Tuesday, November 21, 2017
Home > Literasi > Resensi > Dongeng Filsafat Satire Khas Voltaire

Dongeng Filsafat Satire Khas Voltaire

candide kpg

Candide merupakan sebuah novel satire yang ditulis oleh Voltaire. Pertama kali terbit di Jenewa, Swiss, dalam bahasa Prancis pada 1759.  Judul asli novel ini adalah Candide Ou L’Optimism.

Kisah ini berawal dari terusirnya Candide dari Istana Baron Thunder-ten-tronckh di WestPhalen, Jerman, gara-gara sebuah ciuman lugu yang ia lakukan terhadap  Cunegonde, anak perempuan raja. Kemudian, Candide menjadi seorang musafir yang berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain di Eropa. Peta perjalanannya: Jerman – Portugal – Paraguay – Venezuela – Eldorado – Belanda – Prancis – dan Istanbul. Dalam pengembaraannya, Candide mendapat kabar bahwa Kerajaan Baron telah hancur. Kekasihnya, Cunegonde, beserta ayah, ibu, dan kakak lelakinya yang saat itu menjadi Pangeran Baron telah meninggal.

Baca juga: Nietzsche: Sang Pembunuh Tuhan yang Mencintai Takdirnya

Candide pun pingsan saat mengetahui kabar bahwa orang yang dicintainya telah tiada. Namun, di Portugal ia bertemu Cunegonde yang ternyata masih hidup. Mereka sering memperbincangkan guru Pangloss, guru filsafat di Kerajaan Baron yang mengajarkan prinsip optimisme kehidupan. Optimisme adalah kegilaan mempertahankan pendapat bahwa segalanya berjalan baik, padahal kenyataannya adalah kebalikannya. Dalam beberapa hal, dua tokoh ini meragukan doktrin tersebut, namun kemudian memercayainya kembali. Pangloss benar-benar guru yang diidam-idamkan oleh Candide. Selain mengajarkan filsafat kuno, seperti sosialisme purba dan manicheisme (penganut Manes – Filsuf Persia abad ke-3 SM yang mengatakan bahwa di dunia ini selalu ada pertentangan antara kebaikan dan keburukan), di istana, Pangloss juga mengajarkan metafisika-teologi-kosmologi-konyologi. Terminologi konyologi tentu saja tambahan dari Voltaire sendiri sebagai bahan olok-olok.

Karena kecemburuan Candide terhadap seorang pastor dan seorang Yahudi yang memperebutkan Cunegonde yang cantik, Candide lalu membunuh kedua lelaki itu. Kemudian ia bersama Cunegonde melarikan diri dan menemui Gubernur Buenos Aires meminta perlindungan. Atas aksi pembunuhan itu, Candide terpaksa melarikan diri saat dikejar-kejar prajurit. Ia menitipkan Cunegonde kepada gubernur. Cunegonde lalu dipinang oleh sang gubernur. Petualangan Candide  dan Cacambo – pembantunya – keliling dunia dimulai setelah itu. Kemalangan demi kemalangan dialaminya, namun ia selalu percaya akan ajaran optimisme Pangloss. Selain melarikan diri dan menemukan banyak hal, ia berupaya mencari kekasih hati yang sangat ia cintai, Cunegonde. Kemudian ia bertemu seorang ilmuwan  bernama Martin yang kemudian juga turut serta bersama Candide.

Baca juga: Penolakan Ryunosuke Akutagawa terhadap Realitas

Prinsip Optimisme yang dianut oleh Pangloss merupakan pemikiran filsuf Leibniz dan pengikutnya Wolf, musuh Voltaire. Mereka beranggapan bahwa dunia ini diciptakan Tuhan dalam keadaan terbaik yang mungkin diberikan. Dalam hal ini, sebenarnya Voltaire sedang mengolok-olok Leibniz melalui tokoh Pangloss dan pengikutnya, terutama Candide. Voltaire banyak melakukan sindiran dalam buku ini. Sindiran pertama, dengan memunculkan tokoh Martin dalam menyangkal optimisme yang diyakini Candide. Keyakinan Candide ini sering kali diulang-ulang sehingga membuat pembaca bosan.

Satire lain yang dituliskan Voltaire antara lain, kedua,  mengenai petinggi agama nasrani yang kala itu merangkap jabatan sebagai pejabat pemerintahan, bahkan pejabat militer. Voltaire tidak hanya nyinyir terhadap penyimpangan-penyimpangan pastor, tetapi juga penyimpangan yang dilakukan oleh umat muslim. Ketiga, Voltaire mengutuk perdagangan umat manusia, yakni perbudakan. Melalui tokoh utamanya, ia memunculkan penokohan Candide yang senang membantu orang lain, yakni membebaskan perbudakan dengan harta yang ia miliki.

