Monday, October 23, 2017
Home > Literasi > Cerita > Pergi

Pergi

pergi

Danar menatap gundukan tanah merah basah di hadapannya. Aroma bunga melati yang bertabur di atasnya menusuk kuat, sekuat penyesalan yang kini tersisa mengisi penuh ruang hatinya. Dua tetas air mata jatuh tepat pada bingkai foto buram yang ada pada  telapak tangan kanan: ada ayah, ibu dan dirinya di sana. Sedangkan telapak kiri, memeluk erat nisan kayu yang ditancapkan terakhir saat jasad ibu telah tertutup rapat oleh tanah.

***

Santoso berulang-ulang menyapukan telapak tangan di perut besar istrinya. Sekali-kali ia tempelkan telinga di atasnya, lalu berakhir dengan ciuman bertubi-tubi yang kerap berujung pada tawa Lina, karena rasa geli yang teramat sangat. Kandungan Lina tinggal menunggu hari. Dokter bilang janinnya berjenis kelamin laki-laki. Kabar itu semakin membuat Santoso senang, membayangkan lawan main pada papan catur kesayangannya. Setelah menunggu hampir lima tahun, buah cintanya dengan Lina akan segera lahir.

Tangis keras bayi yang terdengar dari kamar bersalin itu membuatnya bergegas mendekat ke pintu. Ingin rasanya menerobos masuk, untuk segera melihat raut wajah pemilik tangisan. Mirip dirinya kah, atau mirip Lina Istrinya? Karena pintu tak kunjung terbuka, layaknya anak kecil yang dipenuhi rasa ingin tahu, Santoso berusaha mengintip dari lubang kunci. Ia buka mata lebar-lebar, berharap menangkap satu bayangan yang diharapkan. Ah, hanya punggung dengan baju putih milik dokter yang terlihat. Santoso memutuskan duduk, namun sebentar sudah berdiri lagi dengan gelisah.

***

Nugrah Danar Putra. Lina mengajukan nama itu untuk bayi mungil mereka. Santoso pun menyetujuinya. Bagi Santoso, nama tidak lagi menjadi penting. Kebahagiaannya begitu membuncah, lebih dari rasa senang ketika ia berhasil mengalahkan Budi di papan catur dengan skakmat, setelah remis dua kali berturut-turut.

Danar tumbuh sehat dan memberi warna lain dalam perkawinannya. Untuk mengabadikan kehadiran Danar, sore itu ia memaksa Budi datang ke rumah untuk mengambil foto dengan kamera DSLR miliknya. Satu dari sekian gambar terbaik, dibingkai dan ia letakkan di atas meja kayu di kamar tidur. Di foto itu Lina dan dirinya sedang memeluk Danar.

Begitu sudah mulai mengenal mainan, Danar lebih menyukai kuas dan bermain dengan cat air dibandingkan biduk catur yang ia berikan. Lina menanggapi dengan tertawa ketika melihat biduk catur justru dilempar Danar saat Santoso menyodorkannya.

“Danar mau jadi penggantinya Leonardo Da Vinci Mas, bukan Magnus Carlsen, sang juara dunia catur idolamu,” ujarnya.

Bakat melukisnya kian hari terus meningkat. Namun, rasa kecewa Santoso karena Danar tidak menyukai catur, sama sekali tidak mengurangi kasih sayangnya pada anak semata wayang tersebut.

Terluka. Itulah yang dirasakan Santoso ketika Danar akan melanjutkan sekolah lukisnya di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Berhari-hari suami istri itu terlibat debat, atau justru duduk diam bersama dengan kesedihan dan pikirannya masing-masing. Rasanya baru kemarin Danar terbungkus bedong, kain bayi yang dililitkan ke tubuh mungilnya agar tetap membuatnya hangat.  Santoso seperti tidak percaya kalau dalam hitungan hari Danar akan meninggalkan mereka. Kemauan Danar begitu kuat. Sifat keras kepala Lina sepertinya melekat erat pada kepribadian Danar.

