Wednesday, December 12, 2018
Home > Literasi > Cerita > Tuyul

Tuyul

Tuyul

Gimana Bu Menik, semalem lihat lagi?”

Sekonyong-konyong aku jadi seleb, semua tetangga bersaing menemuiku tiap pagi untuk dapat berita terbaru.

Nggak, saya langsung tidur,” jawabku malas.

Memangnya aku tukang gosip! Wajah kecewa seketika terpasang merata di paras mereka. Lagipula, bagaimana hendak diadili jika saksinya hanya aku seorang. Bisa-bisa aku disangka memfitnah.

“Ingat ya, saya tidak iri sama dia. Tidak punya urusan apa-apa, ini cuma gara-gara keceplosan. Agak nyesel juga sih!”

Ih, gak apa-apa lagi. Malah bagus! Jadi kita-kita tahu, bahwa uang belanja yang selama ini hilang, bukan diambil suami, bukan dicuri anak. Tapi ditilep tuyul!” Bu Nani selalu semangat membahas hal ini.

“Tapi saya nggak enak, kan belum terbukti. Nanti dikira saya ada apa-apa sama keluarga Sofiah.”

“Belum terbukti gimana, katanya Bu Menik lihat sendiri.” Bu Paras mendelik.

“Saya berani sumpah apa pun, saya bener-bener lihat anak kecil botak, telanjang, tangannya panjang berlari ke rumah Sofiah. Tapi saya gak tahu itu makhluk apa, dan apa memang peliharaannya Sofiah. Saya cuma lihat sampai situ.”

Seperti yang lalu-lalu, itulah penjelasanku pada pemburu berita di warung sarapan Nyai Neti. Perempuan tua pemilik warung yang kami panggil Nyai — artinya nenek, itu makin hari makin ramai pembelinya berkat berita yang kutiup sejak bulan lalu.

Sekira empat puluh hari ke belakang, aku keluar rumah malam hari. Karena suamiku selalu lupa membuang sampah, maka aku sendiri yang melakukannya. Berjalan kaki ke ujung lorong pada jam 9 malam, belum begitu larut tapi sudah sangat sepi. Tumben sekali, jika tahu akan sesunyi itu, aku tak akan nekat keluar meski harus menahan hidung menanggung aroma sampah.

Tiba di depan tempat sampah besar yang diperuntukkan bagi warga Lorong Remaja — di kotaku orang-orang lebih mengenal nama lorong daripada nama jalan — nampak bayangan seorang anak kecil tengah duduk di atas salah satu sisi bak sampah itu. Firasatku mulai tak enak, mana mungkin malam-malam begini ada anak yang dibiarkan orangtuanya bermain sendiri di tempat sampah.

Benar saja, begitu anak itu menoleh padaku, seringainya tak seindah anak-anak seharusnya. Sama sekali tak lucu, justru menyeramkan. Tapi aku tidak lari, justru ia yang melompat dan lari menjauhiku. Aku pun ikut berlari, mencari tahu ke mana ia pergi. Dan, belum lagi aku lelah, bocah menyeramkan itu telah hilang menembus sebuah rumah. Rumah janda muda beranak lima, Sofiah.

“Masuk akal sih, anaknya lima, suami tidak ada. Dia cuma karyawan laundry, berapa sih gajinya? Paling cukup makan dua hari,” ketus Bu Paras saat mendengar ceritaku dari Nyai Neti.

Sungguh, aku menyesal cerita pada nenek tua itu. Padahal tema yang kuangkat saat bercerita adalah soal penampakan hantu anak kecil. Kukira akan berujung pada anak korban kekerasan yang kemudian wafat, lalu ruhnya mengawang-awang seperti di film, bukan tuyul yang mencuri uang warga.

Lalu, Nyai Neti selancar angin menceritakan kisah itu ke semua pembeli yang tengah menunggui ia meracik lontong atau nasi gemuk[1]. Sebentar saja, seisi lorong menjadi heboh dengan cerita pengalamanku yang sudah tidak orisinil lagi. Di RT sana beredar anak kecil itu memanggil-manggil agar aku mengikutinya, di RT sebelahnya diceritakan kejadian itu berlangsung saat subuh. Versi tiap RT berbeda-beda. Aku malas mengklarifikasi.

Naasnya, satu pekan kemudian, anak kecil itu mendatangiku lagi. Dan tiap pekan berikutnya ia mesti hadir satu kali di hari yang ia tentukan sendiri.

