Thursday, June 21, 2018
Home > Literasi > Cerita > Turun Ranjang

Turun Ranjang

Turun Ranjang

Aku pandangi foto mendiang istriku. Ia baru saja meninggalkan kami seminggu yang lalu. Penyakit kanker rahim sudah menggerogotinya selama dua tahun terakhir. Aku memperlakukannya seperti tuan putri, meski hanya dua tahun. Selama enam belas tahun menikah dengannya, dialah yang menjadikanku seperti seorang raja. Tak sehari pun ia menelantarkanku.

“Papa, ini ada surat dari Mama.”

Anak sulungku membangunkanku dari lamunan. Lelaki berusia lima belas tahun itu menunduk di hadapanku, tak berani memperlihatkan wajahnya. Sudah seminggu aku berkabung dan tak mau keluar dari kamar.

Anak-anak bingung dengan sikapku yang tak mau keluar barang sedetik pun. Semua keperluan disediakan anak sulungku. Hanya dialah yang masuk ke kamar. Kedua adiknya entah ke mana, aku terakhir melihat mereka saat pemakaman istriku.

“Adik-adikmu di mana?”

Anak sulungku terkejut saat aku menanyakan hal itu padanya. Ada semacam ketakutan dan kebingungan di wajahnya.

“E… e… mereka….”

“Di mana mereka?” tanyaku datar.

“Em…. Ada tante membawa mereka, Pa.”

“Tante siapa? Kamu tahu kan Papa dan Mama tak punya adik?”

“Dia memberikan nomor hape.”

“Kenapa kamu seenaknya memberikan adikmu ke orang lain?!”

Suaraku meninggi. Aku pojokkan tubuh anak sulungku yang nyaris sama tinggi denganku. Aku cengkeram lengannya dan sedikit terkejut. Lengannya begitu kurus, nyaris tak berdaging. Namun, aku tetap tak melepaskannya meski ia mengaduh.

“Dasar, anak tak….” Tercekat lidahku saat aku akan mengatakan kata-kata buruk. Teringat dengan mendiang istriku yang selalu mengingatkanku untuk menahan diri saat marah dengan anak-anak, sehingga kata-kata buruk tak keluar dari mulutku.

“Mana nomor hapenya?!”

“Ada di meja dekat tivi.”

Ia menjawab dengan lirih. Nyaris aku tak mendengarnya jika tak berada tepat di wajahnya. Anak lelakiku itu tetap tak berani menatapku. Sejenak, aku menatap wajahnya yang tirus. Ada semburat kesedihan di raut wajahnya yang persis sama dengan wajahku, namun sifatnya sama persis dengan mendiang istriku. Tak pernah melawan dan sangat lembut. Aku tak menyukai lelaki dengan sifat seperti itu, terlalu lembek dan istriku selalu membelanya jika aku memarahinya.

Aku mengambil nomor hape di meja dekat tivi dan menghubunginya. Suara perempuan yang tak asing di telingaku, tetapi aku ragu dengan kemampuan pendengaran dan ingatanku sendiri. Perempuan itu mengajakku bertemu dua hari lagi. Ia memilih cafe yang tak asing lagi bagiku. Cafe yang sudah 15 tahun tidak aku sambangi. Aku pun makin meragu.

Aku menuju dapur, tempat mendiang istriku memasak sehari-hari. Aku sangat merindukan masakannya yang selalu bisa menyesuaikan dengan seleraku. Aku benar-benar merindukannya. Aku usap seluruh perabotan yang ada di dapur. Debu tipis menyelimuti beberapa perabotan memasak yang lumayan lengkap itu. Saat-saat paling membahagiakan bersama istri dan anak-anakku adalah saat memasak bersama. Yang paling kuat tersimpan dalam ingatan: merendang. Ia bersama kedua anak perempuanku menyiapkan rupa-rupa bahan dan bumbu, sedangkan aku dan anak sulungku mengaduk rendang dengan penuh gelak tawa. Biarpun anak sulungku perangainya selembut mendiang istriku, namun tenaganya sudah menyamaiku. Ia terlihat ringkih tetapi energinya berlimpah. Belakangan, aku tahu bahwa ia menjadi pelatih pencak silat anak-anak SD. Istriku yang memaksanya masuk ke seni bela diri itu.

Namun, tetap saja, aku tak menyukai lelaki berperangai lembut. Sama dengan sifat mendiang istriku yang sangat lembut, nyaris tak pernah marah selama hidup serumah denganku. Meski begitu, lama-kelamaan aku berpikir bahwa aku beruntung bisa menjadi suaminya karena kehalusan sifatnya yang meluluhkan kerasnya pendirianku.

Ia pendengar yang baik. Keluh kesahku dengan pekerjaan dan keluarga didengarkan dengan baik. Ia selalu memberi saran yang baik lagi bijak. Hanya satu kekurangan yang tak ia miliki: tak mampu membuatku jatuh cinta padanya.

Hingga detik ini, hatiku tak pernah berdegup kencang untuknya. Aku merindukannya sebagai seorang istri bukan sebagai perempuan yang aku cintai seumur hidupku. Aku memujanya sebagai seorang sosok sempurna dengan posisi istri paling berbakti. Aku hidup bahagia dengannya meski tanpa getar-getar cinta.

Terdengar konyol bukan? Begitulah kenyataannya bahwa cintaku selama ini bukan untuk istriku. Hatiku sudah terpaut jauh dengan seseorang yang entah di mana rimbanya. Ia meninggalkanku tepat di hari perayaan lamaran kami. Kenangan pahit dan ingin aku lupakan. Lelaki tak boleh lemah karena cinta, jadi aku harus melupakannya meski tak pernah bisa. Aku merindukannya dengan seluruh getar-getar cinta di hatiku.

