Monday, December 10, 2018
Home > Literasi > Cerita > Bertinju di Dalam Karung

Bertinju di Dalam Karung

Bertinju di Dalam Karung

ORANG-ORANG menamai tempat ini Desa Karung. Sebab, segala persoalan penting selalu diselesaikan dalam sebuah karung. Jika di tempat lain karung hanya berguna untuk mengangkut beras, sayur dan kelapa, namun di sini karung adalah barang penting dalam menyelesaikan segala sengketa. Penduduk desa lain pun merasa janggal dengan polah masyarakat desa ini. Padahal, di zaman serba modern ini setiap masalah bisa diselesaikan lewat pengadilan, tapi masyarakat desa ini tetap saja menyelesaikan masalah dalam sebuah karung.

Seperti kisah Tolet yang sedang memiliki masalah dengan Andi. Andi ketahuan berselingkuh dengan Tri, istri Tolet. Persoalan itu baru tuntas setelah diselesaikan dalam karung. Ceritanya begini: Tolet adalah lelaki pekerja keras. Saking rajinnya Tolet bekerja, Tri dibiarkan kesepian seorang diri. Kerjanya hanya upload foto selfie  ke berbagai medsos. Dari sana Tri lalu kenal dengan Andi yang suka memberikan gombalan maut setiap Tri upload foto. Awalnya Tri merasa sikap Andi itu biasa-biasa saja. Dia beranggapan bahwa Andi hanyalah seorang pengangguran yang tidak punya pekerjaan sehingga hanya menghabiskan waktu untuk mengomentari setiap foto cewek cantik. Setelah lama-lama digombali, akhirnya hati Tri luluh juga. Mereka lalu berkenalan lewat inbox. Tidak lama kemudian Tri malah jatuh cinta pada Andi.

Untuk memuaskan nafsu asmara, mereka kemudian memutuskan melakukan pertemuan. Mereka bertemu di sebuah kafe yang letaknya jauh dari desa. Seperti pasangan pada umumnya, awalnya mereka malu-malu kucing. Lama kelamaan, tentu mereka tidak malu-malu lagi. Sudah mulai pegang tangan, pegang pinggang dan cium pipi.

Akhirnya, Tri dan Andi menginginkan sesuatu hal yang lebih dari biasanya. Merka lalu mencari tempat sepi untuk menuntaskan hasrat tersebut. Awalnya sih di tengah kebun. Namun, tentu saja bukan sembarangan kebun. Mereka sengaja mencari kebun yang lokasinya sangat jauh dari wilayah rumah keduanya.

Awalnya asyik sih karena aman dan tak ada yang melihat. Tapi, ya lama-lama mereka tidak tahan ingin melakukan dalam karung. Ya, akhirnya dengan modal nekat mereka melakukannya di rumah Tri ketika Tolet pergi kerja. Namun, naas bagi mereka. Waktu itu Tolet merasa ada barang yang tertinggal di rumahnya. Ia kembali pulang dan akhirnya memergoki mereka sedang melakukan hal yang tak pantas itu.

***

 

HARI itu mereka berkumpul di lapangan bola. Pak RT lalu mengeluarkan karung tepung yang ukurannya sangat besar. Sebelum memulai Pak RT melakukan sedikit pidato.

“Wargaku sekalian. Sesuai adat istiadat kita, setiap permasalahan yang tidak bisa diselesaikan dengan hanya berbicara, harus diselesaikan di dalam karung! Kepada Tolet dan Andi dipersilahkan membawa barang-barang tajam seperti golok atau pun parang. Bagaimana saudara Tolet dan Andi?”

“Tidak perlu. Cukup tangan kosong saja,” kata Tolet.

“Saya juga,” lanjut Andi.

“Baiklah! Kami persilakan kalian berkelahi namun dilaksanakan di dalam karung besar ini. Siapa yang bisa bertahan berarti dialah yang benar,” kata Pak RT.

Andi dan Tolet lalu masuk ke dalam satu karung. Karung itu lalu ditutup dan diikat dengan tali. Pak RT lalu memberi aba-aba: “Mulai!”

Pertarungan berjalan seru. Karung lalu bergejolak hebat menandakan bahwa penghuni di dalamnya sedang bertengkar sangat hebat. Karung lalu mulai menggelinding ke kiri lalu berputar ke kanan. Tiba-tiba terdengar suara teriakan kesakitan dari dalam karung.

“Saya menyerah!” teriak Tolet.

Pak RT lalu membuka karung dan menemukan Tolet dalam keadaan setengah sadar. Andi lalu keluar dari karung dengan begitu gagah sambil berujar, “Makanya jadi lelaki itu harus bisa membahagiakan wanita!”

Sementara Tolet dengan tergopoh-gopoh dibawa ke rumah sakit setempat.

***

 

TOLET tak bisa melupakan kejadian itu. Dirinya masih tidak terima lantaran Tri, istrinya yang begitu cantik, resmi menjadi milik Andi. Dia tentu masih ingin mendengar rayuan manja di setiap malam ketika ingin menuntaskan nafsunya. Demi menuntaskan hasrat birahinya itu ditemuinya Pak RT untuk menggugat keputusan bertinju dalam karung kemarin itu.

“Tidak bisa. Sekali tidak bisa tetap tidak bisa!” tegas Pak RT.

“Tapi, Pak. Saya masih cinta dengan mantan istri saya,” pinta Tolet.

