Saturday, September 23, 2017
Home > Literasi > Cerita > NEMORKARA¹

NEMORKARA¹

NEMORKARA

Tanah kemarau berhamburan, ditindih kaki sapi-sapi kelaparan di pematang. Udara panas menyiram, begitu pula angin sebagai pengantar kabut. Tanah ke mana-mana, menyebar baur debu ke segala isi kawasan Telenteyan. Nemor[2] datang menderai kesenyapan. Sementara bunga-bunga harapan mulai melayu di pembaringan Kara, dalam sapu tangan istrinya yang kuyup dan kusam. Di pelupuk mata itu berkabung cahaya lampu damar dan sorotannya yang hanya cukup menyinari amper rumah, samar-samar terlihat, Nurjannah mendekap suaminya. Setiap kilatan mata Kara memenuhi kelopak matanya. Tak tahan, titik-titik air ikut berdesak bocor. Ya Allah, rahmatilah suamiku, tabahkan hatinya. Sambil terisak lirih.

Di mana Kara terlentang, tubuh kurusnya seperti sebuah barisan tulang yang hanya terbungkus kulit. Sudah 6 tahun berjalan, penyakit yang dideritanya itu tak kunjung sembuh. Dari dhukon[3], tukang ramal, habib hingga dokter yang pernah didatangi tak pernah memberikan kesimpulan jelas, penyakit apa sebenarnya yang diderita Kara. Mereka semua berbeda-beda penjelasan mengenai itu, ada yang mengatakan, panarajhut, parobu, seleb[4] dan macam-macam. Begitu pula ramuan, obat, air minum dan segala macam sarat sudah dicari kemana-mana, ke tempat keramat, ke polo[5] tak berpenghuni di tasek mereng[6] dan sudah berpuluh-puluh kota didatangi, tak pernah didapati obat mujarob dan mengenai untuk penyembuhan Kara.

***

Penyakit napa sebenarnya yang menimpamu, Kak…?” Istrinya selalu meratap. Begitu pula dua anaknya yang beberapa waktu lalu sudah putus sekolah karena tidak ada yang  menanggung biayanya lagi. Sedang ibu Kara sendiri sudah terlihat lemas di kamar sebelah. Belum lagi tetangga yang berambisi menggunjing-gunjingkan penyakit yang dideritanya selama ini. Celetuk-celetuk tetangga mengumbar.

“Kara kena santet!”

“Bukan, kodheka!”

Seher!

“Lihat, makanan saja sudah tak bisa masuk ke mulutnya”

“Apalagi sebulanan ini, saya dengar, ia sering meraung-raung seperti ada yang menginjak-nginjak tubuhnya!”

“Kayaknya ya, kuku-kukunya juga sering mengeluarkan nanah hitam“

“Aneh ya!”

Semua bergunjing soal itu. Terutama jika di sore hari, 4, 5 sampai 7 orang di warung rujak Bu Karma seperti tak mau kehilangan celoteh daripada mengebik-ngebik perbincangan tentang penyakit Kara, malah semakin hari semakin banyak orang yang membawanya, entah angin apa yang merisaukannya.

***

Bagi Nurjannah, gunjingan semacam itu bisa jadi penyakit yang menyelinap pelan-pelan ke daun telinganya. Apalagi jika dihubung-hubungkan dengan masa lalu yang tidak diketahuinya; sang laki yang hanya sebagai tukang ojek serabutan di kota kelahirannya selama ini tampak biasa-biasa saja, jauh sebelum menikah bahkan, suaminya sudah bekerja di kota. Namun, dia sendiri tidak pernah tahu akan hal itu, dan kenapa kemudian banyak orang berbisik-bisik “Kara itu bajingan!”

“Mau mencuri saja, mesti keluar kota!”

“Apa tak cukup, selingkuh dengan bini orang!”

“Sudah maling, bajing lagi!”

“Bukannya istrinya sendiri, si Nurjannah hanya gadis desa yang lakunya hanya di rumah, di dapur, dan di kasur saja! Pantaslah, ia tak pernah tahu ke mana suaminya kerja!”

“Kini habislah dia, menanggung kutuk perbuatannya!”

“Begitu memang, kalau orang kerjaannya cuma nyepir orang lain!”

Memang tak pernah ada kecurigaan di hatinya. Nurjannah tetap setia. Bahkan dia tak ingin mencari-cari kesalahan, jika pun semua itu terjadi. Prasangka buruk tak akan mambuatnya lemah sebagai seorang istri.

