Tuesday, November 21, 2017
Home > Literasi > Resensi > Manifesto Sosial: Humanisme di Luar Batas

Manifesto Sosial: Humanisme di Luar Batas

Manifesto Sosial Humanisme di luar batas1

Pertama kali melihat buku ini, saya kira isinya hanya akan membicarakan kemalangan tanpa menyinggung percintaan sedikit pun. Namun setelah membacanya, prediksi tersebut salah. Novel berjudul Orang-Orang Malang adalah novel permana Fyodor Dostoevsky yang terbit pada Januari 1846. Novel ini ditulis selama sembilan bulan ketika Dostoevsky berusia 24 tahun. Orang-orang  pertama terdekat yang dipinjami naskah ini tak bisa berhenti membaca sebelum menyelesaikannya hingga pukul empat pagi, naskah ini konon mampu membuat pembaca pertama itu bercucuran airmata. Mereka menganggap bahwa Dostoevsky adalah “The next Niikolai Gogol”.  Mereka percaya bahwa novel ini sangat dipengaruhi oleh Gogol. Bahkan, Vissarion Belinsky, kritikus sastra paling berpengaruh pada saat itu, ikut pula memujinya.

Charlotte Hobson pernah mengatakan bahwa saat ia menelaah perbedaan antara tulisan Gogol dan Dostoevsky, menurutnya, pendekatan yang digunakan Dostoevsky dalam karyanya yang pertama ini sangatlah berbeda dengan gaya pendekatan Gogol. Gogol tergelincir ke dalam dunia fantastik berisi impian indah dan buruk. Sementara Dostoevsky sudah menetapkan wilayah yang akan digarap sepanjang hidupnya, bahwa ia berjanji akan menjadi penulis Rusia yang paling banyak dibaca orang di dunia dan benarlah perkataannya itu. Orang-Orang Malang telah menjadi contoh tipikal studi atas Dostoevskian: suatu potret psikologis tajam atas manusia yang keadaannya kepepet sampai hampir tak tertahankan olehnya.

Novel Orang-Orang Malang merupakan genre epistolery novel, yakni novel yang berisi surat-menyurat antara Makar Devushkin  – seorang juru tulis miskin berusia paruh baya di kantor milik negara – dan Varvara Dobroselova  – perempuan berusia akhir belasan tahun. Novel ini diterjemahkan dengan sangat baik, meski ada beberapa kerja editor yang belum tuntas sehingga mengecewakan pembaca. Masih ada beberapa kata yang salah ketik dan telah saya tandai jumlahnya lebih dari lima.

Kisah dibuka dengan surat yang ditulis oleh Devushkin untuk Varvara. Surat-surat yang mereka tulis berisi tentang banyak hal: rahasia, kekonyolan, kenyinyiran terhadap kaum borjuis, serta hal-hal yang alegoris dan terkadang liris. Devushkin sendiri adalah lelaki paruh baya yang sering mabuk dan hampir setiap hari menderita sakit kepala. Ia menderita pelbagai kemalangan yang nyaris membuatnya gila. Mulai dari kesulitan ekonomi hingga tertolaknya ia di lingkungan karena kemiskinannya.

Devushkin memang sangat miskin sehingga untuk makan dan membayar sewa apartemen ia seringkali kesulitan, sampai pernah suatu malam ia tak diizinkan tidur di dalam kamar karena tak mampu membayar sewa. Pakaiannya compang-camping, telapak sepatu botnya hampir lepas dan bolong tanpa tambalan. Kancing-kancing pada bajunya kadangkala jatuh ke lantai karena benang-benang yang melingkupinya sudah sangat rapuh. Namun ia sangat pemurah dan rela mengorbankan segalanya untuk kekasihnya, Varvara. Ia tak segan-segan mengirimkan barang-barang mewah untuk Varvara meskipun Devushkin harus meminjam uang dan menerima penolakan-penolakan atas itu. Varvara yang bekerja sebagai pembantu sering pula menolaknya, namun tetap saja Devushkin melakukannya dengan senang hati. Ia bahkan rela menjual baju-baju bagusnya demi membahagiakan Varvara.

Devushkin memang sangat menjunjung tinggi humanisme, namun hal ini tentu sangat miris dan berada di luar batas nalar. Seseorang yang dalam kebangkrutan masih mau mengorbankan dirinya untuk orang lain. Tak lain tak bukan demi perasaan cinta yang melimpah ruah. Varvara sendiri merupakan anak yatim yang juga miskin. Mereka tinggal berdekatan, namun jarang sekali melangsungkan pertemuan sebab mereka belum siap pada tanggapan orang-orang sekitar yang akan mengetahui hubungan mereka.

