Monday, August 20, 2018
Home > Gaya Hidup > Komunitas > Anom Sari Sumpe: Memaknai Sumpah Pemuda Versi Komunitas di Jambi

Anom Sari Sumpe: Memaknai Sumpah Pemuda Versi Komunitas di Jambi

Sumpah Pemuda

Peringatan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh setiap tanggal 28 Oktober merupakan salah satu tonggak penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Jika menilik masa lalu, kelahiran Sumpah Pemuda berasal dari kesadaran para pemuda dari berbagai daerah untuk menyatukan identitas-identitas kedaerahan dan kesukuan dalam satu identitas kebangsaan, yaitu Indonesia. Gabungan pemuda-pemuda tersebut antara lain Jong Java, Jong Sumatra, Jong Batavia, Celebes, Jong Ambon, Jong Timorese, dan Jong lainnya.

Semangat kesatuan inilah yang kemudian menginspirasi Forum Lingkar Sedulur Maiyah Jambi menggelar acara bertema “Anom Sari Sumpe” atau sumpah para generasi muda, Sabtu malam (28/10) pukul 19.45, bertempat di halaman luar pagar Kantor Gubernur Jambi. Acara ini didukung berbagai Komunitas di Jambi, mulai dari Komunitas Jari Menari (KJM), Komunitas Berani Menulis (Kombes), Komunitas Peci Sujiwa, dan Alumni MAN Model Jambi ATLAS.

Acara didahului dengan pembacaan puisi. Pada pukul 20.00 WIB, semua peserta yang hadir memulai acara dengan menyanyikan lagu “Indonesia Raya” secara bersama-sama. Dilanjutkan dengan pembacaan teks Sumpah Pemuda. Ikrar sumpah pemuda tersebut tentu menjadi hal yang sangat penting sebab untuk pertama kalinya dalam sejarah, politik devide et impera kolonial Belanda di masa lalu mulai terpatahkan.

Pembacaan isi Sumpah Pemuda ini bermaksud mengingatkan para peserta yang hadir bahwa persatuan dan kesatuan adalah identitas bangsa Indonesia yang harus tetap dipupuk dan dipelihara. Bahwa sumpah ini juga mampu menyingkirkan sekat-sekat yang selama ini telah dianggap mampu memecah belah semangat kesukuan dan kedaerahan.

Setelah itu, tibalah saat yang dinanti, yakni sesi diskusi mengenai peringatan Hari Sumpah Pemuda, yang dikaitkan dengan mentalitas anak muda masa kini, bahwa jika mengingat masa lalu, sumpah ini bukanlah sekadar sumpah yang dilafalkan oleh lidah kemudian hilang entah kemana. Harapannya, sumpah yang diucapkan, selain terpatri di jiwa para pemuda, juga sumpah ini mampu dijadikan refleksi dan diimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Jika kita menilik era digital sekarang ini, menurut Walter J. Ong, kita telah masuk ke era kelisanan kedua. Dunia digital dan budaya media tentu menggunakan bahasa sebagai medium. Namun, bila diamati secara saksama, masih ada sebagian pemuda yang lebih bangga menggunakan bahasa asing daripada bahasa Indonesia, sebab menggunakan bahasa asing dianggap lebih keren daripada menggunakan bahasa persatuan kita (bahasa Indonesia). Hingga saat ini masih ada juga yang menganggap remeh bahasa Indonesia. Tentu, ini menjadi tanda tanya tersendiri apakah ikrar sumpah pemuda selama ini hanya dianggap sebagai angin lalu semata.

Diskusi berlangsung seru karena setiap peserta mengutarakan makna sumpah pemuda dan bagaimana penerapannya saat ini, salah satunya penggunaan bahasa dan semangat kebangsaan. Sesekali diskusi diselingi oleh pembacaan puisi dari Komunitas Berani Menulis dan Komunitas Jari Menari Jambi yang diselingi akustik dari Komunitas Raggae Jambi. Kegiatan diskusi ini selain menumbuhkan semangat persatuan dan kesatuan para pemuda, juga diharapkan menumbuhkan jiwa nasionalisme. Pada pukul 22.00 acara berakhir. Para peserta diajak berdiri sembari menyanyikan lagu Syukur dan pembacaan shalawat. Acara ditutup dengan pembacaan doa.

Komunitas Anom Sari
Komunitas Anom Sari Sumpe
Facebook Comments