Monday, October 23, 2017
Home > Sosok > Mencoba Mengalir Kemana Hidup Bergulir

Mencoba Mengalir Kemana Hidup Bergulir

Tary Lestari

Tak hanya destinasi wisata di tanah air yang ia kunjungi. Perempuan kelahiran Trenggalek ini juga sudah menjelajah ke sejumlah negara lain di Asia dan Eropa. Itu semua berawal dari mimpi yang ia bangun. Kisah perjalanan ke banyak tempat, diabadikan dengan menuliskannya untuk media massa dan menulis buku. Ia telah memilih jalan sunyi menjadi seorang penulis. Bahkan, pada tahun 2011 lalu ia mengambil langkah berani; memilih resign dari pekerjaannya sebagai scripeditor di sebuah stasiun televisi swasta. Kemudian fokus menjadi penulis lepas dan melakukan traveling ke berbagai negara.  “Banyak orang ingin keliling dunia tapi hanya berhenti di keinginan. Saya percaya semua berawal dari mimpi dan saya bisa ke beberapa tempat baru juga berawal dari mimpi.” kata Tary Lestari kepada redaksi puan.co, akhir pekan lalu. Berikut petikan wawancara redaksi puan.co dengan perempuan inspiratif satu ini.

Halo Mbak Tary. Bagaimana kabarnya?

Halo juga. Alhamdulillah baik dan sehat.

Ngomong-ngomong, sekarang ini lagi sibuk apa mbak. Apakah masih sering melakukan kegiatan traveling?

Saya seperti biasa sibuk bekerja, traveling sebenarnya hanya saya rencanakan 1-3 kali dalam setahun dengan jangka waktu sesuai kondisi.

Wah, keren sekali ya. Kalau traveling di dalam negeri sudah berkunjung kemana saja?

Saya baru menjelajah Sulawesi Selatan/Toraja, Sumatera/Lampung, Kalimantan Barat, Bali, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat tentu saja karena tempat saya tinggal sekarang. Saya ingin menjelajah Indonesia dan ini mimpi besar saya, tapi entah kenapa belum kesampaian sampai hari ini. Mungkin nanti, insya Allah.

Nah, kalau ke luar negeri Mbak Tary sudah mengunjungi negara mana?

Asia (Tiongkok, Jepang, Korea, Hongkong, Macau, Thailand, Malaysia, Vietnam, Singapura, Kamboja), Inggris, Perancis, Swiss, Austria, Budapest, Praha, Belanda.

Setiap mengunjungi suatu negara pasti ada kesan yang membekas. Kalau Mbak Tary sendiri kunjungan ke negara mana yang paling berkesan? Bisa ceritakan apa yang membuat Mbak Tary memiliki kesan tersendiri dengan negara tersebut?

Saya sangat terkesan dengan Xi’an di Tiongkok. Kotanya kuno dan eksotis. Karena di sana banyak muslim, jadi saya seperti bertemu saudara sendiri yang lama tidak bertemu. Selain itu muslim quarter menjadi tempat kuliner muslim yang sangat menarik. Dan kalau ada kesempatan kembali, Xi’an satu-satunya tempat yang pertama kali ingin saya kunjungi lagi.

Kabarnya dulu Mbak Tary bekerja sebagai scripeditor di sebuah televisi swasta, lalu memilih resign dan melakukan traveling ke banyak tempat. Bagaimana mbak bisa membuat keputusan berani tersebut?

Saya itu pembosan dan selalu ingin melakukan hal-hal baru yang menantang. Mumpung masih ada umur, saya ingin menambah banyak pengalaman baru dan bertemu dengan orang-orang yang berbeda. Dan begitulah, saya memutuskan resign lalu mencoba mengalir saja kemana hidup saya bergulir.

Apa sih suka dan dukanya menjadi seorang traveler. Bisa ceritakan pengalaman Mbak Tary sendiri?

Sukanya saya bertemu teman-teman baru, saudara baru dari perjalanan, tempat-tempat menarik yang membuat saya semakin takjub sama kekuasaan Allah, melihat budaya yang berbeda dengan budaya saya sehingga saya bisa membuka pikiran dan memahami benar bahwa manusia itu berjenis-jenis banyaknya dan diciptakan untuk saling mengenal dan berbagi kebaikan.

Dukanya apa ya, paling hal-hal kecil seperti teman perjalanan yang kurang menyenangkan, tetapi itu masih bisa dihadapi. Karena pada akhirnya itu juga menjadi pelajaran bahwa tidak ada manusia yang sempurna seutuhnya, pertentangan karena perbedaan karakter itu hal yang wajar. Justru karena itu teman perjalanan akan melengkapi kekurangan kita.