“Kasihan sekali istrinya ya…,”

“Apalagi harus menanggung dua anaknya!”

“Ibunya lagi sudah tua”

“Terus siapa lagi yang bisa menanggungnya”

Bila omongan itu sudah memenuhi kerangka dadanya, tak jarang dia memang merasa salah sendiri dan hanya menangis adanya. Untung, selama ini keluarga dari Jawa masih sempat diam-diam menampung sebagian hidupnya, mulai dari biaya obat, makan, minum dan kebutuhan sehari-hari. Bahkan seluruh pengobatan, Bang Mukmin, yang berani membawanya ke rumah sakit mahal di Surabaya dan Situbondo, menghabiskan biaya puluhan juta rupiah selama bulanan. Sebagai orang terpelajar, pamannya ini, tentu tak terlalu percaya dengan umpatan-umpatan sebagian orang kampung.

“Kara hanya perlu dibawa ke dokter ahli,” katanya kepada keluarga.

“Bukan ke dukun dan tukang ramal!”

Berbeda dengan keluarga atau tetangga dekat di kampung. Meski tak ada yang mampu mengelak, mendengar Bang Mukmin, secara diam-diam mereka tetap silih berganti pergi ke dhukon[7]. Alasannya, kami biasa minta petodhu[8] ke Nye Tariye, ke Salamet. Apalagi kalau ingat Ju’ Mesem, pengesepuh kampung ini, mata orang-orang kampung pasti berbinar, karena setiap penceritaannya tentang hal ihwal yang perlu kami kerjakan selalu berhasil. Beliau selalu punya sugesti yang baik. Meski bukan peramal, petunjuknya tentang orang-orang pintar selalu benar.

***

Ketika semua orang sibuk, Kara tak kunjung sembuh dan sudah dibawa dan dicarikan tambha[9] ke mana-mana. Bang Mukmin sendiri terlihat putus asa dan menyerah, begitu pula sebagian yang lain. Jangankan pil, obat yang harganya ratusan ribu dan jutaan pun sudah pernah ditelan, tak membuahkan apa pun, kecuali hanya anggapan, dengan obat-obat itu  malah Kara tambah kurus dan kering. Nyaris tak berkebik lagi bibirnya.

“Coba tak ada minuman bedak ini,” Ma’ Sarwa ikut pula menimpali, sembari menunjuk-nunjukkan segelas air warna kuning yang sedang dipegangnya dari tadi. Air ramuan yang dicampur daun baluntas, bedak, yang didapatnya dari Nye Murjam di seberang, “pasti tubuhnya telah kering!”

Kemarin sore ketika senja hampir anslup, Kara pun sebenarnya juga telah dimandikan di setiap pertigaan jalan kampung yang menjulur ke bukit, sungai dan laut. Sekujur tubuhnya dibalut daun-daun kelor, yang satu dua daunnya dipurut menimbun tanah yang mulai menggenang air.

mosem reya, mosem nemor na’

panyake’ elang bilhe e anyo’ aeng

samogha’a ba’na cepet bhares

Entah doa apa yang dibaca Ma’ Sarwa, bibirnya meletup-letup. Sambil menghempas-hempaskan daun-daun itu ke tubuh Kara. Tak ada yang mengerti dan tahu dia melakukan pekerjaan apa yang seaneh itu. Meski sebelum-sebelum itu di tanah seberang, pernah ada yang menganjurkan pemandian itu bagi orang yang kena penyakit nemor ka nemor[10], barangkali karena bumi terlalu kering sehingga tapak dhandang[11] kehausan.

Bagi Bang Mukmin, semua itu aneh saja, “Pekerjaan tak waras!” bisiknya sengit. Tapi si Ma’ tetap saja tidak hirau, “Ini sudah lakona[12] jujuk-jujuk dahulu.” Salah seorang kemudian datang pula dan membujuk supaya si Kara dibawa ke Standur, “Mon bisa ke Standur, di sana hidup salah seorang tokang tapa[13], yang hanya mengabdikan hidupnya untuk mengobati orang-orang sakit berat, barangkali tangkep”.

***

Nemor berkepanjangan, tentu membuat segala usaha di kampung seperti senyap seketika. Ladang, sawah, pertanian dan perkebunan merosot, tembakau pun yang biasa ditanam hanya akan tampak berdaun dalupang, kecil-kecil dan kurus. Sehingga tak ada yang berani bertaruh dengan untung-ruginya. Mereka lebih percaya mosem ini lebih sebagai bhala[14]. Bahkan hari ke hari, ketika penyakit yang diderita Kara tak juga menemui tanda jelas dan kesembuhan.

