Tuesday, November 21, 2017
Home > Literasi > Resensi > Warkop DKI Reborn: Nostalgia yang Tak Lucu Lagi

Warkop DKI Reborn: Nostalgia yang Tak Lucu Lagi

Warkop reborn 2

Saya telah menonton film Warkop DKI Reborn part 1 dan 2. Tak banyak senyum yang mampir di bibir saya. Ada yang kurang dari penggarapan film ini, yaitu dari segi cerita yang kesannya garing. Terlebih lagi pada adegan-adegan di part 2 yang kesannya monoton sekali, yakni memunculkan cuplikan-cuplikan film yang menurut saya bukan lelucon yang baru. Berpindah dari adegan film satu ke adegan lainnya, dari film Rhoma Irama hingga film Suzana.

Ide cerita pencarian harta karun pun kurang seru karena sangat mudah ditebak dan terlalu pendek. Durasi 2 jam untuk film bioskop tidak terisi penuh oleh adegan-adegan film. Malahan saya disuguhi iklan film-film horor di awal penayangan dan di akhir disajikan adegan NG (No Good). Meski begitu, saya heran dengan perolehan angka penonton yang mencapai angka 3 juta. Apakah penonton Indonesia memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap film ini?

Saya secara pribadi menonton film ini bukan karena ingin menonton, tetapi karena tak ada pilihan film lain. Para penggemar 3 sosok lelaki lucu yang cukup melegenda di jagat dunia komedi Indonesia menjadi daya tarik tersendiri. Penonton pasti berharap bahwa Warkop DKI Reborn akan sama lucunya dengan film-film lawas Warkop DKI. Saya pun berharap begitu.

Baca juga: Sang Pendobrak Zaman: Ulasan tentang Film Kartini Karya Hanung Bramantyo

Kalaupun bukan karena sosok Dono, Kasino dan Indro sebagai penarik minat para penonton, kemungkinan adalah sosok pemeran ketiga tokoh itu yakni Tora Sudiro, Vino G Bastian dan Abimana Aryasatya. Ketiga pemain muda kawakan itu tak bisa diremehkan dalam dunia perfilman Indonesia. Saya sudah menonton beberapa karya sineas anak bangsa yang menampilkan kemampuan akting mereka.

Saya juga tidak mempermasalahkan kemampuan akting dalam film bergenre komedi ini. Totalitas Tora Sudiro sebagai Indro, Vino G Bastian sebagai Kasino dan Abimana Aryasatya sebagai Dono cukup bagus. Saya malah terkesan dengan cara Abimana menirukan gaya almarhum Dono yang sangat mirip. Bisa dibayangkan capeknya menggunakan gigi palsu dan bantalan perut selama proses pengambilan adegan berlangsung. Hanya Abimana-lah yang menggunakan properti dari ketiga tokoh tersebut.

Film ini serupa nostalgia yang kurang lucu bagi saya. Namun, bukan berarti tidak ada apresiasi untuk film ini sama sekali, terlebih kepada legenda komedi negeri ini. Menonton kedua part film ini merupakan wujud apresiasi saya sebagai penikmat film-film Warkop DKI yang sering diputar di beberapa stasiun swasta. Selain itu, bukan berarti penilaian subjektif saya ini kemudian membuat saya tidak mau mengajak para penikmat film Indonesia untuk menontonnya. Belum tentu para penonton sependapat dengan sudut pandang saya tentang film ini. Selamat menonton dan jayalah perfilman Indonesia!

Facebook Comments