Tuesday, October 16, 2018
Home > Literasi > Opini/esai > Dua Dekade Harry Potter dan Masyarakat Huruf

Dua Dekade Harry Potter dan Masyarakat Huruf

potter

Dengan segala kekuatan “kata sihirnya”, kita mendapati tuah J.K. Rowling memeriahkan jagat bacaan dunia. Dua dekade sudah Harry Potter menyapa pembaca dunia dan Indonesia. Layaknya Harry Potter berjuluk si bocah yang bertahan hidup, novelnya juga menjadi buku yang bertahan hidup.

Pada 26 Juni 1997, sebanyak 1000 eksemplar edisi pertama berjudul Harry Potter and the Philosopher’s Stone siap membuka halaman-halaman sihir di toko buku. Tujuh edisi sudah diterjemahkan ke dalam 79 bahasa dan diterbitkan di 200 negara. Totalnya ada sekitar 450 juta eksemplar terjual di seluruh dunia (Jawa Pos, 28 Juni 2017). Harry Potter semakin membuktikan negeri-negeri di Barat sebagai masyarakat pembaca dan penular peristiwa membaca.

Harry Potter adalah satu dari sedikit buku yang diantre berjam-jam menunggu rilis di tengah malam dan bila perlu menginap di depan toko buku. Mereka menantikan dengan ambisi sebagai pembaca. Bahkan, kita mendapati keterlampauan yang sungguh mencengangkan bahwa ada pembaca yang marah atau kecewa berat saat Harry Potter pada akhirnya menikah dengan Ginny Weasley dan bukan teman akrabnya, Hermione Granger. Pembaca di dunia nyata merasa berhak untuk turut terlibat dalam kenyataan di dalam novel. Dunia pun tahu bahwa naskah awal Harry Potter yang sempat mendapati penolakan dari 12 penerbit itu telah mengubah jalan hidup seseorang yang nyaris menjadi gelandangan, menjadi orang penting di dunia perbukuan. Lebih penting, Harry Potter berhasil memasuki biografi membaca para bocah di pelbagai belahan dunia.

Kita, terutama yang berada di Indonesia, memang masih begitu merasa heran ketika sebuah buku mampu menjadikan penulisnya kaya raya dan terutama buku itu sendiri bisa bertahan hidup. Keheranan dijawab oleh ingatan pada riwayat Barat yang telah beretos membaca sejak berabad-abad lalu. Buku bukan lagi keanehan. Sampai saat ini, kita masih bisa mendapati novel ala A Little Princess (2015) yang terbit pertama pada 1904 oleh Frances Hodgson Burnett, Anne of Green Gables (2017) garapan Lucy Maud Montgomery yang pertama ditulis pada 1908, Tom Sawyer-nya Mark Twain, atau Jane Eyre garapan Charlotte Bronte, karena mereka terus saja dibaca dan mengalami cetak ulang selalu. Belum lagi, kita akan selalu diingatkan pada Jacob dan Wilhelm Grimm, H.C. Andersen, atau Charles Perrault. Cerita-cerita merekalah di antara sekian cerita bertokoh atau bertema anak-anak yang sanggup menyandang predikat klasik tapi tetap terbaca oleh masyarakat modern.

Nama yang Diingat

Murti Bunanta dalam esai yang apik berjudul Perjuangan untuk Bacaan Anak yang Layak (2004) mengatakan bahwa terkhusus bacaan anak masih menjadi komoditas yang dijual, tapi sering tidak menentukan etos mengasup huruf. Banyaknya cerita terjemahan Eropa dan Amerika yang masuk ke Indonesia masih belum dijadikan sebagai cara mengukur diri oleh para pengarang Indonesia. Murti Bunanta juga menyinggung penghargaan-penghargaan bergengsi yang bukan karena hadiah peringatan menjadi pantas digaungkan. “Di Jepang ada Bruder Grimm’s Award, suatu penghargaan untuk peneliti; di Prancis ada Institut International Charles Perrault; di Italia ada Museum Collodi; di Amerika ada Newberry Medal (Thomas Newberry adalah seorang pedagang buku dan sekaligus pengarang). Di dunia anak-anak ada penghargaan Hans Christian Andersen Award. Akan adakah nama-nama pengarang Indonesia mendapatkan kehormatan seperti itu?” Dari penghargaan ini kita mengingat betapa para penulis yang ditahbiskan sebagai nama penghargaan adalah para tokoh menakjubkan dalam kesejarahan penciptaan masyarakat huruf. Mereka mungkin telah mati, tapi tetap hidup dalam kisah-kisah yang menemukan para pembaca budimannya lagi dan lagi.

Kita sejak dalam keluarga dan tentu saja sekolah memang jarang sekali diajari menjadi masyarakat huruf atau publik pembaca buku-buku. Pun, pemerintah masih sangat sayang menganggarkan ongkos untuk penerbitan buku bermutu. Di keseharian pola asuh, sungguh jarang ada cerita fantastis orangtua dan guru berani membeberkan paling tidak sepuluh buku yang berpengaruh pada hidupnya sepanjang masa. Bahwa memang ada buku-buku kanak yang akan tetap diingat atau bahwa diwariskan kepada anak dan cucunya kelak. Jarak jauh dari huruf-huruf imajinatif ini pun seperti berkhianat pada tradisi kultural bahwa leluhur kita juga adalah pembaca suara lewat dongeng lisan, pertunjukan wayang, tembang, dan rengengan. Huruf-huruf yang bersuara ternyata tidak membawa kelanjutan etos pada huruf-huruf imajinatif yang dituliskan.

Maka, perayaan dua dekade Harry Potter pantas menjadi momentum mengingat lagi jalan menciptakan masyarakat huruf. Indonesia memang masih membutuhkan segala bentuk instruksi wajib berliterasi; 10 menit orangtua membacakan buku, 15 menit membaca buku bukan pelajaran sebelum sekolah, perintah membaca bersama, atau pelbagai kampanye meningkatkan minat membaca. Kita masih membutuhkan waktu lagi agar instruksi-instruksi itu hilang yang berarti setiap personal memang secara alamiah membaca. Membaca puluhan novel setebal bantal atau mengasup buku sebagai kebutuhan harian bukan hal yang aneh lagi. Kita masih harus mencari jalan menuju masyarakat huruf, masyarakat yang membaca tanpa diperintah, apalagi dihukum.


Biodata:

Setyaningsih tinggal di Pandeyan, Ngemplak, Boyolali. Bergiat di Bilik Literasi Solo. Saat ini tengah menghayati pustaka anak dan mengajar ekstrakulikuler menulis di SD Al-Islam 2 Jamsaren, Solo. Esai-esai pernah tampil di Ora Weruh, Radar Surabaya, Joglosemar, Solopos, Koran Tempo, Jawapos, Suara Merdeka, Media Indonesia, Kompas, Republika, dan Bukulah! Setya bisa dicari di maosbocah.wordpress.com atau surel langit_abjad@yahoo.com. Buku kumpulan esai pernah terbit berjudul Melulu Buku (2015) dan Bermula Buku, Berakhir Telepon (2016).

Facebook Comments