Uniknya,  dalam penulisan surat, nama Devushkin disebut Varvara sebagai Makar Alexeyevich dan nama Varvara disebut Devushkin menjadi Varvara Alexeyevna. Jika kita menilik rumus penamaan dalam bahasa Rusia, biasanya kata kedua dalam nama adalah identitas nama ayah. Jika anak perempuan, setelah nama ayah bisa ditambah ovna/yevna/ichna+ nama marga – ova, sedangkan anak laki-laki, pada nama ayah bisa ditambah ovich/yevich/ich+ nama marga – ov. Jadi, Varvara Alexeyevna berarti: Varvara (identitas nama), Alexeyevna (adalah nama ayah), namun tidak disertai marga. Untuk nama lengkap dalam bahasa rusia biasanya terdiri atas tiga kata. Barangkali Varvara adalah seorang yatim yang sangat merindukan kasih sayang seorang ayah. Bisa jadi, kisah asmara yang ia jalin dalam dunianya adalah cara lain Varvara dalam pencarian sosok keluarga yang sangat ia idamkan.

Varvara sangat senang menulis surat-surat kepada Devushkin sebab baginya, menulis adalah obat untuk mengatasi diri dari  ketakutan. Ia sangat ingin menjadi penulis dan menyukai buku-buku sastra. Mereka membicarakan Pushkin dan Gogol. Dalam hal ini, saya tiba-tiba teringat Haruki Murakami. Dalam beberapa tulisannya, Murakami juga sering menyebut-nyebut tokoh idola “Penulis Jepang”, misalkan Yasunari Kawabata, Yukio Mishima, Kazuo Ishiguro, dll. Semangat kebangsaan yang dibangun Dostoevsky barangkali menginspirasi banyak pembaca. Atau mungkin ini hanya kebetulan belaka?

Saya sungguh terkesan dengan gaya penulisan Varvara yang sangat feminim. Dostoevsky berhasil memunculkan roh perempuan yang benar-benar hidup dan tertinggal di hati saya. Benarlah bahwa Dostoevsky adalah penulis piawai yang patut diacungi jempol. Meski ia bukanlah seorang androgini, atau bila meminjam terminologi Virginia Woolf dalam esai-esai feminisnya, Dostoevsky tampaknya bukanlah seorang man-womanly.

Yang paling tampak sekaligus miris dan mengiris adalah manifesto sosial yang dimunculkan Dostoyevsky dalam diri Devushkin. Ia memang seorang miskin yang dideru dera kemiskinan dan kemalangan sehingga beberapa kali ia dipermainkan oleh orang-orang borjuis yang merasa dirinya mulia.  Beberapa hal yang hingga saat ini masih bisa ditemui dalam kehidupan sehari-hari bahwa orang-orang borjuis selalu mengukur sesuatu berdasarkan uang sehingga beberapa kali pula Devushkin terjebak dalam kebingungan, penderitaan, ketakutan yang mencekam, yang sering membuatnya merasa kehilangan harga diri. Ia juga sering tertekan dalam kemalangan, tersiksa, dan dihinakan oleh nasib yang seringkali mengingkari dirinya sendiri. Satu hal yang membuatnya bersemangat untuk hidup: Varvara.

Meski Devushkin berada di ambang kehancuran dan kebangkrutan, Varvara selalu memberinya dukungan moril. Menurut Varvara kemiskinan bukanlah sebuah dosa meski kenyataannya bahwa kemalangan adalah penyakit menular sehingga orang-orang malang memang harus dijauhi dan dihindari. Kesakitan-kesakitan yang dihadapi Devushkin rupanya juga dirasakan oleh Varvara. Varvara sering dihantui perasaan takut atas nasibnya. Ia sudah tak suci lagi sebab keperempuanannya telah direnggut oleh lelaki kaya seorang tuan tanah. Dalam beberapa kisah dimunculkan bahwa ada tokoh-tokoh lain yang mengalami kemalangan, seperti Gorshkov dan Pokrovsky, yang ceritanya tidak jauh berbeda dengan nasib tokoh sentralnya.

Kemiskinan dan penderitaan tampaknya membuat Varvara pesimis dalam menghadapi masa depan sebab yang tampak dalam bayangannya hanyalah kemuraman. Untuk menghindarkan diri dari kemiskinan, kemalangan, dan kesengsaraan, Varvara memilih menikah dengan lelaki yang pernah memperkosanya, seorang tuan tanah kaya bernama Tn. Bykof. Kenyataan yang hadir dalam Devushkin, membuatnya nyaris putus asa. Hari-hari terakhir menjelang perpisahan, kentara sekali surat-surat mereka yang terputus atau surat yang tanpa alasan belum jadi dikirimkan. Sebuah ironi bahwa material mampu mengubah pandangan seseorang akan masa depan. Pada akhirnya, setiap orang berhak memilih nasibnya. Dan perasaan cinta yang terpendam? Siapa saja boleh menguburnya atau membiarkannya hilang dimakan usia.

Judul : Orang-Orang Malang
Penulis : Fyodor Dostoevsky
Penerjemah : Hartono Hadikusumo
Penerbit : Oak
Cetakan : Pertama, Juni 2015
Jumlah halaman : 216 halaman
Facebook Comments