Pelan-pelan bisik mengenai “nemorkara” mulai terbetik dari mulut ke mulut.

“Penyakit Kara penyebabnya!  Kita ingat sebelum-sebelumnya, tak pernah terjadi mosem panjang yang malaeb[15] seperti ini!”

Dari bisik-bisik tetangga inilah sebenarnya pertama kali yang membuat sebagian banyak orang pergi meninggalkan Kara, termasuk sebagian famili dekatnya sendiri. Prasangka ini yang mengungkit-ungkit kembali masa lalu yang sudah hampir lama tertimbun, sebuah kesuraman pandang tak pasti bagi istrinya. Setelah 7 tahun dilampaui dengan banyak keharmonisan dan kesetiaan, yang barangkali hal itu memang sulit dibayangkan mertuanya sendiri sekali pun.

Nurjannah seperti perempuan lugu dalam pandangan mereka. Sementara ibu Kara sendiri juga sudah terlalu tua, tak mampu lagi bekerja. Batuk, asma, sok sesekali menyerangnya. Kara sendiri hanya anak satu-satunya, bapaknya sudah lama mati sejak dia kecil. Di rumah itu, mereka tinggal berlima, juga dengan kedua anak Kara yang masih kecil-kecil. Kini Nurjannahlah yang menjaga semuanya, dengan hasil usahanya yang masih tersisa dengan buah-buah kelapa dan gula merah di belakang rumahnya.

Semenjak sang suami sakit, rasa nyeri manakah yang tidak dia tampung. Hanya saja dia selalu menepisnya. Saat orang-orang di sekitarnya mulai tak peduli, dan banyak menggunjing masa lalu Kara. Mereka menganggap penyakit itu lebih serupa kutukan untuk hidup Kara, sehingga tak ada obat apa pun lagi yang bisa menyembuhkannya.

“Kami sudah jalan ke mana-mana, tapi sama sekali tak pernah ada tanda jelas mengenai penyakitnya!”

“Dari pada hanya ikut menimpa kami pula nantinya, kami menyerah!”

Haji Salam, satu-satunya haji di kampung itu, ikut menengahi, “Ini tanggung jawab kita bersama saudara-saudara, kita sesama tetangga bersaudara, harus saling membantu, gotong-royong!”

“Tapi Pak Haji, penyakit ini sudah dicarikan tambha[16] ke mana-mana,”

“Lagian tidak ada yang pernah berhasil,”

“Nama penyakitnya saja tidak pernah jelas, bagaimana sembuhnya?!”

“Sudah, sudah, yang penting kita semua terus berusaha, bukan?”

Semua diam. Istri dan ibu Kara tak sanggup berucap apa pun lagi. Mereka terlihat pasrah. Begitu pun kedua anaknya selalu menjerit dan menangis. Tubuh Kara tinggal tulang berkulit sebatangkara. Hari ke hari, tubuhnya makin tak bergerak. Ia harus selalu dipaksa agar ada minuman yang bisa menyerapi tubuhnya, sebab makanan pun sudah tak mampu masuk. Berbagai ramuan, obat, sasaji, menumpuk di lincak. Sudah terlalu banyak, ramuan yang satu belum habis, ramuan dan obat lain sudah keburu datang. Terus begitu. Tapi semuanya kini mulai dibiarin. Selain karena tak ada mujarobnya, mulut Kara juga hanya mampu menyerap aeng ghulha[17] yang biasa dibuat ibunya sejak kecil. Dalam ceritanya, setiap kali Kara mau tidur, ia selalu menangis meminta dibuatin minuman ini, dan dengan air ini pula dia biasa minum setiap kali makan.

***

Tiga bulan berlalu. Ketika semua orang meninggalkannya dan keadaan kembali seperti biasa, mengembala sapi ke sisa-sisa rumput kering di pematang. Tinggal bisik-bisik nemorkara menyebar ke sana-kemari. Pikiran mereka seolah dikuasai tanda kurang baik, apalagi sejak ada isyarat dari Keae Ansor, bahwa ada seorang yang terlalu banyak dosa di kampung itu, sehingga mengakibatkan hujan akan sulit turun, segala usaha dan pertanian kurang menguntungkan, selain itu, isyaratnya lagi mengatakan, bahwa orang itu akan kena kutukan sepanjang hidupnya, yang satu-satunya obat penyembuhnya hanya didapat dari tangan ibunya sendiri.