Tiba-tiba kerumunan itu bubar. Seperti ada yang menyeruak di antara mereka. Dan benar saja, tahu-tahu Sofiah muncul di hadapanku.

“Bu Menik ada masalah apa sama saya, kok tega-teganya memfitnah begitu!” Sofiah berkacak pinggang. Pasti mukaku pucat.

“Saya sudah berpuluh-puluh kali bilang sama ibu-ibu di sini, saya nggak maksud bilang situ punya tuyul. Malah saya nggak bilang anak yang saya temui itu tuyul. Bahwa dia lari trus hilang di rumahmu, ya memang begitu kejadiannya.”

“Dengar ya, Ibu-Ibu,” Sofiah menyapu pandang pada semua hadirin warung. “saya ini bekerja. Memang gaji saya kecil, tapi masih cukup untuk keluarga. Saya mendidik anak saya untuk hidup mandiri, sederhana, dan rajin bersyukur, jadi saya tidak perlu pelihara tuyul untuk hidupi anak-anak saya!”

“Dia malah ceramah,” bisik Bu Nani pada Bu Paras. Sofiah menoleh mereka. Keduanya pura-pura tak melihat.

Hadirin tercenung, pun Nyai Neti. Aku sendiri antara malu dan lega.

“Bu Menik,” Sofiah memanggil. Aneh sekali, tiba-tiba aku merasa takut melihat perempuan yang tujuh tahun lebih muda dariku itu. “Tadi saya dipanggil Bu RT, diminta memberi penjelasan. Saya minta nanti malam kita sama-sama bersumpah pocong di masjid. Biar jelas siapa yang benar dan siapa yang salah.”

Mampus! Aku memaki dalam hati. Gara-gara lidah ini! Kupukul mulutku sendiri, orang-orang heran melihat tingkahku.

Gak usah takut, kami di belakang Bu Menik,” bisik Bu Paras. Apa gunanya? Pikirku.

“Saya tidak mau,” jawabku kemudian.

“Kenapa?” Sofiah seperti mendapat angin, ia jadi makin berani.

Kan sudah saya bilang tadi, saya tidak bilang situ punya tuyul. Saya cuma cerita ke Nyai Neti kalau malam itu dan beberapa malam kemudian saya lihat anak kecil malam-malam. Kalau ada yang bilang anak itu tuyul, dan peliharaanmu, berarti Nyai Neti orangnya.”

Nyai Neti seketika terbelalak. “Apa-apaan kamu, Menik!”

“Coba Nyai ceritakan ulang cerita saya ke Nyai,” tantangku. Satu orang lagi mukanya pucat di warung itu.

Malamnya, ketegangan di masjid membuatku sedikit lega. Salah seorang ustadz yang menjadi pengurus masjid menolak diadakannya sumpah pocong. Kata Pak Ustadz yang sering menjadi imam masjid itu, sumpah pocong tidak sesuai syariat, tidak ada dalam Islam. Meski pengurus masjid yang lain setuju agar diadakan sumpah pocong untuk menenangkan warga, Pak Ustadz tetap mempertahankan pendapatnya. Apalah arti ketenangan warga jika dalil sudah bicara.

Sementara aku masih di rumah, menunggu keputusan mereka. Suamiku lebih memilih pulang untuk menyiapkan mental istrinya.

“Memangnya Ibu sering kehilangan uang?” ia tahu istrinya tegang.

Aku menggeleng.

“Ibu-ibu yang lain?” tanyanya lagi.

“Tidak tahu.”

“Berarti ini cuma gosip, kan?”

Aku mengangguk.

“Ibu tidak lihat tuyul, kan?”

“Saya tidak tahu itu tuyul atau bukan. Yang jelas dia anak kecil, botak, tangannya panjang. Dia jelek dan bisa hilang.”

Suamiku menghela napas. “Jadi bagaimana? Sebentar lagi azan Isya, saya pasti ditanya sama pengurus masjid.”

“Ya tidak usah ke masjid,” jawabku asal.

“Masak laki-laki solat di rumah.”

Lama kami berdiam, sampai kemudian azan berkumandang dan suamiku ke masjid dengan penuh kecemasan.

Ustadz yang seorang itu menang. Sumpah pocong dibatalkan, tidak ada tuyul, tidak ada hantu. Aku mengalah saja dianggap berhalusinasi. Suasana lorong kembali tenang. Seorang wartawan koran lokal yang kurang berita datang ke rumah untuk wawancara. Belum lagi ia mengeluarkan pulpen, suamiku sudah mengusirnya. “Jangan mengail di air keruh!” bentaknya pada wartawan itu.

