Thursday, July 19, 2018
Home > Literasi > Opini/esai > Jangan Ajak Anakku Nobar G30S PKI

Jangan Ajak Anakku Nobar G30S PKI

Pengkhianatan-G30S-PKI

Teriakan bunuh dalam sebuah adegan film G30S PKI, tiba-tiba menggema di seluruh ruang pikiranku. Bayangan sekelompok orang menembaki jemaah salat tergambar jelas dalam memori masa kanak-kanakku. Perutku mual, membayangkan siletan tajam di pipi para jenderal. Hatiku menjerit mendengar teriakan-teriakan menyayat hati yang memohon belas kasih. Kenangan itu selama lima tahun, setiap bulan September, tak pernah terlewatkan di layar televisi rumah kami.

Kerap aku mencoba menutup wajah dengan sebuah selimut usang, menyembunyikan ketakutan dan berharap tidak dibangunkan untuk menyaksikan film tersebut. Namun, suara lantang kedua orangtuaku tetap memaksa harus menontonnya. “Kita ini keluarga PNS, jangan nanti kita dicap PKI kalau tidak nonton,” kata bapakku.

Dicap PKI menjadi momok yang sangat menakutkan. Bagi anak, cucu dan cicit PKI, bahkan memiliki tetangga dan sekampung dengan PKI, berarti kehilangan masa depan. Aku masih ingat dengan jelas, bagaimana PKI bagaikan kudis, kurap dan panu yang harus dihindari kalau tidak ingin terkucil.

Era itu sudah lama berlalu. Seingatku sejak tahun 1998 film itu tidak pernah menghiasi tahun-tahunku. Dan aku bersyukur, tidak menahan rasa kantuk dibarengi ketakutan setiap malam di tanggal 30 September. Setiap masa  sepertinya punya zamannya, jika kami angkatan 80-an sempat diwajibkan dengan tontonan G30S PKI, di zaman bapakku era-nya memasang nama satu kata dan bernuansa Jawa seperti Suparmi, Sukarni, Suparman, Hariyanto, Tugimin dan nama lain yang senada. Itu digunakan sebagai taktik mudah memperoleh pekerjaan. Di generasiku, nama sudah mulai menjadi dua kata dan kebarat-baratan. Banyak temanku, yang memakai nama Riki Fernando, Liza Natalia, Erick Fernandes, dan berderet nama lainnya. Sekarang generasi milenial, era anak-anakku. Tren pemilihan nama pun berubah. Nama anak-anak banyak yang menggunakan tiga kata dengan mengadopsi berbagai macam tren negara lain yang diikuti.

Baca juga: Fasilitas Publik yang Tak Ramah Anak

Aku tidak menyoalkan tren pemilihan nama, yang aku sayangkan sebagai seorang ibu adalah membayangkan anak-anakku menghadapi malam-malam penuh ketakutan dengan tontonan yang katanya mampu membangkitkan jiwa nasionalis dan patriotik. Bahkan adegan kekerasan di serial ultraman saja membuatku was-was, memicu mereka meniru adegan-adegan berbentuk  serangan tinjuan dan tendangan pada tubuh monster. Aku mulai menelusuri penelitian terkait dampak tontonan bernuansa kekerasan terhadap perkembangan psikologis pada anak. Tidak ditemukan penelitian yang dilakukan di Indonesia. Melansir dari beberapa sumber terlihat jika tontonan bernuansa kekerasan berpegaruh pada perilaku agresif pada anak. Meski semua anak memiliki potensi menjadi agresif sebagai upaya pertahanan diri. Sumber tontonan memberikan tambahan peningkatan mereka untuk melakukan tindakan sesuai tontonan yang mereka konsumsi.

Aku tidak mengerti apa yang diharapkan atas pemutaran kembali film G30S PKI. Ketakutan yang tidak beralasan akan kebangkitan PKI menurutku adalah alasan yang dibuat-buat. Karena sampai saat ini belum ada pihak terkait melakukan penangkapan organisasi yang berpaham komunis di negeri ini. Kalau aku mengatakan menolak melakukan aksi nobar film G30S PKI, hujatan dan cap berdarah komunis mungkin saja akan mengalir padaku. Tapi, aku seorang ibu dengan tiga bocah, mengatakan dengan tegas untuk menolak anak-anakku untuk mengulang ketakutan yang sama seperti yang pernah aku lewati. Aku hanya seorang ibu, yang menolak dengan tegas anak-anakku tumbuh dalam rasa dendam dan amarah.

Facebook Comments