“Apa aku bilang, benarkan, itu pasti si Kara!” gunjing dan bual orang-orang.

“Kalau begitu, kita bilang saja ke keluarganya!” timpal yang lain.

Walau sebenarnya sudah banyak yang tak terlalu percaya pada penyembuhan Kara, akibat usaha yang mereka cari selama ini tak kunjung berhasil. Mereka toh masih menaruh hati pada ke karismatik Keae Batu Ampar itu, apalagi sudah banyak bukti kehebatan dan kewaliannya, hanya saja beliau luput dari perhatian selama ini. Mungkin benar adanya nemorkara. Keadaan sudah terlalu laeb. Air terkeruk habis, buat minum saja sudah susah, apalagi buat mandi dan nyassa[18].

***

Malam harinya mendengar dabu[19] Keae itu, ibu Kara pun menjerit, “Tidak mungkin anakku kena kutukan, tidak mungkin…!”

“Dia sudah tak seperti dulu lagi sekarang, dia sudah insaf….” Istrinya hanya diam layu, wajahnya kuyup. Tak berdaya. Apalagi sejak dari kemarin malam tubuh suaminya semakin panas. Matanya seperti menerawang dan tak berkedip lagi. Dalam keadaan lemah, demi mengetahui bisik-bisik itu lagi, sore harinya Nurjannah segera mendatangi Keae Ansor.

“Sebenarnya penyakit apa yang menimpa suami saya, Ke?”

“Kenapa sampai sekarang tak juga sembuh?” Tanya Nurjanah. Keae Ansor menggeleng, ada sesuatu yang ganjil dalam perasaannya, “Maaf na’ cebbhing[20], penyakit Na’ Kara hanya mampu diobati oleh ibunya sendiri!”

“Maksud Keae..?”

“Na’ Kara harus diberi aeng sosona embu’na thibi,”’[21]

“Air susu ibunya?!”

“Ya, hanya itu satu-satunya jalan perantara dia sembuh,”

“Kalau tidak?”

“Kalau tidak bagaimana Keae..?”

“Tapi itulah, jalan satu-satunya bhing,”

            “Tapi, bagaimana mungkin itu Keae, ibu sudah terlalu tua dan sepuh?”

“Na’ Kara harus tetap menjalani kodratnya, menempuh hisab-lakunya,”

“Menempuh kodrat, hisab laku Keae?”

“Firasatnya begitu bhing, dia harus mencicipi kembali air susu ibunya sebagaimana dulu dia bayi, agar dia mengerti tanduk-lakunya,”

“Saya semakin tak mengerti Keae…?”

“Sudah, pulanglah kamu, sampaikan nubuat ini pada ibunya.”

***

Tanpa menunggu pagi, setelah kepulangannya, Nurjannah pun langsung bercerita pesan-pesan Keae. Lagi-lagi ibunya menjerit, “Aku sudah mengampunimu Na’…, Ma’ sudah memaafkanmu, jauh sebelum kau sakit-sakitan bahkan, ma’ juga selalu mengingatkanmu.” Istrinya turut terisak. Tak pernah mengerti, jika kemudian ibunya tidak bercerita mengenai asal hidup Kara selama ini, bahkan jauh sebelum mereka berdua menikah.

“Maafkan ibu na’, menyembunyikan ini darimu. Bahkan bukan tidak mungkin sebenarnya bila engkau ingin mencari jawaban apa yang sebenarnya dilakukannya di luar, tapi engkau begitu setia menjadi seorang istri.”

“Sebenarnya, benar apa yang dikata orang-orang selama ini tentangnya. Dia lahir dari rahim ma’, tapi tak pernah sekali pun dia mendengar nasehat, menyadari bahwa Mak adalah ibunya sendiri. Jika tidak karena Keae, Ma’ mungkin tak bisa menyampaikan ini, melihat cintamu yang begitu besar, Ma’ terkadang jadi malu. Sangat malu sekali….”

“Tahukah kamu bhing, ketika dia kecil sukanya minta minum air gula pasir, tapi sekarang, saat semua terlambat, saat semuanya telah tua dan rambut Ma’ melilit putih, dia malah meminta Ma’ mengeluarkan sumber mata air berupa susu dari dada ini. Semua itu tidak mungkin…, tidak mungkin bhing!” Sang Ibu terduduk, tubuh tuanya tersandar di lincak, “Dia hanya semakin membuatku sesak saja!”