Tetiba aku teringat padanya saat perempuan yang membawa kedua anakku itu bersuara. Aku yakin itu suaranya. Semoga itu bukan dia, karena aku belum siap menemuinya. Hatiku sedang hancur sepeninggalan istriku dan rasanya belum sanggup merasakan getar-getar asmara. Aku limbung.

Menjelang dua hari menemui perempuan itu. Aku mempersiapkan diri.

Aku meminta pada bosku untuk cuti 2 minggu. Memaksimalkan masa berkabung dengan memandangi foto dan mengingat semua kenangan bersama mendiang istriku. Aku ingin menata dan menyimpan kenangan-kenangan manis bersamanya, kemudian kembali menjalani hidup, tanpanya.

“Bawalah anakmu.”

Perempuan dengan suara yang sangat mirip mantan kekasihku itu meminta untuk membawa serta anak sulungku.

Aku melihat cafe penuh kenangan itu telah banyak berubah, namun ada satu yang tak berubah, anjungan di dekat pohon sawo, tempat favoritku dengannya.

Sosok perempuan seperti dugaanku tengah duduk dengan kedua anakku di anjungan itu. Hatiku berdebar-debar. Aku menyembunyikannya dari anak sulungku. Aku tak mau ia mengetahui tentang perasaanku. Ia begitu mencintai ibunya, tentu tak akan rela ada pengganti mendiang istriku.

“Apa kabar, lama tak jumpa?” Ia menyapa dengan senyuman yang membuat jantung makin berdegup.

“Baik. Kamu?”

“Seperti yang kamu lihat. Silakan duduk. Akan aku ceritakan semuanya.”

Ia menceritakan tentang hubungan dirinya dengan mendiang istriku. Tak satu kata pun, ia menceritakan hubungan kami di masa lalu. Ia menjaga perasaan anak-anakku.

Aku tak pernah menyangkanya bahwa perempuan yang selama ini aku cintai dan meninggalkanku adalah adik kandung mendiang istriku.

“Maafkan aku dengan segala keegoisan yang telah aku perbuat di masa lalu. Namun, kamu tak akan pernah hidup sebahagia dengannya jika menikah denganku.”

“Hmm…. Begitu menurutmu?”

Sejenak menjauh dari ketiga anakku untuk mengungkapkan perasaan yang tertimbun selama tujuh belas tahun. Dia meninggalkanku setahun sebelum menikahi mendiang istriku. Banyak tanya yang bergelinjang di pikiranku. Aku mengungkapkan rasa penasaranku itu dan ia menjawabnya tanpa beban.

Tak pernah aku sangka, istriku sengaja mendekatiku demi dirinya. Mantan kekasihku itu memutuskan untuk meninggalkanku karena ia mengandung anak dari sahabatnya. Ia diperkosa sekitar 3 bulan sebelum perayaan lamaran kami. Ia tak sanggup mengungkap kebenaran dan memilih kabur ke Kanada, menjadi orang tua tunggal. Ia kembali dua tahun yang lalu, saat mendengar istriku sakit. Istriku memintanya kembali ke Indonesia.

Anaknya lelaki, satu kelas dengan anakku. Sahabat anakku. Sering kali ke rumahku dua tahun terakhir ini. Betapa aku tak peduli dengan anak sulungku itu. Bersit kekecewaan pun menyumbat hatiku. Perasaan menyesal mulai merasukiku. Seandainya aku peduli dengan anak lelakiku, pasti aku akan cepat menyadari bahwa mereka bersaudara.

Anak sulungku sudah menyadarinya sejak lama, ketika ibunya mulai sakit-sakitan. Saat aku bertanya tentang sepupunya itu, ia menjawab: “Mama sudah lama memberitahuku, sejak ia sakit. Mama juga memberitahuku tentang hubungan Mama dengan Tante, tapi aku tak keberatan. Itu masa lalu Papa dan aku memang bersahabat baik dengan anak Tante.”

Perkataan anak sulungku itu menyadarkan bahwa ia sudah mulai dewasa. Aku baru memahami bahwa sifatnya yang lembut itu lebih baik buatnya karena kepekaan dan sikap dewasa yang tak aku miliki saat seusianya sehingga membuat ia mampu menerima masa laluku.

Masa cutiku sebentar lagi habis. Pertanda bahwa masa berkabung pun berakhir. Sejak aku bertemu dengan adik mendiang istriku sekaligus mantan kekasihku itu, aku tak lagi berdiam diri di kamar. Meski, kebiasaan memandang foto istriku belum juga menghilang.

Seperti malam ini, malam terakhir sebelum kembali berkutat dengan pekerjaan. Aku memandangi foto istriku. Saat hendak mengambil buku di meja, mataku tertuju pada surat dari mendiang istriku yang belum sempat dibaca.

Aku membukanya. Ah, berlebihan sekali mendiang istriku itu, pikirku. Tak ada banyak kalimat di kertas itu. Tak seperti bayanganku.

Untuk Papa tersayang.

Maafin Mama yang sudah menutupinya selama 17 tahun. Mama mohon, menikahlah dengan Tante Sarah. Demi anak-anak kita. Hiduplah bahagia.

Aku tersenyum dan membaringkan tubuhku di ranjang yang penuh kenangan tentang pergumulanku bersama mendiang istriku.

Mama, aku merindukanmu.

 

Hutan Lindung, 2 September 2017

 


Puteri Soraya Mansur, penulis kumpulan cerpen Among-among (2016) dan kumpulan puisi Peri Cantik Untukkmu (2017)

Facebook Comments