“Kau tentu tahu hasil bertinju dalam karung itu bersifat mengikat. Dia tidak bisa diganggu gugat karena itu adalah cara di desa kita ini dalam menyelesaikan setiap persoalan,” jelas Pak RT.

“Tapi, Pak…,”

“Cukup! Sekarang kamu pergi dari sini!” Pak RT lalu mengusir Tolet dari rumahnya.

Tolet sangat kesal dengan keputusan Pak RT. Seharian dia hanya melamun. Namun, tiba-tiba dia dibangunkan oleh gosip-gosip tetangganya tentang pencalonan Pak RT sebagai Kepala Desa. Tampaknya dirinya baru saja mendapatkan ide.

Ketika masa kampanye pemilihan dimulai, Tolet mengetahui bahwa Pak RT dan Pak Kades melakukan kecurangan agar mendapatkan banyak suara. Dimulai dari tuduhan bahwa Pak RT memiliki latar belakang keluarga komunis, lantaran ayah Pak RT menghilang tanpa sebab di masa penumpasan tahun 1965. Di sisi lainnya, Pak Kades diduga mengorupsikan berbagai dana dari pemerintah untuk kepentingan balik modal pada pemilihan sebelumnya.

Tolet mulai menjalankan siasatnya. Bermodalkan kemampuan edit foto yang baik, Tolet mengedit foto Pak RT. Dia buat foto Pak RT seperti sedang menerima uang suapan dari salah satu perusahaan besar. Tentu saja tim sukses Pak Kades menjadi berang. Disebarkannya informasi itu kepada orang-orang di desa tersebut. Pelan-pelan penduduk menjadi percaya bahwa Pak RT sedang bekerja sama dengan salah satu perusahaan besar di Jakarta untuk mengambil tanah penduduk di desa itu.

Tak berhenti hanya menghasut kubu Pak Kades saja. Tolet juga menghasut kubu Pak RT. Mereka percaya bahwa Pak Kades telah berbuat mesum dengan salah satu pegawainya yang masih muda di kantor desa. Tentu saja ini membuat suasana pemilihan kades menjadi tambah geger. Pak Kades semakin tidak dipercayai lagi untuk memegang jabatannya. Isu itu semakin berkembang tanpa henti. Sedangkan Tolet hanya tinggal duduk manis di kursi rumahnya.

Pemilihan kepala desa pun digelar. Warga berduyun-duyun memilih Kades mereka yang baru. Alhasil, dalam kelurahan itu lebih memilih Pak RT menjadi Kades yang baru. Namun, Kades lama tidak terima hasil pemilihan tersebut. Dia yakin Pak RT telah melakukan kecurangan. Kades lama kemudian meminta penyelesaian masalah itu melalui karung. Awalnya Pak RT tidak setuju dengan cara penyelesaiannya. Setelah dipanas-panasi oleh pendukungnya, Pak RT akhirnya bersedia juga.

***

 

PADA hari minggu diadakanlah prosesi bertinju dalam karung. Semua warga kelurahan berkumpul di lapangan bola untuk menyaksikan acara itu. Kali ini Tolet ditunjuk jadi juri dalam acara tersebut. Tentu saja hari itu Tolet bertekad untuk melakukan balas dendam terkait persoalannya tempo hari. Pak RT dan Pak Kades lama bersepakat menyelesaikan dengan tangan kosong. Mereka berdua dimasukkan ke dalam karung. Lalu dimulailah pertarungan itu.

Karung tampak beda dari biasanya. Karung itu tidak bergerak. Penduduk heran kenapa karung itu tidak bergerak seperti pertarungan biasanya. Ternyata di dalam karung Pak RT sedang berkompromi dengan  Pak Kades lama. Pak RT sadar bahwa tubuhnya terlalu kecil untuk melawan Pak Kades yang memiliki tubuh besar dan kekar.

“Begini, Pak. Bagaimana kalau saya mengaku kalah saja,” pinta Pak RT

“Lho kenapa menyerah secepat ini?” tanya pak kades lama.

“Sebetulnya saya hanya coba-coba dalam pemilihan kades ini. Saya tidak bersungguh-sungguh dalam menjalankannya. Atas pertimbangan itulah saya mengaku kalah saja,” jelas Pak RT.

“Ya sudah kalau begitu,” kata Pak Kades lama mantap.

Warga semakin penasaran dengan apa yang terjadi di dalam karung. Mereka lalu berteriak agar karung segera dibuka. Tolet sebagai juri menuruti keinginan warga kelurahan itu. Kaki Tolet mendorong bagian sisi karung. Karung dibuka, tampak Pak RT dan Pak Kades lama sedang berciuman.

Warga menjadi heboh atas perbuatan keduanya. Karung yang selama ini dianggap sebagai barang yang terhormat, kini telah dinodai oleh tindakan tidak pantas yang mereka lakukan. Kedua orang itu lalu ditelanjangi lalu diarak keliling kelurahan sebagai bentuk cuci kampung agar terhindar dari balak.

Tolet pulang ke rumahnya dengan rasa puas. Dia duduk di depan rumah sembari menonton arak-arakan pak RT dan Pak Kades lama.*

Jambi, 17 Januari 2017


Biodata Penulis

Febrianiko Satria. Mahasiswa FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia UNJA. Bercita-cita wisuda secepatnya lalu keliling dunia. Saat ini aktif sebagai Ketua Komunitas Berani Menulis.

Facebook Comments