Tuesday, November 21, 2017
Home > Literasi > Resensi > Pacar Kecilku Telah Menunaikan Ibadah Puisi

Pacar Kecilku Telah Menunaikan Ibadah Puisi

Selamat Menunaikan Ibadah Puisi

Perkenalan dengan karya-karya Joko Pinurbo terjadi sejak tahun 2002 melalui puisinya yang populer hingga saat ini, Pacar Kecilku (hlm. 62). Saya tidak begitu paham tentang ketenaran puisi satu ini di kala itu. Yang saya tahu, seorang kakak kelas yang menjadi pembimbing di malam keakraban saat menjadi mahasiswa baru, menyodorkan foto kopian kumpulan puisi dan di dalamnya ada si Pacar Kecilku. Entah saya atau kakak kelas yang memilihkan puisi tersebut, sejak saat itu saya jatuh cinta pada si Pacar Kecilku.

Ketika membaca buku kumpulan puisi ini, saya kembali bernostalgia dengan kenangan bersama Pacar Kecilku. Rupanya si Pacar Kecilku tercipta di tahun 2001 dan menurut salah satu blog yang memakai nama judul puisi itu juga, Pacar Kecilku diciptakan oleh Joko Pinurbo untuk anak perempuannya.

Menariknya dari puisi-puisi karya mantan dosen Universitas Sanata Dharma ini, salah satunya mengenai kematian. Saat membaca ulang setelah bertahun-tahun tidak menyimaknya lagi, di baris terakhir tertulis: yang akan ia taburkan di atas jasadku, nanti. Kental sekali dengan nuansa kematian.

Kemudian beberapa unsur kematian di dalam puisi-puisi Joko Pinurbo saya temukan, seperti Celana (hlm. 14-15), Keranda (hlm. 22), Minggu Pagi di Sebuah Puisi (hlm. 28-29), Mudik (hlm. 69-20), Penumpang Terakhir (hlm. 73-74), Perias Wajah (hlm. 76-77), Bunga Kuburan (hlm. 78-79), Panggilan Pulang (hlm. 90), Celana Ibu (hlm. 123), Malam Suradal (hlm. 137), Kamar 1105 (hlm. 167-170), serta Kunang-kunang (hlm. 174-175).

Begitu pula dengan kata kuburan, berkali-kali digunakan dalam bait-bait puisinya. Ia mengingat kematian melalui deretan puisi dalam buku ini. Di antaranya, ia mendalami makna kematian di Hari Paskah. Bisa jadi, hal itu dipengaruhi oleh latar belakangnya yang menempuh pendidikan seminari untuk menjadi seorang pastur, meskipun takdir yang dipilihnya berkata lain, ia memilih menjadi seorang penyair. Jika sajak kerohanian Islam bisa ditemukan di dalam puisi-puisi Taufik Ismail, Sutardji Calzoum Bachri atau Acep Zamzam Noor, maka sajak kerohanian Kristen ada pada puisi-puisi lelaki yang biasa disebut Jokpin ini.

Baca juga: Ada Kecoak di Filosofi Kopi

Selain kematian, penyair yang memperoleh banyak penghargaan ini suka sekali dengan diksi celana dan sarung. Sepertinya, Joko Pinurbo memiliki kenangan atau kecintaan terhadap wujud celana dan sarung itu sendiri, terutamanya celana. Kadang kala, ia menggambarkan tentang makna dan isi dari celana dan sarung secara tersirat, kadang kala tersurat. Makna tersirat dari celana ada pada bait pertama puisi yang berjudul Celana 2 (hlm. 16). Ada sekitar 62 celana yang bisa ditemukan dalam 17 puisinya.

Diksi toilet dan kamar mandi juga menjadi kata favorit lainnya setelah celana dan sarung. Ketika Jokpin baru mencuat namanya, kata ini jarang digunakan oleh para penyair. Mereka cenderung cinta kepada alam, laiknya Sapardi Djoko Damono yang sangat mencintai hujan. Saya jadi teringat dengan cerpenis yang mengangkat tema tentang toilet, Eka Kurniawan. Ia menulis cerpen Corat-Coret di Toilet dengan isi yang tak pernah dibahas oleh cerpenis lainnya. Suatu tema dari tempat kotor yang tak diminati oleh penulis. Begitulah Joko Pinurbo pun mengambil kata untuk disematkan dalam puisinya. Ada kesan monoton, tetapi itulah ciri khas seorang sastrawan. Ia harus memiliki karakter yang akan menempel seumur hidupnya. Joko Pinurbo memiliki dua ciri khas yang melekat padanya: Celana dan Pacar Kecilku. Bisa jadi Selamat Menunaikan Ibadah Puisi pun akan melekat sangat kuat pada sosoknya.

Sudah jamak pula, bahwa seorang sastrawan membuat tanda mata untuk sesamanya. Joko Pinurbo membuat tanda mata untuk para penyair kenamaan seperti: Sapardi Djoko Damono (Rumah Kontrakan, hlm. 71-72) dan Hasan Aspahani (Puasa, hlm. 152). Secara khusus Joko Pinurbo menyematkan puisi Sapardi Djoko Damono “Pada Suatu Pagi Hari” dalam paragraf-paragraf puisi berjudul Laki-laki Tanpa Celana (hlm. 91-96).

Di puisi tersebut, Joko Pinurbo melakukan nafas panjang dalam berpuisi. Genre ini yang disebut puisi esai oleh Denny JA, meskipun banyak ditangkis oleh sastrawan dan pecinta sastra negeri ini. Saya sendiri tak tahu harus menamai puisi panjang yang lebih mirip cerpen itu dengan sebutan apa?

Baca juga: HIV dalam Sebuah Novel

Ada dua puisi panjang, sebut saja begitu, yang ada dalam buku ini, yaitu Laki-laki Tanpa Celana dan Liburan Sekolah (hlm. 161-166). Puisi terakhir cukup menarik karena Joko Pinurbo menceritakan tentang dirinya di masa lalu dan masa sekarang. Saya menangkap kesan itu dari bait berikut:

“Ibu tidak dari toilet, anakku. Ibu habis memasuki rumah tua dalam lukisan itu. Ternyata itu perpustakaan. Ibu sempat membuka-buka sekilas beberapa buku tua. Ibu senang bisa menemukan sebuah kitab puisi yang Ibu cari-cari. Judulnya lucu, Celana.”

“Celana, Ibu? Bukankah itu buku yang baru akan saya tulis dua puluh tahun yang akan datang?” (hm. 165)

Semakin menyelami puisi-puisi Joko Pinurbo, semakin memahami kesederhanaan penyair ini melalui kata-katanya. Puisi-puisi yang ditulis dalam kurun waktu 1989-2012 ini semacam sajian bagi para penikmat puisi dan pecinta Pacar Kecilku, seperti halnya saya, untuk segera menunaikan ibadah puisi sebagai suatu ibadah puisi yang paripurna. Maka, saya akan memberikan kalimat akhir tentang buku puisi ini dengan: Pacar Kecilku Telah Menunaikan Ibadah Puisi.

Selamat Menunaikan Ibadah Puisi

Judul : Selamat Menunaikan Ibadah Puisi
Penulis : Joko Pinurbo
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Kedua, April 2017
Tebal : xii + 192 halaman
Facebook Comments