Baca juga: Ketika Modernitas Datang dan Tradisi Belum Ditinggalkan

Keempat, sindiran terhadap kefanatikan yang berakibat pembunuhan. Kelima, sindiran terhadap kekejian orang-orang Yahudi yang pandai menipu. Keenam, sindiran Voltaire mengenai akademi sains yang sering melakukan hal-hal konyol. Ketujuh, sindiran terhadap sistem kerajaan yang sangat feodal. Hal ini ia ceritakan pada sebuah negara bernama Eldorado – sebuah  negara utopis yang diidam-idamkan Voltaire – yang takkan mungkin ada di dunia nyata. Di sana ia mengisahkan deisme, buah pikirannya, agama tanpa pendeta ataupun pastor.  Kedelapan, ia menyindir penyair Milton dan Arioste, serta masih banyak lagi sindiran-sindiran konyol lainnya yang ia jelaskan melalui dongeng filsafatnya.

Voltaire juga meramu cerita dengan memunculkan peristiwa-peristiwa  sejarah dunia, seperti peperangan antara Prusia – Prancis, peperangan antara Inggris – Spanyol, peristiwa gempa bumi di Lisabon yang mengakibatkan ¾ kota itu hancur, transaksi antara Portugal dan Maroko, revolusi Peru, penyiksaan orang-orang di Suriname, perebutan Lembah Ohio dan Illinois pada 1763, dan lai-lain.

Baca juga: Kisah-kisah Persahabatan dan Perempuan di Dataran Tortilla

Voltaitaire yang turut memberikan inspirasi untuk menggulirkan Revolusi Prancis pada 1789 adalah filsuf sekaligus pengarang yang cerdas. Pengetahuannya tentang banyak negara sangatlah luas sehingga melalui pengembaraan Candide, pembaca seolah diajak piknik imajinasi ke berbagai belahan dunia. Dari beberapa kisah yang memunculkan gambaran perpolitikan beberapa negara, dapat diartikan bahwa penulis sangat paham kondisi internasional pada saat itu.

Keabsurdan novel ini tampak pada beberapa tokoh yang sudah dinyatakan meninggal dunia kemudian tiba-tiba hidup kembali. Misalnya, Cunegonde yang dinyatakan telah meninggal dengan kondisi perut robek dan diperkosa tentara Prusia kemudian menceritakan bahwa nyawanya diselamatkan oleh orang lain. Hal ini juga terlihat pada Pangeran Baron, Guru Pangloss yang dihukum gantung, dan kisah si nenek yang kehilangan separuh pantatnya. Barangkali ini berarti meskipun Voltaire menggambarkan banyak orang-orang jahat, di dunia ini tetap ada orang baik atau pura-pura baik.  Bila di dunia nyata, orang-orang lebih senang menceritakan kebahagiaan, maka di buku ini orang-orang lebih senang menceritakan penderitaan hidupnya.

Di bagian awal novel diberi kata pengantar oleh penerjemahnya. Novel ini terdiri dari tiga puluh cerita pendek. Di kaki buku, banyak disertai catatan kaki agar pembaca mudah memahami alur cerita. Sayang, terjemahan dalam buku ini kurang konsisten. Misalkan saja penerjemah menggunakan kata Saya, namun ketika penggunakan kata berganti menjadi kata ganti milik, kata saya tersebut berganti menjadi –ku. Mengapa penerjemah tidak menggunakan kata saya supaya lebih sinkron?  Selain itu, inkonsistensi juga tampak pada penggunakan kata subdiakon (baku). Namun, dalam kalimat lain ada juga yang ditulis sub diakon (tidak baku).

Ada beberapa kisah ekstrem yang menyebabkan perut saya terguncang dan mual saat membaca buku ini, yakni para kasim yang telah dikebiri harus memakan anu-nya pada saat makan malam, kanibalisme sebuah suku antijesuit yang hendak memakan Candide dan Cocomba di hutan, serta pemenggalan kepala pejabat: otaknya dikeluarkan dulu, lalu diisi dengan jerami.

Baca juga: Sy. Fasha: Memoar Daun Suji dan Berkah Kemiskinan

Kisah ini diakhiri dengan bertemunya Candide dengan Cunegonde di Istanbul, Turki. Saat itu Cunegonde sudah tidak cantik lagi, pakaiannya lusuh, dan kulitnya tidak lagi putih. Perasaan Candide tiba-tiba memudar, namun ia pun menikahinya juga karena kesombongan kakaknya, Pangeran Baron, yang mengatakan bahwa para bangsawan tidak boleh menikah dengan anak bekas pembantunya. Cunegonde dijual oleh gubernur setelah ia menjadi jelek. Jelaslah bahwa pada masa itu orang-orang kaya suka membeli wanita-wanita cantik untuk dijadikan budak sekaligus gundik.

Ada banyak obrolan-obrolan filsafat dalam cerita. Bila Sahabat Puan tertarik belajar filsafat yang diramu dalam kisah Candide dalam mengejar cintanya, buku ini bisa menjadi salah satu alternatif bahan bacaan menarik.

 

candid asli

Judul Buku : Candide
Penulis : Voltaire
Penerjemah : Ida Sundari Husen
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan : Pertama, November 2016
Tebal Halaman : XIV +  154 halaman
Facebook Comments