Monday, October 23, 2017
Home > Dapur Puan > Kuliner > Pertempuran Rasa di Dapur Tempur Jambi

Pertempuran Rasa di Dapur Tempur Jambi

Dapur Tempur

Siang hari yang terik membuat saya mencari tempat yang teduh untuk santap siang. Saya hendak bertemu dengan dokter di RS Theresia, jadi Mal WTC menjadi pilihan yang paling baik menurut saya. Letaknya yang hanya 500 meter dari RS Theresia membuat saya memilih tempat ini, selain karena banyaknya pilihan resto dan cafe di lantai 1 hingga lantai 4.

Kali ini, saya ingin mencoba resto yang belum pernah saya sambangi. Saya menuju lantai 3 dan melihat ada 2 resto yang bersebelahan, satunya menyajikan menu khas daging sapi dan satunya lagi menyajikan beragam menu Indonesia dan kombinasi menu oriental. Saya mendekati resto yang kedua, melihat menu yang tertera di baleho kecil yang terpampang di kedua sisi pintu masuk.

“Silakan masuk, Mbak,” sapa salah satu pegawai resto tersebut.

“Saya lihat-lihat dulu menunya,” begitu jawaban saya pada pegawai perempuan yang kemudian masuk ke dalam resto.

Saya bolak-balik dua kali untuk memilih makanan yang tersaji. Tak ingin segera masuk karena tak mau kecewa dengan pilihan masakan. Saya tertarik dengan masakan sapo tahu, meskipun ada beberapa masakan lainnya yang cukup menarik perhatian. Setelah menetapkan hati dan pilihan, saya akhirnya masuk ke resto yang dinamai Dapur Tempur.

Baca juga: Domesteak Café Alternatif Tempat Nongkrong dan Selfie

Terlihat di selurusan pintu masuk konsumen yang terdiri dari 4 orang sedang menunggu masakan yang mereka pesan. Di belakang mereka terpampang lukisan kepulauan Indonesia dengan warna putih dan nuansa hijau sebagai warna dasarnya. Perpaduan warna yang mencerminkan tema militer. Saya menuju ke arah kiri dan memilih duduk di kursi untuk 2 orang. Saya memilih tempat tersebut karena hanya sendirian. Jika saya memilih tempat dengan banyak kursi, maka saya akan terlihat sangat kesepian.

Seorang pegawai memberikan buku menu. Karena saya sudah menetapkan hati, maka tak terlalu lama memilihnya yakni sapo tahu. Namun, saya tetap membuka-buka buku menu itu untuk melihat variasi makanan dan minuman yang tidak terpampang di depan resto. Saya melihat daftar minuman dan mata tertuju pada es cendol. Saya penggemar berat minuman ini. Jika ada resto atau cafe menyajikan minuman ini, maka saya tak tahan untuk memesannya.

Saya harus menunggu sekitar 10 menit untuk memperoleh sapo tahu, berbeda dengan es cendol yang tak sampai 5 menit sudah tersaji. Tentu saja saya potret terlebih dahulu es cendol ini sebelum saya nikmati. Penyajiannya tak terlalu istimewa, namun jangan berburuk sangka dengan rasanya. Saya aduk keseluruhan bahan yang tertuang dalam gelas itu.

Ada cendol, santan dan gula. Saya menginginkan nangka, tetapi tidak saya temui. Hanya aromanya saja yang saya temui. Saya cecap airnya dan kesegaran terasa di kerongkongan dan manisnya sangat pas. Saya tak suka minuman ataupun makanan yang terlalu manis. Ternyata ada cincau berbentuk dadu di dalam es cendol ini, perpaduan yang kurang pas menurut saya, namun ternyata setelah saya rasakan cukup lumayan. Maklum, saya bukan penggemar cincau.

Datanglah menu utama makan siang saya, sapo tahu dan nasi. Semangkok sapo tahu yang membuat cacing di perut saya menari-nari. Saya cicip kuahnya. Segar sekali dan gurih seperti rasa sapo tahu yang pernah saya buat dan makan di resto lainnya. Hanya saja, sapo tahu di Dapur Tempur ini tak menggunakan tepung tapioka yang membuat kuahnya agak kental. Saya tak mempermasalahkan ketiadaan tambahan tepung tapioka tersebut.

Saya memesan sapo tahu ayam karena saya alergi seafood. Sangat disayangkan bagi seorang pecinta kuliner yang memiliki makanan pantangan sehingga tidak bisa menikmati semua masakan. Meski begitu, saya tak pernah berhenti untuk mencoba masakan di resto dan cafe yang  saya inginkan. Seperti sapo tahu di Dapur Tempur ini yang di dalamnya terdapat tahu sutra berbentuk lingkaran pipih, potongan ayam, wortel dengan irisan bawang bombai, daun bawang dan cabai merah keriting.

Baca juga: Merasai Pelbagai Menu Enak di Solaria

Perut saya yang memiliki porsi kecil untuk makanan, membuat saya harus berhenti sejenak untuk menurunkan suapan demi suapan sapo tahu dan nasi yang telah masuk ke lambung. Sapo tahu ini enak dan saya ingin cepat menghabiskannya tetapi perut saya tak sanggup, terlebih saya selingi dengan meminum es cendol, otomatis lambung menjadi penuh.

Sejenak, saya membuka buku Selamat Menunaikan Ibadah Puisi karya Joko Pinurbo untuk menanti proses lambung meremas makanan dan melimpahkan ke usus halus. Setelah rasa lega terasa, saya melanjutkan kembali makan. Ini bukan karena masakan tak enak, memang karena saya tak seharusnya memesan nasi sehingga porsi pas untuk perut mungil saya. Akhirnya saya menghabiskan sapo tahu dan es cendol meskipun menyisakan sepertiga nasi. Sungguh, saya amat kenyang dibuatnya, seolah selesai melakukan pertempuran, tak berdaya karena kenikmatan rasa dua menu yang saya pilih, sapo tahun dan es cendol.

Facebook Comments