Wednesday, December 12, 2018
Home > Literasi > Pendidikan > Ada Apa dengan Hari Puisi Indonesia 2017?

Ada Apa dengan Hari Puisi Indonesia 2017?

buku apa dan siapa penyair indonesia

Acara perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) yang kelima digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, sejak 1 s.d. 4 Oktober 2017. Pada tanggal 1 s.d. 3 Oktober diadakan acara parade pembacaan puisi dan pameran poster HPI. Sementara di acara puncaknya, 4 Oktober, digelar malam anugerah penghargaan HPI untuk para penyair Indonesia yang telah mengikuti sayembara buku puisi di gedung Graha Bhakti Budaya TIM. Acara ini terbuka untuk umum dan dihadiri oleh masyarakat pencinta puisi, penyair, pengusaha, hingga pejabat. Di antara pejabat negara yang hadir, tampak Fadli Zon (Wakil Ketua DPR RI), Lukman Hakim Saifuddin (Menteri Agama RI), Enggartiasto Lukita (Menteri Perdagangan RI), dan sejumlah pejabat lainnya.

Pertunjukan panggung apresiasi
Pertunjukan panggung apresiasi

Asrizal Nur  selaku panitia mengatakan bahwa tahun ini masih sama seperti tahun sebelumnya, puncak perayaan HPI dilaksanakan bulan Oktober yang semestinya dilaksanakan setiap 26 Juli (hari lahirnya Chairil Anwar). Bedanya di tahun ini, puncak perayaan HPI didahului perayaan HPI oleh delapan puluh komunitas yang menyebar di kabupaten kota seluruh Indonesia. Ke depan panitia berharap bahwa Indonesia memiliki hari puisi nasional yang diakui oleh negara seperti di negara-negara lain.

Ketua umum yayasan HPI Maman S Mahayana menyatakan bahwa puisi tidak sekadar buah kreativitas yang berupa larik-larik kata atau kalimat metaforis, melainkan buah pemikiran mengenai berbagai hal. Puisi mesti menjadi salah satu sarana berkomunikasi, mengembangkan gagasan, mengekspresikan kegelisahan, bahkan juga saluran merekatkan kebhinekaan, dan persatuan keindonesiaan. Puisi adalah harga mati yang harus diperjuangkan.

Sebelum acara penghargaan penyair diumumkan, ada pemberian penghargaan kepada pembuat poster HPI terbaik, parade puisi oleh penyair, pejabat, dan pengusaha, panggung apresiasi (50 penyelenggara HPI se-Indonesia), peluncuran buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia, juga pemutaran video Agus Sarjono, dan kawan-kawannya, usai pulang dari Vietnam untuk merumuskan Hari Puisi Indonesia (26 Juli) sebagai hari resmi yang kelak diakui oleh negara. Pemunculan penyair-penyair Indonesia dari angkatan pujangga baru hingga angkatan 1945 seakan mengingatkan bahwa puisi memang harus dirayakan dan diperjuangkan.

10 pembuat poster terbaik
Pembuat poster terbaik

Malam yang dingin dan sorak sorai hadirin menambah riuh suasana malam anugerah HPI 2017. Sebagian besar peserta sayembara buku puisi yang hadir menginginkan nama mereka dipanggil dan berdiri ke podium. Namun, nasib pulalah yang menentukan. Lima pemenang terpilih HPI 2017  yang mendapatkan hadiah sepuluh juta rupiah beserta judul buku puisi di antaranya, 1. Berguru kepada Rindu (Acep Zam Zam Noor), 2. Hanya Melihat Hanya Mengagumi (Din Saja), 3. Akar Ketuban (umi Kulsum), 4. Surat Cinta dari Rindu (Chandra Malik), dan 5. Hadrah Kiyai (Raedu Basha).  Sementara pemenang utama terpilih HPI 2017 yang mendapatkan hadiah lima puluh juta rupiah beserta judul buku puisi, yakni Giang (Irawan Sandya Wiraatmaja). Selamat kepada para pemenang.

Hasan Aspahani, pemenang utama terpilih HPI 2016 saat diwawancarai puan.co mengatakan, satu hal yang ia suka dari acara HPI di tahun ini, yakni ada delapan puluh komunitas puisi dari berbagai daerah di seluruh Indonesia yang ikut merayakan HPI. Belum pernah sebelumnya ada sejarah perayaan puisi yang sesemarak ini. Teman-teman di daerah bergairah dan bersemangat melakukan kegiatan HPI di daerah sebab ada acara puncaknya. Biasanya kegiatan diskusi buku hanya dilakukan oleh sekitar lima orang saja, namun di acara puncak HPI kali ini, penyair dari berbagai daerah bisa bersua untuk bersilaturahmi.

Pemenang HPI terpilih
Pemenang HPI terpilih

“Teman-teman penyair di yayasan HPI kini sedang memperjuangkan HPI yang diakui resmi oleh negara. Saya rasa tidak ada alasan untuk menolak dan mencari hari lain selain hari puisi karena teman-teman sangat konsisten memperjuangkannya. Sebab, bisa saja mungkin negara lupa. Sejauh ini, selain teman-teman penyair dan yayasan HPI, belum ada yang mengusulkan dan menginisiasi hari puisi. Insya Allah antara satu atau dua tahun lagi hari puisi nasional bisa diakui oleh negara.” katanya.

Para penyair dengan segala kekuatannya memang begitu gigih memperjuangkan hari puisi, lalu bagaimana dengan hari cerpen atau hari novel? Apakah cerpenis dan novelis Indonesia kelak akan memperjuangkan hal serupa seperti teman-teman penyair? Hasan mengatakan bahwa puisi itu berbeda dengan cerpen dan novel. Di Amerika tidak ada hari cerpen atau hari novel, tetapi hari puisi ada sebab awal dari sastra adalah puisi. Dahulu belum ada cerpen, belum ada novel, belum ada buku cetak, segalanya  dicatat dengan manuskrip  dan itu pun tidak banyak.  Dahulu semua harus dihapal, semua harus diingat. Syairlah yang muncul pertama dengan rimanya yang tertib yang memang mudah diingat dan dihapal, seperti syair perkawinan Kapitan Cina di Singapura, syair Nabi Yusuf yang berisi cerita, dan lain-lain. Jika unsur-unsur puisi itu dibuang, maka jadilah cerpen atau jadilah novel.

 

 

Facebook Comments