Rumah tampak lenggang setelah bus besar membawa Danar pergi menuju Yogyakarta. Lina buru-buru menuju dapur dengan alasan ingin memasak nasi. Santoso sempat melihat air mata istrinya jatuh saat tangannya sibuk mencuci beras. Lina jarang menangis, Santoso menyimpulkan Lina bukan tipe perempuan cengeng. Sepanjang 23 tahun pernikahannya, hanya 3 kali Santoso melihat air mata istrinya. Pertama saat ijab Kabul, kedua saat ia mengazani Danar ketika baru lahir, dan yang ketiga adalah hari ketika Danar pergi untuk melanjutkan sekolah.

Sebenarnya Santoso sendiri sibuk dengan hatinya. Ia berdiam sesaat di kamar yang selama ini dihuni Danar. Matanya menyapu setiap sudut ruang berukuran 4 x 4 meter itu. Ada tempat tidur dengan seprai putih motif kembang-kembang kecil yang posisinya menghadap jendela. Di sisi kanan ada satu lemari kayu dua pintu, sedangkan di bagian kiri ada satu meja belajar yang selama ini digunakan Danar.

Santoso teringat apa yang ia lakukan semalam. Terjaga dari tidurnya, ia mendatangi kamar Danar dengan mengendap-endap. Cukup lama ia duduk di pinggir ranjang dan memandangi wajah putra semata wayangnya yang lelap tertidur. Dadanya terasa sesak oleh rasa takut kehilangan yang besok akan ia hadapi. Ia berharap Danar mengubah keputusannya. Santoso tahu harapan itu tidak berpeluang terjadi.

Sebelum kembali ke kamarnya, mata Santoso tertuju pada bingkai foto di atas meja belajar Danar. Satu-satunya foto keluarga yang pernah diabadikan, itu pun saat Danar masih bayi. Kurang lebih tiga bulan umurnya pada saat itu. Bingkai tersebut ia selipkan pada tumpukan baju Danar yang sudah tersusun rapi dalam travel bag. Santoso hanya ingin Danar mengingatnya: mengingat ayah dan ibunya. Ia begitu takut dilupakan.

Rumah menjadi lebih sunyi. Lina semakin menyibukkan diri di kebun bunganya, sementara Santoso lebih banyak duduk termenung memandang bidak-bidak catur yang nyaris tidak pernah lagi ia sentuh. Sesekali Budi datang mengajaknya bertanding, tapi skakmat yang dikantonginya tetap tidak dapat menyamai rasa gembiranya ketika Danar lahir.

“Jangan terlalu dipikirkan San, ingat kesehatanmu. Sudah 2 kali dalam satu bulan ini maag kronismu kambuh,” Budi selalu mengingatkan sebelum ia pulang.

Lina juga terlihat semakin khawatir dan terpaksa menunggui Santoso yang malas sekali minum obat dari dokter. Sampai akhirnya, malam itu Santoso mengeluh sakit perut. Lina menyadari bahwa sakit Santoso kali ini lebih parah dari biasanya. Tubuh Santoso panas tinggi. Ia meringkuk dengan lengan memegangi perut, sementara keringat sebesar biji jagung membasahi dahi karena berusaha menahan rasa sakit di lambungnya.

Lina mencoba menghubungi Danar. Ketika itu masih pukul 02.00 dinihari, dan kecil kemungkinan Danar akan mengangkat telepon darinya.

Beberapa kali mereka mencoba menghubungi Danar, namun panggilan itu banyak tidak terjawab. Kalau pun dapat mendengar suara Danar, mereka hanya bisa berbincang tidak sampai 60 detik. Danar kerap berjanji akan menelepon kembali, tapi kenyataannya sejak pagi hingga larut malam telepon yang ditunggu tidak juga berdering.

“Tidurlah…, Mungkin Danar begitu sibuk dengan persiapan pameran besarnya bu,” Santoso selalu mencoba memberi alasan pada Lina yang sudah duduk sejak sore tak jauh dari gagang telepon, menunggu janji Danar.

Namun, Lina tidak pernah tahu ketika dirinya tidur, justru Santoso yang menempati kursi yang ia duduki sebelumnya, berharap bunyi telepon masih akan berdering dari putranya.