Nurjannah ikut pula terisak, tak tahan tangisnya membesar, diikuti suara Ma’ yang makin melirih, “Sebenarnya kalau mau jujur Keae Ansor, Keae ingin berkata dengan isyaratnya, bahwa Kara memang sudah harus menghadapi akhir hidupnya dengan penderitaan teramat keras yang tiada kesembuhan ini….”

 

Telenteyan-Longos, Gapura, Sumenep, 27 Agustus 2012

 


TENTANG PENULIS

AYAT KHALILI
AYAT KHALILI

 

A’YAT KHALILI, lahir di Kota Sumenep, Pulau Madura, Jawa Timur. Karya-karyanya berupa puisi, cerita pendek, esai, artikel dan ulasan, tersebar di berbagai media lokal, nasional dan internasional, juga banyak mendapat penghargaan dan terbit lebih dari 65 buku. Penghargaan-penghargaan yang pernah diterimanya, antara lain: Menerima penghargaan Pusat Bahasa Depertemen Pendidikan Nasional (PBDepdiknas, Jakarta, 2006) dalam rangka Bulan Bahasa & Sastra 2006, sekaligus Hari Sumpah Pemuda ke-78 sebagai pemenang ke-2 Sayembara Cipta Puisi Tingkat Remaja (13-22 tahun) Nasional, November 2006; Finalis Lomba Cipta Puisi Tingkat Umum Nasional 2012, yang diadakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bekerjasama dengan NulisBuku.Com & Plot Point, Jakarta, Desember 2012; Menerima Anugerah Piala Terbaik Kampanye Sastra Institut Teknologi Bandung (ITB), Mei 2014; Menerima Penghargaan Asia Tenggara dalam Anugerah Sastra Dunia Nusantara Melayu Raya (NUMERA-Malaysia) dari Persatuan Numera Malaysia, Maret 2014; memperoleh penghargaan Festival Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada (UGM), Juni 2015.

Ia pernah diundang mengikuti Temu Sastrawan Nusantara  Melayu Raya (TSN) ke-1 (di Padang, Sumatera Barat, Maret 2012); Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) ke-6 (di Jambi, Desember 2012); Sempena Mahrajan Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara (di Sabah, Malaysia, Januari 2012); Pemerhati Pertemuan Baca Puisi Dunia Numera (di Kuala Lumpur, Malaysia, 21-24 Maret  2014), Pertemuan Sastera Budaya Negara Serumpun (Singapura, 30 Januari-06 Pebruari 2016); dll. Adapun antologi puisi tunggalnya berjudul, “Pembisik Musim.” Kontak dan komunikasi bisa melalui: khalili.telentean.longos@gmail.com(Email), A’yat Khalili II (Facebook), ayatkhalili.wordpress.com (Website),  0877-5018-1820 (Mobile/WA), ayatkhalili1/ayat_khalili (Instagram & Line). Sekarang tinggal di kota kelahirannya, Sumenep-Madura.

 


[1]. Nemorkara; musim kemarau yang berkepanjangan, diyakini oleh sebagian orang, sebagai suatu bala/ujian terhadap banyaknya masalah dan dosa-dosa.

[2]. Nemor; kemarau

[3]. Dhukon; dukun

[4]. Panarajhut, parobu, seleb; nama-nama penyakit sejenis sihir, kodeka, dan semacamnya.

[5]. Polo; pulau

[6]. Tasek mereng; laut miring

[7] Dhukon; dukun

[8]. Petodhu; petunjuk

[9] Tambha; obat, penawar, pengasihan

[10]. Nemor ka nemor; musim kemarau ke musim kemarau lagi

[11]. Tapak dhandang; jalan dengan simpang empat

[12] Lakona; pekerjaan tetap, urusan, perhitungan

[13]. Tokang Tapa; tukang tapa

[14]. Bhalhe’; tulah, ujian, musibah

[15]. Malaeb; membuat segala kebutuhan hidup serba sulit.

[16]. Tambha; obat/ramuan

[17]. Aeng ghulha; air biasa yang dicampur dengan gula pasir.

[18] Nyassa ; mencuci baju, mencuci barang-barang rumah tangga, dll

[19] Dabu; perkataan, penyampaian

[20]. Na’ Cebbhing; panggilan untuk anak perempuan

[21]. Aeng sosona embu’na thibi’; air susu ibunya sendiri