Selain kegiatan traveling, apakah sekarang Mbak Tary masih menulis skenario untuk televisi?

Iya masih. Saya memang bekerja fulltime sebagai penulis.

Eh, kabarnya Mbak Tary baru saja menerbitkan buku Keliling Asia, Memburu Cahaya. Buku ini bercerita tentang apa sih mbak?

Iya, buku itu Travel Diary, berisi tentang perjalanan saya di sembilan negara Asia menyinggahi masjid-masjid dan bertemu orang-orang baru yang memberi banyak pelajaran hidup selain juga mengeksplor lokasi wisata di negara tersebut.

Sebenarnya pesan apa yang ingin Mbak Tary sampaikan melalui buku ini?

Bahwa cahaya kebaikan itu ada di mana-mana, dari siapa saja dan kita bisa memungutnya kapan saja. Tetapi jangan lupa cahaya kebaikan itu juga seharusnya mengajarkan kita untuk berbuat baik.

Dari proses penggarapan hingga diterbitkan dan beredar di toko buku membutuhkan waktu berapa lama?

Sebenarnya buku ini terbit dari ketidaksengajaan. Saya berpikir sudah banyak buku traveling dan saya belum tahu mau mengambil dari sisi yang mana jika membuat buku. Tetapi saya sudah menulis beberapa artikel tentang negara-negara yang saya kunjungi dan dimuat di rubrik traveling beberapa majalah. Lalu teman saya menyarankan untuk diubah sedikit format dan fokusnya kemudian dijadikan buku. Sayang kalau tidak menjadi jejak, begitu katanya.

Saya menulis draft buku-nya dalam satu bulan (karena sebagian memang sudah saya tulis dalam artikel majalah) jadi lebih cepat. Seminggu setelah draft buku saya kirim dapat respon dari penerbit akan diterbitkan dan kemudian membutuhkan waktu tiga bulan untuk masuk ke toko buku.

Wah, luar biasa. Boleh tahu sampai sekarang sudah berapa buku yang telah diterbitkan?

Saya baru menerbitkan 6 buku yang sendiri. Novel : Sketsa Bidadari (Lingkar Pena Publising House) Tarian Sunyi (Mizan) Kumcer : Saat Kembali (Mizan), buku anak : 33 Cerita Rakyat Menakjubkan (Mizan), Asal Usul Kota Indonesia (Mizan), Traveling : Keliling Asia Memburu Cahaya (Grasindo) dan buku yang lainnya antologi cerpen bersama pengarang lain.

Dalam waktu dekat apakah ada rencana mau menerbitkan buku berikutnya? Atau bisa berikan bocoran sekarang sedang menggarap buku apa?

Insya Allah awal tahun depan, sekarang masih dalam proses penulisan. Yang jelas buku ini berbeda lagi dari buku-buku yang saya tulis, bukan fiksi atau traveling J

Ini pertanyaan terakhir mbak. Apa tips dari Mbak Tary untuk Sahabat Puan yang berminat mengikuti jejak Mbak Tary melakukan traveling keliling dunia dan menulis buku?

Banyak orang ingin keliling dunia tapi hanya berhenti di keinginan. Saya percaya semua berawal dari mimpi dan saya bisa ke beberapa tempat baru juga berawal dari mimpi. Tetapi mimpi tanpa usaha untuk mewujudkannya hanya akan menjadi khayalan. Jadi bermimpilah dan wujudkanlah. Kemudian tulislah agar menjadi jejak dan bisa berbagi cerita dengan orang lain.

Terima kasih tips dan informasinya mbak. Senang banget bisa bincang-bincang sama Mbak Tary. Mudah-mudahan di lain waktu bisa disambung lagi ya.

Sama-sama, terima kasih juga.

Biodata

Nama  : Tary Lestari
Nama Panggilan  : Tary
Tempat dan Tanggal Lahir  : Trenggalek, Jawa Timur, 25 Desember
Alamat Domisili  : Jakarta
Latar Belakang Pendidikan  : Ilmu Komputer
Hobi  : Berkebun, jalan-jalan, membaca, menulis
Bahasa yang dikuasai  : Indonesia, Jawa, Inggris pasif
Buku Favorit  : Buku-bukunya pengarang India ; Divakaruni dan Rabindranath Tagore.
Kutipan Favorit  : “Be in this world as though you were a stranger or a wayfarer “ – Al- Hadist

 

Facebook Comments