Warung Nyai Neti mulai berkurang pengunjungnya, lebih normal seperti yang lalu-lalu. Aku pun enggan ke sana, Sofiah malah tak pernah sejak ia menjadi warga baru di lorong ini. Benar juga, mungkin ia menyiapkan sarapan sendiri. Anak-anak Sofiah pun jarang terlihat jajan seperti anak-anak lain.

Ini hari terakhir dalam pekan aku tidak bertemu si bocah aneh pembuat keributan itu. Nanti malam hari ke tujuh. Aku berharap tak lagi didatangi, tapi bersiap dengan rencana penting terhadapnya.

Malam hampir sempurna, sebelum tidur kupastikan seluruh pintu dan jendela terkunci. Tiba di pintu dapur, daunnya bahkan belum tertutup. Begitu gagang kupegang, sebuah wajah menyembul di balik pergelangan tanganku.

Sigap kutangkap kepalanya. Mungkin ia lupa bahwa setiap ia datang, aku tak pernah gentar apalagi ketakutan. Kuangkat bocah aneh itu, seringainya kian mengerikan. Dua tanganku di lehernya.

“Kamu peliharaan siapa?” tanyaku membentak.

Dia terkekeh. Makin jelek tampangnya.

“Kamu ini tuyul atau bukan? Punya siapa?”

Dalam peganganku ia mengangguk, lalu menoleh ke belakang. Tangannya yang panjang menuding pada sebuah rumah, bibir hitamnya turut mengerucut.

Bocah itu hilang setelah mengakui Nyai Neti sebagai majikannya.

Suamiku marah besar saat kuceritakan pengalamanku besok paginya.

“Nanti nenek itu lagi yang merasa difitnah, jangan membuat masalah!”

“Saya kan tidak cerita ke siapa-siapa selain suami sendiri,” belaku.

“Yakin tidak akan keceplosan?” tanyanya sangsi.

“Kali ini tidak akan, saya kapok.”

“Baguslah. Tolong belikan sebungkus nasi gemuk di sana. Saya yakin tuyul itu bohong.” Sudah marah malah menitah.

Belum lagi aku sampai di warung Nyai Neti, Bu Nani menarikku saat melintas di depan rumahnya.

“Bu Menik, semalam saya ketemu sama anak kecil yang Bu Menik lihat dulu.”

Hff, kutarik napas dan kulepas kuat. Agar ia tahu, aku tak suka. Sebentar saja, Bu Paras dan ibu-ibu lain menyusul, kembali mengerumun. Kalau sudah begini, aku lebih suka jadi wanita karier saja. Daripada mengurusi hal tak penting, tapi kita telanjur terjebak di dalamnya.

“Tahu tidak, Ibu-ibu. Tuyul itu berlari ke rumah Nyai Neti.”

Aku menelan ludah.

“Setelah itu, dia keluar dari jendela. Di tangannya ada segepok uang, trus dia lari ke rumah Bu Paras. Sepertinya setor gitu!”

Semua terbelalak, terutama Bu Paras, tentunya.

“Jangan macam-macam, Bu Nani!” bentak Bu Paras langsung.

Bu Nani malah nyengir.

“Pasti situ bohong, paling kalau ketemu yang begituan Bu Nani langsung kabur,” tambah Bu Paras.

“Nah, itu dia. Saya ketemunya dalam mimpi.” Bu Nani tergelak. Sementara koor ‘huu’ segera membubarkan keramaian.

Aku lega, tapi pada ujungnya bingung. Sengaja melangkah lambat-lambat menuju warung Nyai Neti, untuk mengingat dengan cermat, yang tiap pekan datang itu, mimpi atau nyata?

Aku bertemu tuyul?

Menangkap tuyul?

Yang benar saja!


[1] Sarapan populer di Jambi. Semacam nasi uduk, dimasak dengan santan, dihidangkan dengan taburan kacang dan teri

Syarifah Lestari, cerpen-cerpennya tersebar dalam koran lokal maupun nasional. Buku kumpulan cerpennya berjudul Pangeran dalam Dua Bekas Sujud (Master Publishing, 2012). Novelnya berjudul Jemput Aku ke Pelaminan (Salim Media, Indonesia, 2015).

Facebook Comments