Tuesday, November 21, 2017
Home > Literasi > Resensi > Sy. Fasha: Memoar Daun Suji dan Berkah Kemiskinan

Sy. Fasha: Memoar Daun Suji dan Berkah Kemiskinan

Memoar Daun Suji

Saya mendapatkan buku biografi ini karena memenangkan kuis komentar di akun instagram Bu Yuliana Fasha. Alhamdulillah, saya pikir ini salah satu bentuk perhatian Bu Yuli terhadap masyarakat Jambi agar buku biografi ini bisa dibaca oleh siapa saja. Pemenangnya pun beragam, tak hanya warga Kota Jambi saja. Lah, saya yang warga Kabupaten Muaro Jambi pun bisa terpilih menjadi pemenang. Senang sekali bisa bertemu Bu Yuli dan Pak Fasha yang ternyata ramah. Saat itu para pemenang diajak berfoto, meski bagi saya yang terpenting dari sebuah pertemuan dengan orang-orang besar adalah perbincangan dan bertukar pikiran.

Sekilas melihat kover buku dan membaca judulnya di akun instagram Bu Yuli, Bocah Minyak Jelantah, saya kembali teringat masa kecil saya yang juga pernah merasakan kesulitan dalam hal ekonomi. Makan nasi putih yang dicampur minyak jelantah dan garam saja, tapi makanan itu terasa nikmat apabila kita bersyukur. Komentar saya saat itu sederhana, mengapa saya  menginginkan membaca buku ini? Alasannya pun sederhana, selain saya pencinta buku, Pak Fasha, sebagai walikota Jambi, di mata saya adalah pemimpin yang out of the box yang mampu memberikan inspirasi-inspirasi baru. Contoh kecilnya, Pak Fasha berani mengadakan pesta perayaan imlek bagi kaum minoritas dan hal ini belum pernah ada sebelumnya.

Secara kemasan, buku ini sangat menarik. Disertai foto-foto berwarna Sy. Fasha dari beliau kecil  hingga menjabat sebagai Walikota Jambi. Juga ada nukilan-nukilan Sy. Fasha di tiap bab yang menggugah semangat pembaca untuk selalu melakukan hal-hal positif. Font-nya berwarna biru dongker, sementara judul bab, keterangan foto, nukilan, halaman buku yang terletak di kaki buku, semuanya berwarna oranye. Perpaduan dua warna ini sesungguhnya menarik, namun karena mata saya minus sekaligus silinder, pada beberapa hal ini cukup menyulitkan.

Buku yang terdiri atas 21 bagian lengkap dengan prolog dan epilog ini mengisahkan perjalanan hidup Sy. Fasha sejak ia dilahirkan sebagai anak ketujuh dari delapan bersaudara di Kampung Tembok Batu, Sumatera Selatan, sebuah perkampungan yang letaknya bersebelahan dengan pertamina. Ternyata kampung ini juga dijuluki sebagai “Kampung Texas” karena banyak berisi sarang penjahat, seperti pencopet, preman, maling, hingga perampok kelas kakap. Ibunya bekerja sebagai guru ngaji keliling, sedangkan ayahnya bekerja sebagai satpam di pertamina. Penghasilan yang pas-pasan membuat keluarga ini dililit utang bahkan dicemooh oleh masyarakat. Meski hidup dalam kemiskinan dan sering mengonsumsi nasi putih dan minyak jelantah, mereka selalu marasa bersyukur. Nikmat bersyukur inilah yang kemudian memberikan berkah bagi kehidupan yang sesungguhnya. Hidup yang benar-benar hidup.

Baca juga: Di Tanah Lada: Bukan Romantika Dunia Anak-Anak

Sebagai anak satpam pertamina, Fasha kecil bebas bermain di komplek pertamina bersama anak-anak karyawan yang merupakan orang berada. Kecerdasan Fasha telah tampak dari masa kecilnya. Saat ia pernah mengikuti tes IQ hasilnya 130. Wow. Tinggi bukan? Fasha pandai bergaul sejak kecil, kemudian saat masih sekolah dasar bakat bisnisnya juga mulai terlihat. Hal-hal yang paling melekat dalam ingatannya, yakni daun Suji. Fasha seringkali membantu sang nenek memetik daun suji lalu menjualnya ke pasar. Uang hasil penjualan membuatnya sangat puas karena di dapat dari kerja keras sendiri. Di dalam keluarga Fasha juga diajarkan bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan haruslah bekerja keras.  Delapan warisan yang ditinggalkan orang tua, diam-diam membentuk Fasha menjadi seseorang yang bernilai dan loyal terhadap siapa saja. Beberapa di antaranya harus bersikap jujur, berani, bermental baja, dan rajin berdoa.

