sebagai prinsip pemilik, jika pemerintah memberi bantuan akan tetap diterima, tetapi kalau untuk meminta dan mengajukan proposal, lebih baik tidak. Sebab hal ini seperti mengemis saja. Untuk sebuah langkah baik ini cukup dilakukan dari hal yang paling sederhana dan nyata. Tidak untuk mengeluh dan meminta-minta.

Harapan Triman Laksana sebagai penggiat literasi khusunya di TBM,  “Mudah-mudahan dengan menggerakkan TBM di wilayah yang paling kecil, lingkup RT, Insya Allah dunia Literasi akan menjadi berkembang dengan baik dan menggembirakan. Tentunya, semoga generasi muda kita menjadi generasi pembaca buku.”

Facebook Comments