Lina masih terus mencoba menghubungi Danar. Nada sambung itu terdengar, namun tidak kunjung diangkat. Tangisnya mulai pecah, terlebih ketika ia melihat tubuh Santoso menggigil hebat. Gagang telepon itu terlepas dari tangannya. Lina berlari mendekati tempat tidur Santoso. Lina berupaya mengguncang keras tubuh suaminya, memanggil-manggil namanya. Namun kesadaran Santoso makin menipis. Ia mendengar suara Lina yang menangis, tapi dalam bayangannya Santoso hanya melihat Danar. Melihat Danar melalui kenangannya. Hingga akhirnya Santoso pergi dalam buncah kerinduan diiringi tangis Lina.

***

Yogyakarta bukan tempat yang dekat. Butuh empat hari tiga malam untuk sampai ke sana dari Lembata Kupang, kampung halamannya. Satu perjalanan yang tidak mungkin Lina tempuh seorang diri.

Kabar duka berpulangnya Santoso juga tidak bisa tersampaikan pada Danar. Nomor HP yang terakhir kali Danar berikan, tiba-tiba tidak bisa dihubungi. Sedangkan telepon apartemennya justru diangkat oleh penghuni lain yang menyampaikan ketidaktahuannya terkait keberadaan penghuni sebelumnya.

Lina justru mendapat kabar dari Budi, bahwa kini karier Danar mulai bersinar. Danar akan menggelar pameran lukis tunggalnya di London dalam dua hari ke depan. Budi menyuruh Lina agar menonton acara pameran tersebut melalui salah satu stasiun televisi swasta yang meliput. Budi mengetahui informasi itu dari televisi dan internet, itu pun setelah Lina merengek minta tolong padanya untuk mencari tahu keberadaan Danar, si buah hatinya.

Di tinggal oleh dua orang terkasih membuat Lina makin rapuh. Ia juga mulai sakit-sakitan, tidak teratur makan dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk duduk di depan TV, berharap dapat melihat kembali berita tentang Danar. Pameran tunggal Danar yang sempat ditontonnya kemarin, justru membuat harapannya makin besar, kerinduannya makin membuncah. Danar telah menjadi seorang pelukis terkenal. Lina melihat Danar sudah sangat berbeda dari saat terakhir kali mereka bertemu.

Yang dilihatnya pada pertunjukan berdurasi tidak lebih dari 3 menit itu adalah sosok laki-laki matang yang penuh rasa percaya diri. Sosoknya tinggi tegap, wajahnya tenang, kumisnya tipis, dengan belahan rambut yang tersisir rapi. Berbeda sekali dengan Danar miliknya dahulu. Danar tampak jalan berkeliling di antara para pejabat berjas, sambil memperlihatkan karya lukisannya yang menggantung di dinding ruang pameran tersebut. Dia tampak tenang menghadapi pertanyaan wartawan, menandakan kematangan dirinya. Belum lagi rasa rindunya terobati, tayangan tersebut telah berakhir, berganti dengan acara sinetron yang ia sendiri tak berminat menontonnya.

Sejak itulah kursi santai di depan TV menjadi tempat favorit bagi Lina untuk menghabiskan rasa sepinya. Berjam-jam ia melihat siaran demi siaran TV, berharap dapat melihat kembali sosok Danarnya dalam satu dua ulasan berita. Rasa sepi dan rindu makin menyeruak dalam, menyisakan luka dan kecewa yang tak terdengar oleh helaan nafasnya sendiri.

Sore itu, Lina memutuskan menulis sepucuk surat. Untuk Danar di mana pun ia berada.

Isinya cukup singkat karena Lina juga tidak pandai menulis. Tulisan itu pun makin tidak jelas terbaca karena terhapus air mata yang menetes deras ketika ia menuliskannya.

Danar anakku, Ibu rindu. Terlebih Bapak yang lebih dulu pergi dengan mendekap erat kerinduannya padamu. Pulanglah Nak! Lihat pusara Bapak dan basuh rindu Ibu dengan pelukmu. Jangan lupakan kami Nak, sebagaimana kami yang tidak sedetik pun pernah melupakanmu. Dari Ibu.

Belum lagi sempat melipat surat tersebut atau mengirimkannya, Lina merasa tubuhnya ringan, semakin ringan, bertambah ringan dan sampai akhirnya ia dapat melihat bagaimana tubuhnya pun ia tinggalkan. Santoso suaminya ada di sana, tersenyum, menyambut dan mendekapnya.


Dewi Yunita Widiarti, sehari-hari bekerja di sebuah lembaga konservasi di Jambi.

Facebook Comments