Thursday, June 21, 2018
Home > Literasi > Cerita > LELAKI ITU TIBA-TIBA INGIN MENULIS SURAT

LELAKI ITU TIBA-TIBA INGIN MENULIS SURAT

LELAKI ITU TIBA-TIBA INGIN MENULIS SURAT

LELAKI itu sungguh tak pernah mengenal percakapan. Ia dengan sengaja menjauh dari keramaian. Ia menjauh dari kumpulan orang-orang.

Bila pada suatu ketika kita jumpai ia tengah berkata-kata, janganlah heran padanya, sebab yang demikian itu ingin didengarnya sendiri saja. Sama perihalnya dengan bila ia bernyanyi. Dan kita, sekali lagi dibikinnya tak mengerti, bahwa bernyanyi yang sedang dilakukannya itu hanya sebuah pelampiasan dendam, karena ia sangat membenci kesedihan yang berlarut-larut atau pun kenangannya.

Begitulah, di taman ini —sebuah tempat yang membuatnya berbahagia -, ia mengigau pada malam-malam yang pekat. Ia menceracau sendirian pada malam-malam yang lain. Ia berteriak-teriak sehabis-habisnya. Ia meraung-raung sejadi-jadinya. Ia setubuhi gelap. Ia bernyanyi dengan suara serak sumbang. Dengan nada-nada yang gelisah. Seusai-usainya.

Kemudian pagi. Dan di subuh yang mendamaikan perasaannya itu ia tertidur.

Di taman ini, pada siang hari yang sedikit mendung, lelaki itu dapat melihat orang-orang yang putus asa letih berjalan. Ia saksikan orang-orang yang setengah hati mencintai hidup, lalu lalang mengumpat kesal. Kepada matahari, awan, kerikil, hujan atau pun juga bahkan, kepada gerimis yang menjatuhkan diri dengan bimbang.

Tapi di taman ini pula, ia tak paham betul bagaimana orang-orang yang lain teramat sederhana mengawini hidupnya. Dada mereka keras bergemuruh bunyinya. Rindu mewarnai nafas mereka. Dan nyanyian yang mereka perdengarkan kecil-kecil saja adanya. Diterima oleh mereka dengan suka cita apa pun yang didapat dari kerja. Dipungut juga oleh mereka apa yang ditemukan di jalan dengan air muka yang bersahaja.

“Dan lelaki itu? Dan lelaki itu?” tanya kalian kepadaku.

Yap! Lelaki itu entah mengapa malam ini begitu riangnya. Ia tertawa-tawa. Ia menertawakan malam. Ia menertawakan kesunyian. Ia menertawakan ketakutan dan kesendiriannya.

Setelah itu ia tersenyum.

Ia tak mengharapkan dunia berbalik mengasihaninya. Ia tak menginginkan seseorang datang dan tersenyum sambil memberikan sesuatu kepadanya.

Kini, ia merasa lelah. Kelelahan yang luar biasa. Lalu ia merasa hampa dan terasing kembali. Ia tiba-tiba berharap bisa bangun lebih pagi dan menyambut dunia dengan ramah. Tidak ada lagi hantu kenangan dan kemurungan masa lalu.

“Besok, saya akan menulis surat untuk saya kirimkan kepada Aslan.” ucapnya seorang diri. Nama yang disebutnya, mungkin sahabatnya.

Dan pada saat kalian tak hendak bertanya lagi tentang lelaki itu kepadaku, dia tengah tertidur. Lelap. Lelap sekali.

Bangkalan 2002 — 2003


Biodata Penulis

Timur Budi Raja, lahir di Bangkalan, 01 Juni 1979. Pendidikan terakhir S1 Sosiologi di Universitas Trunojoyo Madura. Aktif berteater, menulis puisi, prosa lirik, beberapa naskah pertunjukan, esai sastra dan bergiat mengaransir puisi-puisinya ke dalam bentuk musikalisasi puisi.

Buku puisinya yang telah terbit: Aksara Yang Meneteskan Api (Lingkar Sastra Junok, 2006). Opus 154 (AkarHujan Press, 2012). Tujuh Tipografi Tahun (Penerbit Delima, 2017), dan Penyamun Sholeh (Rumah Akar Literasi, 2017).

Puisi-puisi dan esainya dimuat di Voice Of Law, Surabaya Post, Kidung, Horison, Mimbar Pengajian Agama, Fajar, Palapa Post, Pewarta Siang, Buletin Penggak (Bali), Jendela Newsletter (Bandung), Lorong (Surabaya), Buletin Tera (Madura), Radar Madura (Jawa Pos), Pedoman Rakyat (Sulawesi Selatan), Jurnal Sastra Amper, Majalah Sastra Kalimas, Suluk, dan Bali Pos.

Puisi-puisinya menjadi bagian dalam beberapa himpunan puisi bersama; Akulah Mantera (1996), Mosshat (1998), Anak Beranak (1998), Istana  Loncatan (1998), Luka Waktu (1998), Narasi 34 Jam (Komunitas Sastra Indonesia, 2001), Osteophorosis (2001), Hidro Sefalus (2001), Sastra Pelajar (Horison, 2002), Ning (Sanggar Purbacaraka Udayana, 2002), Permohonan Hijau (Festival Seni Surabaya, 2003), Penyair Jawa Timur (Festival Seni Surabaya, 2004), Pelayaran Bunga (Festival Cak Durasim, 2007), Laki-Laki Tak Bernama (Dewan Kesenian Lamongan, 2008), Rumah Kabut (2009), Pesta Penyair Jawa Timur (Dewan Kesenian Jawa Timur, 2009), dan Forum Sastra Hari Ini (Salihara, 2010), Lelaki Kecil Di Lorong Maling (Melati Press, 2013), Mahar Kebebasan (MataMalam, 2013), Wasiat Cinta (Nala Cipta Litera, 2013), dan Tentang Yang (antologi puisi Fiction Writers & Font, Makassar International Eight Festival & Forum kedua, 2017).

Sebagai konstributor pemikiran di Komunitas Bawah Arus dan menjabat sebagai direktur Penerbit Rumah Akar Literasi (Bojonegoro). Surel: akarhujan@gmail.com

Facebook Comments