Tuesday, November 21, 2017
Home > Literasi > Resensi > Despotisme dari Ruang Gelap

Despotisme dari Ruang Gelap

Novel Dostoyevski berjudul Zapiski Iz Podpol’ya dalam bahasa Rusia pertama kali terbit pada tahun 1864. Terjemahan novel ini dalam bahasa Indonesia berjudul Catatan dari Bawah Tanah. Pernah tiga kali cetak di bawah penerbit PT Dunia Pustaka Jaya, yakni pada 1979, 1992, dan 2008.

Dostoyevski memiliki nama asli Fyodor Mikhailovitsy Dostoyevski, ia merupakan sastrawan terbesar Rusia yang karya-karyanya banyak memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan karya sastra dunia di abad ke-20. Ia telah menulis banyak novel yang telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

Novel Catatan dari Bawah Tanah yang berbobot falsafi ini terdiri atas dua bab utama. Bab pertama terdiri atas sebelas bagian. Sementara bab kedua berisi sepuluh bagian. Gaya penulisan novel ini dibuat seolah seseorang yang tengah mencurahkan isi hati dan perasaannya kepada orang lain. Dostoyevki menyapa pembacanya dengan sebutan “Tuan-Tuan” meski tidak semua pembacanya adalah laki-laki.

Baca juga: Memuja Keret: Seorang Yahudi yang Cinta Damai

Pada bab pertama, Dostoyevski memunculkan sosok Aku sebagai tokoh utama – lelaki empat puluh tahun yang hidup di bawah tanah. Aku dalam novel ini mengaku sebagai seorang yang cerdas – yang pemikirannya di atas rata-rata. Kecerdasannya itu sungguh menyiksa batinnya, sebab ia tidak mampu melakukan hal-hal spontan tanpa ia pikir terlebih dahulu.

Di bagian pembuka, Aku mengatakan bahwa dirinya orang sakit yang pendendam. Aku memaparkan pemikiran-pemikirannya mengenai kehidupan – yang sangat berbeda dengan pemikiran orang-orang kebanyakan. Aku juga menceritakan tentang kejadian yang telah ia alami selama hidupnya.

Sosok Aku dalam cerita ini tidak digambarkan fisiknya sehingga pembaca bisa merasakan bahwa tokoh Aku yang hidup di bawah tanah, seperti bagian yang tercerai-berai. Ia seperti ada di mana-mana: di dalam buku, di dalam dinding rumah atau di dalam tubuh pembaca. Tokoh Aku dalam beberapa hal dapat dikatakan sebagai orang yang bijak, namun di lain hal ia penuh dengan keragu-raguan. Karakter dari tokoh Aku sulit sekali ditemukan secara utuh mengingat ia bukan hanya sakit secara fisik, tapi juga secara psikis. Nuansa gelap dan suram benar-benar kentara.

Baca juga: Dongeng Filsafat Satire Khas Voltaire

Kisah pada bab pertama ini, tokoh Aku seolah-olah berusaha menelanjangi kebobrokan manusia, seperti keserongan moral, kepengecutan, ketakutan, keputusasaan, hingga sisi terburuk manusia.  Hemat saya, Dostoyevski berbakat menjadi filsuf meskipun selama hidupnya ia tak pernah menelurkan buku teori filsafat. Saya jadi teringat eksistensialisme Jean Paul Sartre yang banyak menggarap permasalahan dan menitikberatkan ini pada sosok manusia. Ketika manusia sadar akan dirinya sendiri, maka dia terhubung dan berhubungan dengan sesuatu yang bersifat dinamis dan berubah-ubah. Kisah ini sarat dengan hal tersebut.

Dostoyevski sangat pandai menguraikan analisisnya mengenai pemahaman psikologis manusia. Buku ini termasuk novel dengan kategori bacaan berat sehingga meskipun sudah fokus membaca, kita akan berusaha mengulang kembali kalimat demi kalimat dan menelaahnya dengan saksama. Mengapa termasuk kategori bacaan berat? Karena titik fokusnya lebih kepada pemikiran-pemikiran yang terkadang paradoks, absurd, dan mengupas sisi lain dari manusia. Bagi pembaca yang tidak sabar, pasti akan merasa bosan dan barangkali akan berpaling ke buku yang lain. Selain itu,  terdapat beberapa istilah asing yang tidak disertai catatan kaki.

Kebosanan lain yang akan pembaca temukan dalam bab I, yakni tokoh Aku sering mengulang-ulang kepastian matematis. Baginya, hidup ini bukanlah sebuah rumus matematika yang selalu penuh dengan kepastian, sebab selalu ada kemungkinan-kemungkinan lain yang akan selalu terjadi. Menurut Dostoyevski, salah satu kepastian yang paling ia percaya adalah kematian. Namun, Dostoyevski mampu mengubah hal-hal (yang di masa kini dianggap) negatif menjadi sesuatu yang positif. Misalkan baginya penyesalan dan penderitaan adalah suatu kenikmatan. Juga ia selalu bangga dengan kemiskinannya.

Baca juga: Nietzsche: Sang Pembunuh Tuhan yang Mencintai Takdirnya

Dalam beberapa hal, tokoh Aku juga mempertanyakan kebenaran sains. Menurutnya, bila dua ditambah dua sudah mutlak jawabannya empat, barangkali jawaban lima akan memberi warna bagi sudut pandang yang lain. Ia juga berpesan kepada pembaca agar lebih menggunakan akal daripada perasaan.

Sementara pada bab II, masih dengan sudut pandang Aku, ia mengisahkan kehidupannya saat berusia 24 tahun yang tengah bekerja di sebuah kantor pemerintahan. Bab ini berbeda jauh dengan bab pertama. Tokoh Aku mengisahkan masalah yang ia hadapi bersama kawan-kawannya (Zverkov, Simonov, Ferfitchkin, dan Trudolyubov). Tokoh Aku merasa dikucilkan oleh teman-temannya. Ia selalu merasa terasing di mana pun dia berada. Ia pun juga memiliki beberapa permasalahan dengan Apollon, pembantunya. Penolakan-penolakan lingkungan terhadap tokoh Aku membuat Aku kehilangan daya untuk mencintai dan dicintai sehingga ia mengorbankan cita-citanya dengan tujuan despotisme.

Pada bagian keenam hingga cerita ditutup, tokoh Aku bertemu dengan tokoh perempuan bernama Liza, yang merupakan seorang pelacur. Menariknya, penerjemah lebih senang menggunakan diksi “cabo” dibanding “pelacur”. Kehadiran tokoh ini tentu saja mengejutkan dan tidak disangka-sangka oleh pembaca. Lalu, di awal pertemuan, tokoh Aku jatuh cinta kepada Liza. Aku yang berlagak bijak memberikan petuah-petuah kehidupan kepada Liza seputar perkawinan, keturunan, kebersyukuran, dan lain-lain. Setelah Liza mabuk akan kepiawaian kata-kata tokoh Aku, akhirnya Liza datang ke alamat rumah si Aku. Di sanalah permasalahan timbul. Tokoh Aku menceracau semaunya hingga merendakan Liza. Ia bertindak seolah-olah seorang despot. Hingga akhirnya Liza pergi meninggalkannya.

Sahabat Puan tertarik membacanya? Tertarik atau pun tidak, tentu pilihan ada di tangan Anda.

Judul Buku : Catatan dari Bawah Tanah
Judul Asli : Zapiski Iz Podpol’ya
Penulis : Fyodor Dostoyevski
Penerjemah : Asrul Sani
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan : Pertama, Juli 2016
Tebal Halaman : 155 halaman
Facebook Comments