Meski orang tua Fasha sebagai buruh, namun pengorbanan orang tua inilah yang pada akhirnya menjadikan saudara-saudaranya dan juga Fasha mampu menamatkan perguruan tinggi. Kenakalan-kenakalan Fasha sejak masa remaja pun juga dikisahkan, banyak hal-hal konyol yang menggelitik dan membuat saya tersenyum-senyum sendiri bahkan sampai heran. Sejak SMP hingga kuliah Fasha juga aktif berorganisasi. Organisasi-organisasi inilah yang membuatnya paham bahwa menjalin relasi adalah hal penting. Saat berkuliah di jurusan Teknik Sipil, dari sisi akademik Fasha tidak menonjol, namun Fasha bisa diandalkan sebagai ketua tingkat dan ketua Menwa di kampus.

Baca juga: Mata Hari, Perempuan di Pusaran Kekuasaan

Dendam Fasha pada kemiskinan di masa lalu, membuatnya berani mengambil keputusan-keputusan penting, yakni mengundurkan diri menjadi pegawai pertamina dan mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai kontraktor yang saat bujangan kala itu gajinya sudah mencapai 25 juta rupiah. Fasha nekat membuka usaha sendiri dengan bermodalkan kerja keras dan kegigihan. Meski tidak memiliki rupiah, dengan keberanian dan kecerdasannya, Fasha sungguh menginspirasi banyak pembaca yang kelak akan meniru rekam jejaknya. Buku ini sangat layak dibaca oleh siapa saja yang ingin meraih sukses. Bayangkan saja, Fasha yang dulu hidup serba kekurangan, bahkan tak memegang uang sepeser pun, kemudian meraup untung milyaran rupiah melalui kerja kerasnya. Ini tentu perjalanan hidup yang pantas ditiru bagi siapa saja. Kekuatan narasi yang dibangun oleh Anab Afifi menimbulkan perasaan bergemuruh di dalam dada pada bab-bab awal saat saya membacanya.

Kekurangan buku ini terletak pada inkonsistensi penulis, yakni selain penggunakan kata aku dan saya yang seringkali bentrok, juga pada bab delapan warisan hlm. 230 dijelaskan bahwa Fasha mengonsumsi minyak jelantah selama delapan tahun, namun pada epilog di hlm. 241, penulis menuliskan selama sepuluh tahun. Tentu saja ini membingungkan saya sebagai pembaca. Mungkin jika buku ini hendak diterbitkan lagi edisi revisi bolehlah diperbaiki agar menjadi sempurna. Selain itu adanya pengulangan-pengulangan kisah pada beberapa bab yang terkadang terasa membosankan. Pada bab ini telah ditulis, kemudian diulang lagi pada beberapa bab ke depan. Namun demikian, secara keseluruhan dua hal ini tidak akan mengganggu kehebatan perjalanan kisah hidup Fasha yang dinarasikan penulis. Intinya, siapa saja yang membaca tidak akan menyesal memiliki buku ini.

Saya masih ingat ketika dulu Pak Fasha kampanye di lapangan luas yang berdekatan dengan kantor saya, Ganesha Operation Thehok Kota Jambi, saat itu saya sedang melakukan telemarketing. Di sela-sela jeda jam kerja, saya mendengar pidato beliau yang menyatakan “Jika saya terpilih menjadi Walikota Jambi, semua uang gaji saya akan saya sumbangkan ke masyarakat miskin.” Awalnya, saya pikir ini absurd sehingga menimbulkan banyak pertanyaan dalam kepala saya. Namun, setelah membaca sepak terbang beliau di buku biografi ini, saya percaya bahwa Pak Fasha memang berbeda dari yang lain. Beliau tidak mengejar materi sebab dari usahanya saja beliau mendapatkan untung milyaran rupiah. Beliau pun kini telah membuktikan bahwa uang gajinya memang sepenuhnya digunakan untuk membantu rakyat miskin.

Baca juga: Ada Kecoak di Filosofi Kopi

Saat menjabat sebagai walikota Jambi, Fasha sering mendapat penghargaan bahkan dari presiden Jokowi. Beliau melakukan banyak hal-hal inspiratif, seperti memberikan pelayanan kesehatan, mengontrol kebersihan kota hingga tiga kali berturut-turut menjadi juara di tingkat nasional, memberangus bandar narkoba di Pulau Pandan dan menutup lokalisasi Payo Sigadung atau dikenal dengan istilah Pucuk, yang ternyata jumlah PSK-nya mencapai 600-an dengan jumlah mucikari sekitar 400-an. Ternyata jumlah yang sangat banyak ini separuh lebih besar dari jumlah PSK lokalisasi Doli di Surabaya yang juga telah ditutup oleh walikotanya.

Masa muda, pengorbanan, persahabatan, kisah cinta yang menggelora, jatuh bangun membina usaha, dan haru biru saat orang tuanya menutup usia adalah bagian dari perjalanan Fasha yang mau tidak mau juga akan dijalani setiap orang. Sebab kematian adalah niscaya dan menjadi sukses adalah keniscayaan bagi orang-orang yang percaya bahwa sukses mampu diraih oleh siapa saja.

Bocah Minyak Jelantah

Judul Buku : Bocah Minyak Jelantah, A True Story of Fasha
Penulis : Anab Afifi
Penerbit : Cordoba Books
Cetakan : Pertama, 2017
Tebal Halaman : 243 halaman
Facebook Comments